Coach Aries Herman van UNAIR & NSA, Surabaya

Cara bicaranya kalem, sikap dalam pelatihannya termasuk lembut, namun toh deretan prestasi tak henti-henti diraihnya bersama anak-anak didik yang terlihat akrab dengan pelatih yang satu ini. Dialah coach Aries Herman atau yang biasa disapa coach Ary.

Prestasi pelatih yang saat ini melatih di UNAIR dan SMA NSA Surabaya ini pertama saya dengar sekitar 10 tahun yang lalu dan kemudian kemampuan melatihnya menjadi perbincangan di antara teman-teman pelatih setelah bersama UNAIR berhasil menjadi juara nasional LIMA 2013/2014. Prestasi moncer di tingkat nasional untuk sebuah perguruan tinggi negeri di tengah kancah PTS yang kita ketahui memiliki support & ambisi lebih besar untuk berprestasi.

Screenshot_20200702-004608

Tidak hanya sampai di situ, hingga saat ini secara “rutin” tim asuhan coach Aries Herman mencetak berbagai prestasi baik untuk level SMP, SMA dan Perguruan tinggi.  Anak didiknya bukan hanya memperkuat tim sekolah di Surabaya, tapi juga memperkuat tim Surabaya, Jawa Timur, lalu TIMNAS Basket Indonesia dan membawa mereka bertanding di berbagai event internasional di luar negeri (Piala Asia, Sea Games, dll) dan di dalam negeri (LIMA Nasional, Campus League, Kejurnas, Pra PON, PON, NBL, IBL, WNBL, Merpati Cup dll). Pelatih dan anak basket mana yang tak pernah mengimpikan prestasi semacam ini?

Prestasi ini kontan menarik perhatian beberapa klub besar IBL untuk menjadikannya Pelatih Kepala, namun yang mengherankan, semua ditolaknya dengan alasan ingin fokus dan terlanjur cinta dengan tempatnya melatih terdahulu, di kampus dan level SMA. Ha ha ha… beberapa teman pelatih sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat bagaimana bersahajanya pelatih yang satu ini.

“Dia berat meninggalkan ikan louhan-nya, Pi” kelakar Audy Pahala pada saya. Coach Audy atau kondangnya Bang Jack, (sahabat coach Ary, adalah pelatih basket senior asal Tanggerang, Banten) yang sudah melanglang buana melatih kemana-mana dan baru-baru ini berhasil membantu tim 3X3 Putri Sumatera Barat lolos ke PON di Papua nanti.

Kejadian ini lantas menarik rasa ingin tahu LATIHANBASKET.COM dan ingin segera menuliskan meski hanya secuplik kisah tentang coach Ary. Berprestasi di Surabaya dan Jawa Timur yang adalah salah satu panggung utama basket nasional tidaklah mudah, lalu apa yang bisa membuat pelatih bertangan dingin ini bisa konsisten melahirkan tim dan pemain yang berkualitas, berikut ini hasil wawancara LATIHANBASKET.COM dengan coach Ari, yang mungkin bisa diteladani rekan pelatih muda dan anak-anak basket tanah air.

Pertama, menurut coach Ary adalah menumbuhkan kecintaan dan komitmen anak-anak asuhnya untuk berlatih. “Bukan hanya cinta basket”, katanya. “Banyak anak yang cinta basket tapi buktinya malas berlatih. Ini tidak benar. Jadi yang harus ditumbuhkan adalah komitmen dan kecintaan berlatih basket” ujarnya mantap.

Kedua, footwork adalah landasan bermain basket terpenting. Durasi terbanyak berlatih basket dengan coach Ary adalah latihan untuk kaki dan pergerakan. Setelah yakin kaki anak-anak didiknya kokoh, seimbang, lincah dan cepat, skill yang lain akan jauh lebih baik dan maksimal dibanding jika footwork mereka jelek. Semua latihan skill mubazir saja jika dasar footwork anak-anak belum mapan ujarnya.

Ketiga, repetisi dan adjustmen adalah kata kunci untuk mengembangkan kemampuan technical skill dan tactical skill. Repetisi artinya perulangan latihan lalu setiap perulangan harus membuat anak-anak tampil lebih baik. Kuncinya, adjustment. Penyesuaian dan perbaikan yang diberikan untuk anak-anak ketika berlatih. Di sinilah imbuhnya, perbedaan satu pelatih dengan yang lainnya terletak. Hasil pengamatan yang tajam akan memudahkan pelatih memperbaiki detail-detail penting pada skill anak-anak, jika tidak hanya buang-buang waktu berlatih.

Keempat, fokus. Inilah yang sangat terlihat pada cara pelatihan coach Ary. Fokus pada anak didik, yang membuatnya menolak banyak tawaran klub-klub besar. Ia ingin menuntaskan program pelatihannya dan tidak mau meninggalkan anak-anaknya di tengah-tengah perjalanan. Bukti tanggung jawab dan integritas sebagai pelatih.

Empat hal itu lah yang menjadi aspek utama pelatihan basket sebagaimana disampaikan coach Ary kepada LATIHANBASKET.COM. Obrolan panjang dan bertubi-tubi dengan coach Ary semakin mengesankan saja. Lewat track & scouting yang dilakukan tim riset LATIHANBASKET.COM sebelumnya, kami menilai bahwa dengan konsistensi prestasi, passion dan integritas personalnya, coach Ary yang sejak belasan tahun yang lalu memutuskan untuk menjadi pelatih basket full timer (bukan sekedar pelatih paruh waktu, yang kerja sambilan atau penyaluran hobi, tetapi secara profesional bekerja dan mencari nafkah dengan melatih basket) sangat layak untuk diberikan kesempatan bukan hanya di level daerah Jawa Timur atau nasional, namun juga untuk melatih di Tim Nasional untuk event level internasional.

Hasil pelatihan oleh coach Ary bukan hanya menghasilkan pemain hebat di lapangan tetapi juga di luar lapangan karena ia sangat memperhatikan sejumlah added values, yaitu life skill yang bisa diberikan kepada anak didik lewat proses latihan basket. Pengembangan mental skill, kepercayaan diri, etos kerja keras, respek, kecakapan berkomunikasi dan yang juga penting, filosofi kepelatihan yang selalu dipegang kuat yaitu “membentuk kedewasaan dan kemandirian anak” lewat latihan basket ujarnya.

Ya, bukan hanya pemain hebat, coach satu ini juga telah melahirkan sejumlan pelatih berprestasi misalnya coach muda Dhimas Aniz yang sukses membawa SMAN 2 Surabaya meraih sejumlah prestasi. Coach Dhimas yang akrabnya disapa coach Ublek juga berhasil terpilih menjadi Head Coach tim DBL Allstar yang gemilang pula selama tournya di USA tahun 2019 lalu.

Ada berita menggembirakan kata coach Bayu, salah satu sahabat coach Ary asal Solo, Jawa Tengah, “Kali ini dia mau juga memperluas layanan pelatihan privat untuk anak-anak yang mau mengembangkan skill secara individual.”

ah 002

Ya, pelatih sekelas coach Ary takkan mudah membagi waktu dan tenaganya. Namun kali ini ia bersedia membagikan ilmunya secara privat, yang biar bagaimana akan memberikan hasil berbeda untuk peningkatan skill secara perorangan. Sentuhan tangan dinginnya kontan menarik banyak atensi anak-anak basket dan membuat sejumlah orang tua pebasket kelompok umur berduyun-duyun menghubunginya.

“Kebetulan latihan resmi di kampus dan sekolah belum mulai, saya punya waktu ekstra” jelasnya.

