Coach Aries Herman van UNAIR & NSA, Surabaya

Cara bicaranya kalem, sikap dalam pelatihannya termasuk lembut, namun toh deretan prestasi tak henti-henti diraihnya bersama anak-anak didik yang terlihat akrab dengan pelatih yang satu ini. Dialah coach Aries Herman atau yang biasa disapa coach Ary.

Prestasi pelatih yang saat ini melatih di UNAIR dan SMA NSA Surabaya ini pertama saya dengar sekitar 10 tahun yang lalu dan kemudian kemampuan melatihnya menjadi perbincangan di antara teman-teman pelatih setelah bersama UNAIR berhasil menjadi juara nasional LIMA 2013/2014. Prestasi moncer di tingkat nasional untuk sebuah perguruan tinggi negeri di tengah kancah PTS yang kita ketahui memiliki support & ambisi lebih besar untuk berprestasi.

Screenshot_20200702-004608

Tidak hanya sampai di situ, hingga saat ini secara “rutin” tim asuhan coach Aries Herman mencetak berbagai prestasi baik untuk level SMP, SMA dan Perguruan tinggi.  Anak didiknya bukan hanya memperkuat tim sekolah di Surabaya, tapi juga memperkuat tim Surabaya, Jawa Timur, lalu TIMNAS Basket Indonesia dan membawa mereka bertanding di berbagai event internasional di luar negeri (Piala Asia, Sea Games, dll) dan di dalam negeri (LIMA Nasional, Campus League, Kejurnas, Pra PON, PON, NBL, IBL, WNBL, Merpati Cup dll). Pelatih dan anak basket mana yang tak pernah mengimpikan prestasi semacam ini?

Prestasi ini kontan menarik perhatian beberapa klub besar IBL untuk menjadikannya Pelatih Kepala, namun yang mengherankan, semua ditolaknya dengan alasan ingin fokus dan terlanjur cinta dengan tempatnya melatih terdahulu, di kampus dan level SMA. Ha ha ha… beberapa teman pelatih sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat bagaimana bersahajanya pelatih yang satu ini.

“Dia berat meninggalkan ikan louhan-nya, Pi” kelakar Audy Pahala pada saya. Coach Audy atau kondangnya Bang Jack, (sahabat coach Ary, adalah pelatih basket senior asal Tanggerang, Banten) yang sudah melanglang buana melatih kemana-mana dan baru-baru ini berhasil membantu tim 3X3 Putri Sumatera Barat lolos ke PON di Papua nanti.

Kejadian ini lantas menarik rasa ingin tahu LATIHANBASKET.COM dan ingin segera menuliskan meski hanya secuplik kisah tentang coach Ary. Berprestasi di Surabaya dan Jawa Timur yang adalah salah satu panggung utama basket nasional tidaklah mudah, lalu apa yang bisa membuat pelatih bertangan dingin ini bisa konsisten melahirkan tim dan pemain yang berkualitas, berikut ini hasil wawancara LATIHANBASKET.COM dengan coach Ari, yang mungkin bisa diteladani rekan pelatih muda dan anak-anak basket tanah air.

Pertama, menurut coach Ary adalah menumbuhkan kecintaan dan komitmen anak-anak asuhnya untuk berlatih. “Bukan hanya cinta basket”, katanya. “Banyak anak yang cinta basket tapi buktinya malas berlatih. Ini tidak benar. Jadi yang harus ditumbuhkan adalah komitmen dan kecintaan berlatih basket” ujarnya mantap.

Kedua, footwork adalah landasan bermain basket terpenting. Durasi terbanyak berlatih basket dengan coach Ary adalah latihan untuk kaki dan pergerakan. Setelah yakin kaki anak-anak didiknya kokoh, seimbang, lincah dan cepat, skill yang lain akan jauh lebih baik dan maksimal dibanding jika footwork mereka jelek. Semua latihan skill mubazir saja jika dasar footwork anak-anak belum mapan ujarnya.

Ketiga, repetisi dan adjustmen adalah kata kunci untuk mengembangkan kemampuan technical skill dan tactical skill. Repetisi artinya perulangan latihan lalu setiap perulangan harus membuat anak-anak tampil lebih baik. Kuncinya, adjustment. Penyesuaian dan perbaikan yang diberikan untuk anak-anak ketika berlatih. Di sinilah imbuhnya, perbedaan satu pelatih dengan yang lainnya terletak. Hasil pengamatan yang tajam akan memudahkan pelatih memperbaiki detail-detail penting pada skill anak-anak, jika tidak hanya buang-buang waktu berlatih.