Ya, anak basket Surabaya dan sekitarnya, jangan sia-siakan kesempatan ini ya. Segera saja hubungi coach Ary yang kebetulan bersedia melatih kalian secara intensif dan bahkan mau memberikan nomor kontak pribadinya untuk kalian hubungi.

ah 001

Seandainya saja coach Ary melatih basket 34 tahun yang lalu saat masih bermain, kayaknya akan saya kejar dan minta dilatihnya dah!

Semoga sukses ya coach Aries Herman, jangan lelah membina dan melayani pebasket belia kita.

Apasih Istimewanya DBL? Pengalaman mengikuti DBL Camp Surabaya 2016

Awal kenal DBL, saya tidak mengerti dan tegas menolak ketika diajak melatih tim peserta DBL oleh coach Mika, rekan pelatih di klub lama kami Mandala.

“Biar kamu aja yang bawa anak-anak. saya tetap melatih mereka di klub saja” jawab saya ketika merespon ajakannya untuk terjun langsung ke DBL Kalimantan Selatan. Saya hanya datang sampai halaman GOR Hasanuddin Banjarmasin. Memang gegap gempita gedung terdengar riuh sampai halamannya. Saya tetap bergeming.

Awal ketertarikan adalah saat membludaknya anak-anak yang datang berlatih di Suria Arena, tempat kami melatih para pemain junior Mandala. “Saya ingin sukses main di DBL coach” jawab anak-anak yang saya tanya. Dari yang biasanya hanya 20-an anak, tiba-tiba menjadi 50 sampai 60 anak yang datang berlatih. Mau tak mau hari latihan dan perlengkapan latihan pun harus ditambah oleh pengurus klub Mandala Banjarmasin.

Pemicu minat yang kedua adalah ketika coach Mika dan anak-anak menghubungi saya untuk minta latihan ekstra untuk persiapan jelang DBL, termasuk latihan fisik yang nota bene adalah momok bagi anak-anak umumnya. Selama bertahun-tahun melatih, coach Mika dan saya selalu hati-hati ketika memberikan menu latihan fisik karena beberapa kali penerapannya yang kurang tepat malah kontan membuat jumlah anak-anak yang berlatih berkurang drastis.

Banjar segmen 3.mp4_000243040
Coach Mika

Motivasi berlatih gila-gilaan otomatis membuat saya tertarik mencari tahu dan menyaksikan beberapa game DBL. Di saat itulah terlihat langsung betapa antusiasnya orang tua, guru, pemain dan suporter terlibat dalam event DBL.

Para pemain dibuat seperti artis idola yang akan show di arena serupa panggung hiburan. Sponsor besar menyediakan aneka hadiah dan hiburan, dikemas apik oleh para organizer belia yang energik. Bukan hanya para pebasket, penari dan ribuan suporter pun diberi ruang untuk eksis. Semua ulah di arena terekam apik dan diberitakan oleh media besar, koran Radar Banjarmasin pun laris manis oleh pembaca belia yang terseret oleh serbuan pembaca belia. Tidak tanggung-tanggung, koran itu memuat beberapa halaman penuh foto besar para performer setiap hari sejak persiapan DBL dan selama berlangsungnya event. Beberapa hari sebelum event dimuali, mereka mengadakan roadshow di sekolah-sekolah, membuat para pemain menjadi anak-anak populer. Berharga sekali untuk konsep diri mereka.

Menjelang final pemberitaan dan gelombang promosi menghebat, membuat pertarungan final mengandung intensitas persaingan ketat dan emosional. Air mata bahagia dan tangisan kekecewaan langsung terlihat seusai sebuah pertandingan pada pemain dan pendukung.  Apa pun hasil pertandingan final hari itu, membuat motivasi mereka untuk tampil lebih baik di season mendatang membuncah di dada dan benak masing-masing.

Saya pulang menonton dengan perasaan maklum, meski masih ada kecewa dengan beberapa aturan pertandingan yang anggapan saya masih mengganggu aspek teknis pertandingan basket itu sendiri.

Hari berikutnya mulailah saya melatih dengan adaptasi penuh terhadap ketentuan pertandingan DBL yang awalnya saya anggap aneh-aneh itu. Latihan untuk defense man to man, rotasi dan minute play pemain harus merata, respect the game sesuai kedudukan skor, dan sebagainya mau tak mau saya terima dengan lapang dada. Seiring berjalannya waktu, saya mencoba memahami latar belakang panitia DBL menetapkan beberapa peraturan aneh-aneh itu.

Satu per satu pertanyaan-pertanyaan itu terjawab ketika masuk ke situs FIBA, khususnya di Coaches Education Platform. Reasoning untuk ketentuan-ketentuan tambahan oleh organizer DBL, ternyata sesuai dan tidak bertentangan dengan ketentuan teknis pertandingan bola basket (kecuali ketentuan yang berkaitan dengan penari dan batasan jumlah suporter yang terlibat, namun kemudian dihapuskan pula oleh DBL), terurai jelas di situs resmi asosiasi pelatih sedunia yang bernaung resmi di bawah FIBA. Barulah saya tersadar bahwa sebagai pelatih saya tertinggal jauh.

Dengan intensifnya anak-anak berlatih, sesuai dengan tensi pertandingan yang diantisipasi oleh tim pelatih yang akan berlangsung cepat dan agresif, resiko cedera pun meningkat. Setelah memberikan edukasi dan penyesuaian menu latihan, mau tak mau akhirnya saya menerima tawaran coach Mika untuk ikut turun di DBL. Meski sibuk luar biasa karena kala itu saya juga bertugas sebagai pelatih di tim PON tahun 2016 di Bandung, latihan anak-anak sangat intensif.

Akhirnya di tahun 2016 tim yang kami asuh, SMAN 2 Banjarmasin berhasil jadi juara (dengan respek penuh pada tim lain, termasuk tim SMAN 1 Banjarbaru yang sangat kompetitif dan berhasil mengalahkan kami di tahun 2017, dan bertemu lagi di 2 kali final berikutnya tahun 2018 dan 2019).

Banjar segmen 3.mp4_000348080

Liputan final DBL Kalimantan Selatan 2016 ini juga bisa dilihat di youtube channel DBLplay dengan klik pada link ini.

Ketika tanding final selesai, barulah saya sadar jika ditipu oleh coach Mika karena terpilih sebagai first team dan mengikuti DBL Camp di Surabaya.  Baru tahu jika status saya yang seharusnya hanya asisten, dijadikannya pelatih kepala.

Pengalaman luar biasa, itulah singkat kata untuk pengalaman di DBL Camp. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika event itu sedemikian besar dan sangat terorganisir. Tak mampu menahan rasa ingin tahu, saya pun menelusuri bagaimana anak-anak muda di pusatnya DBL di Surabaya itu bekerja. Enerjik dan tahu persis apa yang harus dilakukan, itu kesan yang langsung muncul di benak saya. Jelas mereka dipimpin oleh orang-orang yang juga cakap. Ternyata Azrul, putra pak Dahlan Iskan bos besar Jawa Pos group adalah tokoh di balik seluruh fenomena sukses DBL. Jika tadinya saya hanya mengira ia hanya berada di balik layar, ternyata Azrul juga turun langsung ke lapangan, saya menyaksikan sendiri bagaimana ia turun ke arena saat menghibur tim yang kalah pada final DBL Jawa Timur.di DBL Arena. Kiprahnya dibantu seorang wanita muda yang kabarnya mendapat berbagai international award untuk kecakapan manajerialnya.

24-besar-campers-honda-dbl-camp-2016
Terpilih 24 Besar Campers dan 12 Besar Coach Honda DBL Camp 2016. Foto dari dblindonesia.com

Sempat terbersit di pikiran saya, “Kok mau-maunya orang sekelas mereka menghabiskan waktunya yang tentunya berharga dan bernilai mahal, “hanya” untuk DBL?” namun setelah mengikuti dan terlibat langsung, saya bersyukur. Seluruh anak basket dan pecinta basket se-Indonesia patut berterimakasih.

Kegiatan DBL Camp berakhir menyenangkan, saya kembali ke Ungaran dan kemudian ke Banjarmasin dengan pengayaan ilmu dan sahabat baru yang luar biasa. Terimakasih.

 

 

Perencanaan Latihan, Contoh Program Sederhana dan Prinsip Pembuatannya (Masih obrolan bareng si Jabrik)

PERENCANAAN LATIHAN

PERSIAPAN LATIHAN BASKET

Untuk pelatih, persiapan utama dan terpenting seorang pelatih adalah komitmen, ya KOMITMEN, berikutnya baru PENGETAHUAN.

Dengan adanya komitmen, kebutuhan utama seorang pelatih yaitu hati hamba akan tersedia. Seorang pelatih meski tampil berwibawa, tegas dan singkat kata, keren; sesungguhnya adalah seorang pelayan. Tidak lain dari jembatan bagi anak-anak binaannya untuk menacapi prestasi. Dalam jangka pendek dan skopa kecil adalah prestasi di lapangan, dan dalam jangka tak terbatas dan luas, prestasi di kehidupannya. Dengan komitmen akan muncul pula dedikasi. Hal ini akan selalu teruji sepanjang waktu. Pelatih yang dedikasinya berdasar uang semata, lebih baik mundur sekarang juga dan brenti aja baca buku ini, sebab semakin bertambah ilmunya, semakin rusak pula hasilnya.

Jika dedikasinya berdasar cinta, maka kebutuhan dan kendala berikutnya sebagian besar mudah teratasi, kecuali omelan anak istri pelatih. Bener lho, yang susah itu istri dan anak pelatih, sering kali malah dinomorduakan ya karena dedikasinya tadi itu. Tapi setelah sekian lama melatih biasanya kendala itu pun teratasi.

Sedangkan perkara pengetahuan, ada banyak referensi yang bilang bahwa ilmu kepelatihan itu terkait dengan ilmu pendidikan, kesehatan, psikologi, ilmu gizi, farmakologi, dan lain sebagainya, memang pengetahuan tentang fisika khususnya tentang mekanik, kinetik, energi, daya, beban, dll, ilmu kimia khususnya tentang biokimia, bioenergi, pembentukan dan penguraian energi di otot dan sebagainya, ilmu biologi khususnya biomekanik, biomotorik, genetika dan lainnya, matematika, statistik, berpadu dengan anatomi, fisiologi, metabolisme, katabolisme, anabolisme, sintesa, dan lain sebagainya memang perlu diketahui oleh seorang pelatih profesional, tapi untuk kebanyakan pelatih amatir, apalagi di level non elit, tuntutan itu terlalu berat. Bisa diatasi dengan konsultasi dan hubungan baik dengan dokter, terapis, ahli gizi, farmakologis dan lainnya. Yang penting pelatih memang harus rajin bertanya sesuai kebutuhannya. Di jaman internet begini, banyak juga sumber yang tersedia, tapi pengetahuan dasar dan hubungan dengan para ahli tetap diperlukan dalam konteks sebagai referensi untuk konfirmasi dan kajian. Banyak sumber belajar di internet dan lainnya, ada yang valid dan ada yang tidak tepat. Intinya, asal mau nanya dan mencatat, pengetahuan itu bisa diperoleh dari berbagai sumber.

Setelah punya komitmen dan penetahuan, pelatih harus punya perlengkapan pribadi seperti:

  1. Peluit.
  2. Stopwatch atau jam tangan digital, atau sekarang bisa pake stopwatch yang di HP.
  3. Buku catatan dan alat tulis.
  4. Strategy board.
  5. Tas pelatih sebaiknya juga berisi perlengkapan P3K, lengkap dengan nomor telepon penting UGD Rumah Sakit.
  6. Pakaian olahraga sepatutnya. Coach harus berpakaian rapi lho.
  7. Kondisi fit.
  8. Program latihan.

Untuk pemain, sama seperti pelatihnya, juga harus punya komitmen. Setelah itu baru disiapkan:

  1. Pakaian olahraga.
  2. Air minum.
  3. Handuk.
  4. Pakaian ganti.
  5. Sudah makan sekurangnya 1 jam sebelum mulai latihan.
  6. Fit, jika sedang sakit atau ada cedera, jangan ikut latihan. Begitu juga jika di malam sebelumnya kurang tidur.

Perlengkapan latihan,

  1. Bola, sekurangnya 2, bagus lagi kalau ada 12 bola untuk 12 peserta latihan.
  2. Cone, sekurangnya 2 lusin.

Minimal dua macam peralatan itu dulu, tapi kalau bisa, lebih baik disiapkan juga:

  1. Ladder.
  2. Medicine ball.
  3. Bosu ball.
  4. Rubber band.
  5. Hurdle.
  6. Bola tenis/ golf.
  7. Rompi seragam.

Sebelum memulai latihan, coach harus hadir sekurangnya 30 menit lebih awal. Lakukan dulu pemeriksaan perlengkapan dan periksa keamanan tempat latihan. Meski lapangan yang sama sudah dipakai 1.000 kali, tetap saja sebelum latihan dimulai, pelatih harus memeriksa seluruh lapangan. Perhatikan jika ada hal-hal yang membahayakan. Safety, keselamatan adalah yang utama, dan ingat, selama latihan pelatih bertanggung jawab penuh atas anak-anaknya.

Jangan ada permukaan lapangan yang basah atau berpasir sehingga licin, ada benda tajam di lapangan atau di tepi lapangan yang  mungkin membahayakan anak-anak.

Sebelum latihan dimulai, pelatih harus sudah tahu persis akan melakukan apa, harus punya  PROGRAM LATIHAN. Memberikan latihan apa saja pada sesi latihan hari itu. Sehingga, jauh-jauh hari sebelum musim latihan dimulai, disusun sebuah rencana latihan yang dituangkan pada sebuah program lengkap dengan kalendernya.

Sebuah rencana latihan tidak bisa tidak memiliki periodisasi. Mau yang sederhana atau rumit, pelatih pasti membagi tahapan waktu, jenis latihan, frekuensi dan menu latihan sesuai tahapan latihan. Beberapa definisi periodisasi sedemikian sulitnya, sehingga sebuah program sederhana yang dilengkapi pembagian tahap tingkatan dan waktu terjadual

Proses menyusun tahapan latihan apa untuk siapa saja, menu latihan apa di waktu yang mana, untuk kompetisi yang berjalan kapan, membutuhkan penataan waktu yang disebut periodisasi.

Secara umum, unit waktu dalam periodisasi dibagi menjadi empat bagian. Unit periode terkecil adalah sesi latihan, yaitu hitungan unit latihan pada satu hari. Satu hari bisa saja terdiri dari dua sesi. Satuan unit 7 hari atau seminggu, kadang disebut sebagai siklus mikro atau microcycle. Satuan 4 minggu atau sebulan bisa disebut siklus menengah atau mesocycle. Sedangkan gabungan dari beberapa mesocycle disebut macrocycle.

Ada pula yang membuat satuan siklus latihan itu dalam satuan waktu yang lebih lama sampai tahunan. Tapi yang kita bahas di sini peruntukannya bagi pemula dan sederhana.

Tahapan latihan yang sederhana biasanya dibagi 2 tingkat yaitu persiapan umum dan persiapan khusus. Beberapa metode berbeda membagi tahapannya menjadi 3 tahapan atau lebih, di bagian awal ditambahkan dengan pra persiapan, semacam conditioning sebelum atlet memasuki tahap latihan umum dan khusus. Pada setiap program juga ada tahapan konversi, periode dimana pelatih merubah kualitas-kualitas dan kapasitas fisik atlet.

Untuk menyusun program, pelatih perlu tahu dulu kompetisi mana yang akan diikuti, kompetisi mayor mana yang diprioritaskan dan kompetisi minor mana yang dijadikan event uji coba, pemanasan, pematangan atau batu loncatan. Dengan demikian si pelatih bisa secara tepat menentukan periode kondisi terbaik timnya pada jadual yang ditetapkan.

Berikut ini sebuah contoh tabel penyusunan periodisasi yang sederhana, hasil modifikasi saya sendiri berdasarkan ajarannya mbah Bompa yang populer (bergaya Eropa Timur, sukses di Kanada) dan eyang Allen yang kurang populer tetapi cukup detail dan praktis.

Tabel 01

Kalau diperhatikan tabel program di atas itu sangan sederhana. Hanya memiliki 3 bagian pokok, yaitu kelompok kolom K.1 yang berwarna hijau, kelompok kolom K.2 yang berwarna coklat, dan kelompok kolom K.3 yang berwarna biru.

Kolom K.1 yang berwarna hijau adalah kelompok blok jenis latihan. Misalnya blok latihan fisik, terdiri dari latihan strength, speed dan endurance. Blok latihan teknik misalnya berisi latihan shooting dan passing, blok latihan strategi misalnya kerjasama team, dan blok latihan mental misalnya terdiri dari diskusi grup dan goal setting.

Kolom K.2 yang berwarna coklat berisi menu latihan berupa uraian latihan yang lebih detail dari blok di K.1.

Sedangkan kelompok kolom K.3 yang berwarna biru adalah jadual latihan sesuai tahapan periodisasinya, yang nantinya dilengkapi tanggal dan bulan atau dibuatkan tabel kalender tersendiri untuk pegangan pelatih dan seluruh partisipan latihan.

Sedangkan pada baris terbawah, berisi jadual kompetisi yang akan diikuti sudah dipadukan dengan program periodisasi.

Pada contoh di atas, latihan selama 3 bulan, seminggu 3 kali. Menu unit latihan di sebelah kiri tinggal dicontengkan pada kolom tabel unit di sebelah kanan. Supaya teratur dan terstruktur, menu latihan jangan lari jauh dari blok kelompok latihannya. Tabel Program tersebut juga bisa dibreakdown menjadi beberapa tabel, tergantung klasifikasi yang diinginkan. Misalnya bisa kita buat tabel khusus per blok latihan, bisa juga per tahapan mesocycle dan lain sebagainya. Seperti pada contoh berikut ini.

Tabel 02

Tabel 03

Tabel 04

Buat teman-teman pelatih yang  pernah belajar menyusun program sebelumnya, contoh program ini adalah kombinasi dari ajarannya Tudor Bompa dan sistem blok-nya Allen, lalu disederhanakan karena yang aslinya terlalu rumit dan jika diterapkan mungkin hanya cocok jika diterapkan pada kompetisi elit saja.

Catatan untuk teman-teman pelatih, mungkin terlalu rumit dan panjang jika kita bahas kompensasi, super kompensasi, peaking dan sebagainya. Kita ingat saja bahwa pokoknya :

  1. Anak-anak dapat takaran latihan cukup, istirahat cukup dan makan cukup. Ketiganya harus seimbang dan proporsional.
  2. Jika jadual pada program pas kena kompetisi, lompati saja jadual sesi tersebut dan ulangi setelah kompetisi selesai. Jangan sampai berlebihan latihan.
  3. Dalam seminggu, jangan menyusun beban yang sama setiap harinya. Mulai dengan yang intensitas dan durasi lebih rendah, tingkatkan pada hari berikutnya.
  4. Sebelum mulai mengikuti kompetisi, istirahatkan anak-anak seminggu sebelum kompetisi. Istirahat bukan berarti berhenti latihan total, tetapi active rest. Tetap bergerak dan berlatih ringan, bukan dengan intensitas tinggi. Misalnya fokuskan saja pada latihan akurasi shooting, latihan strategi, dll.
  5. Perhatikan usia dan kemampuan masing-masing anak. Jangan terlalu memaksakan mereka.

Dalam menyusun rencana dan menerapkan program latihan seperti di atas, sebaiknya kita bahas dulu beberapa acuan.

> Sebentar coach, untuk menyusun program seperti itu, bagaimana cara menentukan jumlah latihan, materi latihan, dan sebagainya? Apakah ada perhitungannya, atau kah sesuka hati pelatih, misalnya pake perkiraan aja gitu?

< Harus diukur dan diperhitungkan dong Brik. Gimana sih kamu.

> Apa aja yang harus diperhitungkan coach?

< Nah, hal itu ada kaitannya dengan prinsip-prinsip latihan yang akan kita bahas berikutnya. Tapi sebagai gambaran umum, sederhanyanya penjelasan ini nih 6 kondisi umum yang harus kita perhitungkan:

  1. Si pelatih harus punya konsep dulu untuk game plan. Berdasarkan analisis kondisi timnya dan perbandingannya kondisi para calon lawan. Apa kelebihan2 dan kekurangan2, peluang2 dan ancaman2 yang ada, si pelatih ingin membentuk tim yang bagaimana? Analisis itu semacam SWOT analysis- lah. Hasilnya sebuah game plan. Setelah tahu persis game plan-nya, sesuai game plan itulah si pelatih menyusun practice plan. Untuk menyusun detail2 practice plan itulah disusun sebuah program rencana latihan. Bagaimana isi latihan, materi latihan, menu latihan, mestinya si pelatih tahu dulu ukuran kebutuhan kapasitas fisik sesuai game plan yang diinginkannya. Misalnya karena pemain nya untuk season itu pendek-pendek, kekurangan bigman, sehingga si pelatih ingin timnya bermain transisi, banyak fastbreak, main motion cepat dan selalu bergerak dengan aliran bola yang lancar. Berarti ia akan memerlukan sejumlah pemain yang memiliki endurance yang cukup agar pemainnya mampu bermain cepat dan selalu bergerak agresif sepanjang permainan. Maka sesuai konsep game plan itu ia harusnya tahu bahwa:
  2. Aspek fisik: – Para pemainnya akan berlari rata-rata sejauh 3.500 meter per kuarter dimana separonya adalah lari sprint; maka jika pemainnya dilatih hanya untuk mampu berlari 1.500 meter, berarti konsep game plan-nya tidak sesuai dengan latihannya, tidak didukung oleh practice plan. Total rerata jarak tempuh lari pemainnya jika bermain selama 4 quarter akan berkisar 14 km, jika pemainnya hanya mampu berlari 10 km dalam waktu 4X10 menit dan jeda 5 kali, sesuai jumlah time out, berarti tim nya tidak siap untuk melaksanakan game plan si pelatih.

–  Pemainnya akan banyak lari sprint dan bermain agresif sehingga akan banyak mengalami benturan sepanjang permainan; maka jika ia tidak ekstra melatih power resistance dan balance serta injury prevention untuk pemainnya, sepanjang permainan nanti pemainnya hanya ngglempang dan jatuh2 mulu. Baru main 2 quarter, separo pemainnya cedera. Kalo begitu salah siapa? Apalagi kalo pelatihnya marah2 mulu, treak2 nyuruh pemainnya attacking lawan sementara pemainnya sudah pada kram. Tambah lagi si pelatih tidak ada antisipasi untuk over exhausted, kram, dehidrasi, kurang mineral, plus tidak ada treatment saat jeda, ya lengkap lah penderitaan tim yang dilatihnya.

  1. Aspek teknik: – Sesuai game plan, para pemainnya akan banyak melakukan long pass, bounce pass dan wrap around, sementara porsi latihan yang banyak adalah overhead dan chest pass, berarti tidak cocoklah konsep game plan dengan latihan teknik yang diterapkannya.

–  Misalnya para pemainnya kalah size, lawan mungkin bisa mismatch sesuka hati tapi diharapkan pemain2nya menang lincah, cepat dan bisa melompat tinggi, sehingga saat defense akan memerlukan banyak ball pressure, gerak jaga slide run dan snap, sementara agility dan daya eksplosif buruk, maka harapannya tidak tercapai.

  1. Aspek strategi: – Si pelatih tahu persis strategi offensif dan defensif apa yang akan diterapkan, tentunya ia juga harus siap dengan sesi latihan unit2 kerjasama 2, kerjasama unit 1 dan 2, kerjasama 1 dan 3, kerjasama 4, kerjasama unit 1 dan 4, kerjasama unit 2 dan 2, dan sebagainya.
  2. Aspek mental: – Dengan rencana permainan yang cepat, agresif, dan kompak, intensitas latihan akan sangat berat, apakah si pelatih sudah bisa mendapatkan komitmen timnya? Apakah ia mampu menjaga suasana psikologis sepanjang latihan? Apakah ia sudah mempersiapkan cara memotivasi para pemainnya?

– Suasana pertandingan akan memerlukan mental toughness pemainnya, apakah pelatih sudah punya bekal untuk diskusi grup, goal setting, mengajari self talk, pembentukan kepercayaan diri pemainnya?

  1. Kalender latihan dan kalender kompetisi, berapa waktu yang tersedia? Kapan tim perlu siap untuk kompetisi? Berapa program lama latihan terhenti karena kompetisi sela? Kompetisi utama yang diprioritaskan yang mana? Itu semua harus terjawab dulu.
  2. Apakah sarana latihan lengkap atau seadanya? Jangan sampai kita memasukkan unit latihan bench press atau leg press jika alatnya pun tidak ada. Atau latihan teknik dengan 2 bola per individu untuk semua pemain, sementara bola yang ada cuman 2.
  3. Apakah peserta latihan siap menerima latihan dan sampai sampai level latihan yang bagaimana? Jangan sampai latihan yang diberikan berintensitas tinggi di zona maksimum denyut nadi, sementara asupan makan mereka kurang banyak dan tidak bergizi, itu namanya pelatih bunuh atletnya pelan-pelan. Apakah anak-anak semua sehat? Tidak ada yang cedera? Harus diketahui semua dulu tuh. Jadi anak-anak tuh harus teredukasi juga, tahu apa yang harus mereka lakukan sementara program dijalankan.
  4. Bagaimana jika peserta latihan adalah anak-anak sekolah yang juga punya tugas akademik? Apakah sekolah mendukung? Bagaimana dengan orang tua? Apakah jadual latihan tidak menggangu sekolah dan aktivitas lain di rumah?
  5. Berapa kali latihan dalam seminggu, apakah coachnya sendirian atau perlu asisten? Kalau latihan 5 kali seminggu, apakah honor untuk pelatih cukup?

> Ha ha ha… coach bisa aja nih, sengaja  bilang begini supaya honor pelatihnya diperhatiin.

< Iya dong, lha kapan waktu coach cari nafkah kalo jadual penuh tapi honor nggak cukup. Mending kalo coach nih full timer dengan honor memadai, kalo nggak yang coach harus mikir dong.

> Iya, bener, coach juga manusia kan? Trus apalagi nih yang harus dipertimbangkan dalam menyusun rencana latihan, coach?

< Ada, sekarang kita kembali ke topik yang sangat teknis lagi ya. Sekarang kita bahas prinsip-prinsip latihan ya. Ini juga harus menjadi acuan dalam menyusun program latihan. Supaya mudah mengingatnya, ingat

aja singkatan SPORT. Kepanjangannya adalah:

  1. S – specificity
  2. P – progression
  3. O – overload
  4. R – reversibility
  5. T – trait

> Maaf, sebentar coach, tadi ada 5 kondisi dan sub aspek yang harus diperhitungkan, kaitannya dengan prinsip SPORT ini bagaimana?

< Oooo iya saya lupa jelasin. Begini ya Jabrik, dari ke 5 kondisi dan sub aspek tadi, kita punya angka dan perhitungan kan tentang kebutuhan, kapasitas dan pembatas-pembatasnya. Dari situ nanti kita akan menghitung training FITT, yaitu training frequency, training intensity, training time dan training type. Hasil hitungan training FITT ini akan dimasukkan pada bagian ke3, yaitu huruf “O” dari prinsip SPORT. Tentang “overload”. Prinsip ini bicara tentang “load” yaitu ukuran beban latihan yang harus diberikan. Setelah ini, saat menjelaskan SPORT, akan kita bahas lagi ya?

> Ok, tapi kalo untuk penjelasan yang beginian nih, saya mesti nanya satu per satu coach. Jelasinnya yang sederhana dan pake bahasa awam aja ya. Biar aja panjang dikit asal jelas. Kalo coach jelasin cuman inti definisinya saja, saya jadi perlu banyak mikir kan coach kuuu?

< Okaaay, siap Jabrik muridkuuu.

  1. Pertama, S – specificity, berarti materi latihan yang diberikan harus secara spesifik sesuai dengan cabang olah raga yang dilatih. Kalo berlatih basket, ya gerakan-gerakan dan kebutuhan fisik non teknik untuk main basket lah yang diberikan, misalnya lari dinamik, melompat, slide dan sebagainya. Kalo untuk hal teknik sudah jelas kan, seperti shooting, dribbling, passing dan sebagainya.
  2. Kedua, P – progression, berarti ada peningkatan setelah menjalani sekian waktu dan repetisi. Kalau 3 bulan latihan sejak minggu pertama larinya cuman 5.000 meter, bulan kedua paling tidak 7.500 meter lah. Kalo tidak ada peningkatan, latihan itu sendiri tidak memberikan perkembangan kapasitas fisik.
  3. Ketiga, O – overload, nah ini dia nih kelanjutan yang tadi. Latihan itu juga mengacu pada beberapa keajaiban fisiologis tubuh kita, salah satunya yaitu proses adaptasi. Adaptasi ini gampangnya begini. Kalo kamu disuruh nimba air setiap hari, saat2 awal, pinggang dan lenganmu akan terasa pegel2 kan, tapi setelah beberapa lama kamu akan terbiasa, itu dia tuh proses adaptasi. Nah overload ini prinsip latihan yang menganjurkan kita untuk memberikan beban berlebih, sehingga setelah terjadi adaptasi, beban itu terasa ringan. Hitungan load atau beban itu berapa, hitungan overload-nya berapa, itu semua ada hitungannya. Salah satunya mengacu pada training FITT tadi. Lalu sudah ada banyak riset terdahulu yang menghasilkan beberafa formulasi yang bisa membantu kita memperhitungkannya, misalnya tabel Holten, dan sebagainya. Oh ya, untuk proses adaptasi ada juga latihan substitusi. Dalam olah raga nih, misalnya kamu selain bisa dengan tangan kanan tapi mau melatih shooting juga dengan tangan kiri supaya lebih mantap, maka latihannya bukan cuman shooting doang. Jika sehari-hari di luar lapangan kamu mulai membiasakan gerak dengan tangan kiri misalnya untuk menulis, melempar batu, dan sebagainya. Jika kamu semakin lancar menulis dan melempar batu dengan tangan kiri, maka proses latihan tangan kirimu untuk shooting juga akan lebih mudah. Latihan substitusi ini juga banyak dipake buat melatih sistem syaraf pada latihan reaction time, balance, coordination, dan acuracy.
  4. Keempat, R – reversibility, inti pengertiannya begini. Jika kamu latihan rutin dan berstruktur, maka kapasitas dan kualitas fisikmu pun meningkat, tapi jika latihanmu terhenti, maka kapasitas dan kualitas pun turun. Khusus untuk prinsip ini, ada ahli yang bilang bahwa jika pada saat seharusnya beban latihan meningkat tetapi tidak ditingkatkan pun sebenarnya terjadi stagnansi yang disetarakan dengan penurunan juga. Reversibility ini nanti banyak dikaitkan dengan rest, active rest, peaking, kompensasi dan super kompensasi. Beberapa saat setelah berhenti latihan, ada grafik peningkatan kompensatif, tetapi setelah bounceback, terjadi penurunan drastis. Di sinilah diperlukan senantiasa ada pengukuran evaluasi periodik dalam pelaksanaan periodisasi.
  5. Kelima, T – trait, lengkapnya individual traits, yaitu prinsip bahwa kapasitas dan karakter setiap individu itu unik, sehingga walaupun olah raga tim, takaran latihan dan hasil latihan untuk masing-masing individu itu bervariasi. Dalam hal ini juga pelatih mau tak mau mempelajari keunikan individual masing-masing atlet binaannya. Misalnya saja dua atlet dengan ukuran antropomerik serupa tinggi, berat badan, lingkar dada, dan lain sebagainya, bisa saja berbeda tipe metabolismenya, berbeda karakter biomekanik, berbeda pula penggunaan sistem energinya pada saat bergerak. Belum lagi jika dalam satu tim basket ada perbedaan posisi bermain, berbeda pula kebutuhan latihan dan performa yang diharapkan pelatih. Jadi latihan untuk seorang center, secara fundamental mungkin serupa, tapi seorang center akan lebih banyak diharapkan untuk melakukan permainan under ring, permainan di paint area yang lebih banyak melakukan pivot, seal, slip, medium shot; sehingga kebutuhan latihan spesifiknya pun akan berbeda dengan seorang small forward. Salah satu acuan yang baik untuk primsip individual traits ini bisa mengacu pada segitiga hubungan antara kemampuan biomotorik ajaran mbah Bompa. Nanti gambarnya dipasang, tapi untuk penjelasannya, sebaiknya baca aja bukunya.

> Lho kenapa coach?

< Buku ini dibikin untuk pembahasan umum pemain dan pelatih multi peran, kalo pembahasan itu lebih cocok untuk tim pelatih yang lengkap pembagian tugasnya, ada pelatih fisik, teknik, mental, dll gitu.

> Coach, saya mau tanya, tentang proses adaptasi pada prinsip yang ketiga, overload.

< Sebetulnya proses adaptasi itu bukan hanya untuk prinsip yang ketiga, itu berlaku pada semuanya. Mulai dari specificity, progressive, overload, reversibility, dan traits.

> ya coach, yang mau saya tanya tentang perumpamaan pegel2 saat awal nimba air tadi itu lho.

< Ya, jadi itu tadi kan proses adaptasi. Ahli dari Jepang yang namanya Professor Toshio Moritani dalam the American Journal of Physical Medicine menjelaskan tentang hubungan umum antara perubahan syaraf dengan pertumbuhan otot, dalam 3 minggu itu proses adaptasi syaraf, dalam 5 minggu otot tumbuh dan kekuatan diperoleh pada minggu ke 6. Kira2 seperti ini grafiknya.

 

0_qc52mLdOsWpgQQrX_

 

Nah jika kamu berlatih 4 kali seminggu, atau nimba air tuh minimal 30 menit, dalam 3 minggu aja yang terasa pegel2, setelah itu dalam 5 minggu ototmu terasa kencang karena tumbuh, setelah minggu ke 6, kamu tambah kuat Brik. Berikutnya, sesuai prinsip progression, maka ember timba mu harus ganti yang lebih besar. Jangan lupa talinya juga diperkuat lho.

> Ah coach bisa aja, masak aku latihannya nimba air.

< Lho nimba air itu sama aja seperti kamu latihan di gym lho.

> Iya ok, tapi misalnya karena pegal, boleh nggak aku ke tukang pijat coach?

< Jangan, biarin aja. Rasa pegel2 itu bagian dari adaptasi. Kamu masih muda kok, proses recovery kalian bagus. Biarkan tubuhmu menyesuaikan diri.

> Ok coach, setelah belajar tentang 6 kondisi yang diperhitungkan untuk perencanaan, training FITT dan SPORT, bagaimana penerapannya untuk menyusun program latihan kita?

< Setelah itu ya mulai bikin aja programnya.

< Materi latihannya apa aja?

< Tentang materinya, bebas si pelatih dong. Pelatih yang paling tahu kebutuhan anak-anaknya. Tapi sebagai gambaran umum, berikut ini akan diberikan beberapa materi dasar latihan basket.

> Tadi kan coach bilang harus ada hitungannya untuk frekuensi latihan, intensitas, jenisnya dan seringnya. Lantas kalo dikaitkan dengan prinsip individualn traits tadi berarti masing-masing anak harus diukur dulu kan?

< Iya. Sebelum program disusun dan latihan dimulai harus dilakukan tes dan pemngukuran. Gunanya untuk mengetahui entry behaviour dan prestasi awal. Dari hasil pengukuran akan terleihat kelebihan2, kekurangan2, apa2 yang harus dilatihkan, dan sebagainya. Ukurannya sasarannya tuh ada yang berasal dari standar permainan basket itu sendiri dan ada yang berdasarkan hasil pengukuran individual. Ukuran yang sudah ada pada standar permainan basket itu sendiri misalnya:

– Durasi. Lamanya permainan, 4 X 10 menit, tapi dalam prakteknya permainan bisa mencapai 1,5 sampe 2 jam. Berarti anak-anak harus dilatih untuk bisa tahan bermain untuk durasi segitu kan.

– Jarak lari, udah tahu kan kalo main penuh, sekitar 14 km.

– Melompat, perkiraan sekitar 280 sampe 320 kali.

– Lari sprint, perkiraan sekitar 20 meter X 160 kali, termasuk 160 kali akselerasi dan 160 kali pula deselerasi.

Itu semua ukuran yang diperoleh dari standar permainan basket itu sendiri. Ukuran lainnya harus didapatkan dari tes dan pengukuran terhadap masing-masing atlet, misalnya:

–  Kecepatan lari, kecepatan lari sambil dribel, dll

–  Tinggi lompatan, lompatan tunggal, lompatan melayang, lompatan ganda, dll

– Kelincahan, kecepatan lari dan berubah2 arah, suicide, dll.

– Keseimbangan, keseimbangan statik, keseimbangan dinamik, lari hurdle, dll

– Koordinasi, lari dribel dengan 2 bola, dribel pass catch 3 bola, dll

– Akurasi, akurasi passing, akurasi shooting, dll

Itu semua harus dipraktekkan dan coach mencatat bagaimana prestasi pencapaian masing-masing anaknya. Kalo kurang jelas, bisa minta bantuan teman-teman yang sudah belajar tes dan pengukuran di sekolah keolahragaan atau pendidikan olahraga. Kalo kamu dibantu mereka, kamu bisa menggunakan parameter2 yang normatif berstandar yang berlaku umum. Kalo kita ukur sendiri, parameternya berstandar internal tim saja. Biasanya bapak atau ibu guru olahraga bisa kok. Kalo nggak datangi aja kantor KONI atau perguruan tinggi setempat yang ada jurusan olahraga. Temui aja dosen-dosennya.

Kalau menurut si pelatih diperlukan, ukuran lainnya tentang kesehatan harus minta periksa di laboratorium kesehatan untuk kondisi umum kesehatan, termasuk antropometri.

Pokoknya jangan malu-malu bertanya.

> Termasuk ke dokter, ahli gizi, psikolog, apoteker dan fisioterapis ya coach.

< Iya, sebaiknya seorang pelatih punya relasi yang baik dengan kalangan profesional seperti itu.

> Nah sekarang bagaimana penetapan target latihan itu sendiri? Kan misalnya kita sudah dapat ukuran-ukuran tadi itu coach. Lalu dengan prinsip progression, overload dan sebagainya bagaimana tuh menetapkannya.

< Untuk target nih, jika waktu yang tersedia 6 bulan dan fasilitas lengkap, kondisi semua mendukung, biasanya yang begini nih di tim olahraga yang semi profesional atau profesional, maka ukuran yang ada biasanya dinggap sebagai 40%. Beban frekuensi, intensitas, durasi, dan tipe secara bertahap dinaikkan hingga 60%, berarti target peningkatan sebesar separonya aja, 30%. Tapi hitungan 60% ini tidak berlaku untuk peningkatan daya ledak dan kecepatan, tinggi lompatan dan akurasi. Khusus yang berkaitan dengan 3 kualitas itu biasanya kecil dan variatif sekali. Paling juga 1/10 dari 60% jika kualitas dan kapasitas gerak yang lain bareng2 meningkat. Peningkatan paling besar biasanya dari atlet amatir yang belum pernah mendapat latihan berintensitas tinggi.

> Lho, jadinya yang 60% itu ukuran apanya?

< Ukuran progress beban, frekuensi dan intensitasnya. Itu dinaikkan secara bertahap lho.

> Sangat ambisius ya coach!

< Ya. Umumnya dalam latihan fisik untuk basket, yang dinaikkan jumlah repetisinya.

> Kenapa coach?

< Supaya kualitas dan kapasitas endurance, speed dan flexibility tetap terjaga. Ada kaitannya juga dengan muscle memory. Kalo untuk latihan teknik, sekitar 300 repetisi baru berpengaruh nyata.

> Wah, kerja keras nih. Mungkin di level pro lebih berat beban latihannya yang coach. Kompetitif sekali.

< Ya, di level pro kan memang sangat kompetitif. Tapi kalo yang kita latih ini tim amatir, junior, cukup peningkatan beban 30% dan target peningkatan hasilnya 15% sudah bagus sekali.

> Kendala apa yang membedakan pencapaian target 30% dengan yang 15% itu coach?

< Banyak, tapi kendala yang utama itu:

– Pertama, nutrisi. Sulit dan muahall. Makanan atlet, pemenuhan asupan nutrisi seorang atlet yang sedang dalam program conditioning selama sebulan berkisar 6 sd 10 juta rupiah per orang! Bayangin aja kalo atletmu ada 12, ha ha ha…

– Kedua, penanganan cedera dan recovery latihan. Ini sulit, coach harus ekstra hati2.

– Ketiga, mental. Sedikit atlet dan pelatih yang benar-benar siap mental untuk peningkatan beban latihan sampe 60% dan target peningkatan hasil 30%.

> Kenapa kok peningkatan target beban latihan 60% sedangkan target hasilnya hanya 30%?

< Pengalaman. Terkait 3 macam kendala tadi. Kendala nutrisi, penanganan cedera dan recovery, dan mental. Selama ini tidak 100% ketiga aspek itu bisa terkontrol. Jika dalam suatu training centre dimana setiap hari atlet terawasi. Pelatih selalu bisa mengikuti proses latihan, istirahat, pemenuhan nutrisi dan evaluasi sehingga semua aspek terkendali dan terpantau seluruhnya mungkin peningkatan hasil latihan bisa mencapai 75% ke atas.

> Evaluasi menentukan juga ya coach?

< Banget. Apalagi jika untuk evaluasi kita punya EMG buat otot, alat digital modern untuk ngukur VO2max, alat tes asam laktat digital, alat pemantau heart rate, dll, maka latihan dan evaluasi lebih akurat.

> Kenapa evaluasi penting? Dan apa pula alat-alat yang coach sebutkan itu?

< Evaluasi menjadi penting banget, karena terkait dengan prinsip SPORT dan training FITT. Kalo punya alat ukur akurat, data awal lebih presisi. Maka perhitungan beban, FITT untuk materi program pun lebih akurat. Lalu setelah latihan berjalan, kan evaluasi periodik rutin dilakukan tuh, maka kapan waktunya progres dan load beban latihan ditingkatkan pun lebih akurat. Ngitungnya juga mudah, ga pusing kepala coach.

> Waaah asik ya. Ok, berikutnya nanti kita mulai bahas materi latihan. Tolong materinya cukup yang murah dan sederhana aja ya coach?

< Sip. Itu di postingan berikutnya. Ayo.

 

Nulis Buku “Latihan Basket”

Salah satu berkah dari musim wabah Covid 19 ini adalah niat untuk nulis buku, sekarang sudah proses sekitar 100 halaman, berikut ini saya coba share 6 halaman pertama.

Gaya tulis buku ini, maaf, mengalir aja senyamannya. Niat nulis buku ini sudah bertahun-tahun tapi selalu terkendala cara tulis dan saji yang kayaknya membosankan, sulit untuk bisa menarik minat kaum muda basket kita.

Akhirnya saya beranikan diri mencobanya, semoga selesai tuntas dan bermanfaat.

BL (1) edps

BL (2) edps

BL (3) edps

BL (4) edps

BL (5) ed

BL (6) ed

Ya, penuh gambar kartun dan warna-warni, seperti inilah kira-kira tampilannya nanti.

Salaaammm, selamat berpuasabagi yang menjalankan. Semoga bawa berkat dan semua sehat bahagia ya.

Coach Moses,

29 April 2020.

Istilah dalam Permainan Bola Basket

Pernah dalam beberapa acara Perbasi, saya hadir dan mendapat kesulitan karena mendengar istilah-istilah yang terdengar asing di telinga, namun mau tak mau harus dipelajari. Berikut ini tulisan yang dikutip dari: http://basketmipa.blogspot.com, sebuah blog bermutu yang banyak mengulas tentang bola basket. Semoga bermanfaat.

Seperti disiplin olah raga lainnya, bola basket mempunyai bahasanya sendiri. Halaman ini akan menjadi kamus bola basket, mencoba mendefinisikan istilah-istilah dalam bola basket. Jika seseorang mempunyai satu istilah baru yang ingin ditambahkan dalam daftar ini, silakan kirim email.

Pertama, perhatikan diagram “half-court” di bawah ini untuk mendefinisikan area pada lapangan basket. Area “paint” adalah area yang dibatasi oleh jalur free-throw, garis, baseline, dan garis free throw. Jika kaki seorang pemain offensive berada di area tersebut selama 3 detik atau lebih, maka dia akan dikenai pelanggaran 3-second. Sementara itu, tidak ada batasan waktu untuk pemain defensive berada dalam area paint.

@ Terminologi 1Gambar 1 Diagram half-court

Area “free throw” (dikenal juga dengan “charity stripe”) adalah garis di mana seorang pemain harus berdiri di belakangnya ketika melakukan shooting free-throw.

Area “low post” adalah area didekat “block” pada kedua area paint.

Area “high post” adalah area sepanjang garis free-throw dan kedua “elbow”.

Area “point” berada di depan, dan “wing” berada di kedua sisinya. Area “top of the key” berada di atas lingkaran free-throw. Area “short corner” berada di antara corner lapangan dan ring basket.

Istilah “ball-side” berhubungan dengan sisi dari lapangan di mana terdapat bola yang sedang dimainkan. Sebaliknya, “weak side” adalah sisi yang berlawanan dari bola tersebut. Pemain yang melakukan gerakan cut dari weak-side ke arah ring basket disebut dengan “back-door”.

Garis “10 second” atau garis “half-court” adalah garis yang berada di tengah-tengah lapangan. Garis tersebut membagi “full-court” (keseluruhan area permainan) menjadi dua half-court. Istilah “fore-court” adalah half court dengan ring basket kita, sedangkan “back-court” adalah half-court dengan ring basket lawan. Sekali sebuah tim mendapatkan penguasan bola, tim tersebut mempunyai waktu 10 detik untuk membuat bola melewati garis half-court menuju ke fore-court. Sekali melewati garis ini (bola dan kedua kaki), tim tersebut tidak boleh melakukan passing, dribbling bola, atau melangkah kembali melintasi garis tersebut (ketika mengusai bola). Jika hal itu terjadi maka akan dikenai pelanggaran “over and back”. Tetapi pemain offensive dapat memperoleh bola tanpa hukuman jika bola dipantulkan oleh pemain defensive.

Penomoran pemain dan istilah-istilah offensive

Pada sistem lama, nomor tidak digunakan. Biasanya pelatih mempunyai dua “guard” yang bermain di daerah “perimeter”. Pemain “center” biasanya bermain di sekitar area high post, dan dua “forward” bermain di area short corner sampai corner, yang juga kadang diperluas sampai area wing.

Sekarang, kebanyakan pelatih memakai sistem penomoran, sebagaimana sistem lama tidak sering diterapkan lagi, dengan pemain-pemain memainkan berbagai formasi offensive. Menggunakan sistem penomoran memudahkan pelatih dan pemain memahami strategi dan mengetahui peran mereka. Setiap pelatih mempunyai sistem penomoran mereka masing-masing. Di bawah ini adalah contoh sistem penomoran yang sering digunakan, yang sangat mudah dipelajari oleh para pemain muda. Diagram di bawah menunjukkan set formasi “3-2”.

@ Terminologi 2Gambar 2 Formasi 3-2

Pemain “point guard” adalah O1. Pemain wing kanan adalah O2, dan pemain wing kiri adalah O3. Pemain low post kanan adalah O4, dan pemain low post kiri adalah O5. Pemain O2 biasanya adalah “shooting guard”, O3 adalah “small forward”, O4 adalah “power forward”, dan O5 adalah “center”. Sistem ini sangat mudah dipelajari oleh pemain muda jika mereka diberitahu bahwa angka genap (2 dan 4) berada pada sisi kanan, dan angka ganjil (3 dan 5) berada pada sisi kiri.

Dalam set “1-3-1”, salah satu pemain low post akan berada pada daerah high post. Dalam set “1-4” kedua low post akan berada pada elbow, set ini disebut juga dengan “stack offense”, atau dapat juga kedua wing berada pada area corner (dikenal dengan “low stack”). Set “4-out, 1-in” dapat diterapkan dengan menggunakan empat pemain perimeter dan satu pemain post.

“Pick and roll” adalah situasi di mana seorang pemain offensive melakukan “screen” (atau “pick”) pada pemain defensive temannya, setelah itu, pemain yang melakukan screen bergerak, atau disebut dengan “roll”, menuju ke arah ring basket atau ruang yang tidak terjaga untuk menerima passing.

“Give and go” adalah situasi dasar di mana setelah seorang pemain melakukan passing ke temannya, akan dilanjutkan dengan gerakan cut menuju ke arah ring basket dan menerima kembali passing dari temannya untuk melakukan lay-up.

“Reverse the ball” berarti secara cepat memindahkan bola, dengan passing, dari sisi yang berlawanan pada fore-court, baik dengan menggunakan passing yang cepat atau dengan “skip pass” (passing secara langsung melintasi lapangan, yang berarti “skipping” satu atau lebih pemain offensive). Reverse the ball secara cepat dapat digunakan untuk melakukan “over-shift” suatu zone defense. Dengan memindahkan beberapa pemain offensive ke salah satu sisi lapangan (jika lawan menggunakan zone defense), maka kita sedang melakukan “over-load” pada zone defense tersebut.

“Post up” adalah gerakan offensive di mana seorang pemain low post memposisikan dirinya, dan melakukan “seal” pada pemain defensive-nya sehingga pemain tersebut dapat menerima passing di area block, dan melakukan “post move” untuk mencetak poin, atau melakukan passing cepat kembali ke pemain offensive lainnya yang tidak terjaga (dikenal dengan “inside-out”).

“Out-of-bound play” adalah istilah yang digunakan untuk menciptakan peluang menciptakan poin ketika bola dalam situasi “in-bound” (baik dari bawah ring basket atau di sepanjang sideline).

Istilah-istilah defensive

“Man-to-man defense” adalah cara melakukan defense di mana masing-masing pemain defensive ditugaskan untuk menjaga pemain lawan tertentu. Seorang pemain defensive dapat melakukan “switch” pemain yang dijaganya dengan temannya jika pemain tersebut sedang dalam situasi screen. Pemain defensive man-to-man harus memahami arti “on-ball” (menjaga pemain yang sedang menguasai bola), “deny” (mencegah pemain yang sedang dijaga memperoleh bola), dan “help-side” (melonggarkan penjagaan untuk membantu teman dalam mencegah “penetration” ke dalam oleh lawan). Istilah “close-out” adalah sebuah metode di mana seorang pemain defensive secara cepat melakukan slide mengarah ke pemain offensive yang sedang menguasai bola atau akan menerima bola.

Terdapat istilah “on the line” dan “up the line”. Dua istilah tersebut menunjukkan posisi pemain defensive di lapangan yang relatif terhadap pemain yang sedang menguasai bola dan pemain yang sedang dijaga. On the line berarti posisi pemain bertahan yang sedemikian rupa sehingga pemain tersebut dapat melihat pemain yang sedang mengusai bola dan pemain yang dijaga. Dalam situasi “full denial” posisi badan pemain defensive menghadap pemain yang dijaga dan kepala melihat ke arah bola dengan tangan berada pada jalur passing. Up the line berarti posisi di mana pemain defensive yang berada di belakang jalur passing sehingga dapat malihat pemain yang sedang menguasai bola dan pemain yang dijaga secara bersamaan. Posisi ini dapat mencegah “back-cut”. Semakin jauh jarak pemain yang menguasi bola dan pemain yang sedang dijaga maka pemain defensive dapat berada lebih di belakang jalur pasing, tetapi masih dalam posisi yang dapat memungkinkan untuk mencegah passing.

“Trap” adalah situasi di mana dua pemain defensive melakukan “double-team” pada pemain yang menguasai bola, mencoba untuk memaksa situasi “turn-over” atau “jump-ball”.

“Front the low post” merupakan gerakan yang harus dilakukan untuk menjaga pemain low post lawan. Pemain bertahan dapat berada di antara pemain low post dan ring basket, atau berada di antara pemain low post dan pemain yang akan melakukan passing, sehingga dapat melakukan “deny” terhadap passing.

“Box-out” adalah gerakan yang setiap pemain harus lakukan ketika seorang pemain offensive melakukan shooting. Gerakan ini dilakukan dengan menahan pemain yang sedang dijaga jauh dari ring basket dan mencegah pemain offensive mendapatkan “inside position” untuk melakukan rebound.

“Zone defense” merupakan strategi defensive yang menugaskan para pemain defensive menjaga area atau zona tertentu. Beberapa pelatih mengatakan ” a good zone looks like a man-to-man, and a good man-to-man looks like a zone”. Set zone defense yang sering digunakan antara lain 2-3, 3-2, 1-3-1, 1-2-2, dll. Sementara itu, istilah “zone offense” menunjukkan strategi offensive tim yang digunakan untuk mengalahkan zone defense.

“Transition” adalah proses perubahan dari defense ke offense, atau sebaliknya. Strategi “transition offense” dapat diterapkan dengan “fast break” atau “secondary break” di mana tim yang melakukan offensive secara cepat memindahkan bola ke area half-court lawan untuk memperoleh peluang melakukan lay-up dengan mudah. “Transition defense” dilakukan dengan kembali ke area half-court kita secepat mungkin atau menerapkan “full-court press” yang dapat dilakukan dengan man-to-man, atau “zone press”. Untuk melawan strategi defense full-court press, tim offense sering kali menerapkan strategi “press-breaker”.