Keempat, fokus. Inilah yang sangat terlihat pada cara pelatihan coach Ary. Fokus pada anak didik, yang membuatnya menolak banyak tawaran klub-klub besar. Ia ingin menuntaskan program pelatihannya dan tidak mau meninggalkan anak-anaknya di tengah-tengah perjalanan. Bukti tanggung jawab dan integritas sebagai pelatih.

Empat hal itu lah yang menjadi aspek utama pelatihan basket sebagaimana disampaikan coach Ary kepada LATIHANBASKET.COM. Obrolan panjang dan bertubi-tubi dengan coach Ary semakin mengesankan saja. Lewat track & scouting yang dilakukan tim riset LATIHANBASKET.COM sebelumnya, kami menilai bahwa dengan konsistensi prestasi, passion dan integritas personalnya, coach Ary yang sejak belasan tahun yang lalu memutuskan untuk menjadi pelatih basket full timer (bukan sekedar pelatih paruh waktu, yang kerja sambilan atau penyaluran hobi, tetapi secara profesional bekerja dan mencari nafkah dengan melatih basket) sangat layak untuk diberikan kesempatan bukan hanya di level daerah Jawa Timur atau nasional, namun juga untuk melatih di Tim Nasional untuk event level internasional.

Hasil pelatihan oleh coach Ary bukan hanya menghasilkan pemain hebat di lapangan tetapi juga di luar lapangan karena ia sangat memperhatikan sejumlah added values, yaitu life skill yang bisa diberikan kepada anak didik lewat proses latihan basket. Pengembangan mental skill, kepercayaan diri, etos kerja keras, respek, kecakapan berkomunikasi dan yang juga penting, filosofi kepelatihan yang selalu dipegang kuat yaitu “membentuk kedewasaan dan kemandirian anak” lewat latihan basket ujarnya.

Ya, bukan hanya pemain hebat, coach satu ini juga telah melahirkan sejumlan pelatih berprestasi misalnya coach muda Dhimas Aniz yang sukses membawa SMAN 2 Surabaya meraih sejumlah prestasi. Coach Dhimas yang akrabnya disapa coach Ublek juga berhasil terpilih menjadi Head Coach tim DBL Allstar yang gemilang pula selama tournya di USA tahun 2019 lalu.

Ada berita menggembirakan kata coach Bayu, salah satu sahabat coach Ary asal Solo, Jawa Tengah, “Kali ini dia mau juga memperluas layanan pelatihan privat untuk anak-anak yang mau mengembangkan skill secara individual.”

ah 002

Ya, pelatih sekelas coach Ary takkan mudah membagi waktu dan tenaganya. Namun kali ini ia bersedia membagikan ilmunya secara privat, yang biar bagaimana akan memberikan hasil berbeda untuk peningkatan skill secara perorangan. Sentuhan tangan dinginnya kontan menarik banyak atensi anak-anak basket dan membuat sejumlah orang tua pebasket kelompok umur berduyun-duyun menghubunginya.

“Kebetulan latihan resmi di kampus dan sekolah belum mulai, saya punya waktu ekstra” jelasnya.

Ya, anak basket Surabaya dan sekitarnya, jangan sia-siakan kesempatan ini ya. Segera saja hubungi coach Ary yang kebetulan bersedia melatih kalian secara intensif dan bahkan mau memberikan nomor kontak pribadinya untuk kalian hubungi.

ah 001

Seandainya saja coach Ary melatih basket 34 tahun yang lalu saat masih bermain, kayaknya akan saya kejar dan minta dilatihnya dah!

Semoga sukses ya coach Aries Herman, jangan lelah membina dan melayani pebasket belia kita.

Skill Challenge Berhadiah dari Amazartist.com

Skill challenge ini terdiri dari 3 kategori. Pertama untuk anak basket tingkat SD, kedua untuk anak basket tingkat SMP dan ketiga untuk anak basket tingkat SMA. Bagaimana gerakannya bisa dilihat dengan meng-klik di sini SKILL CHALLENGE BERHADIAH DARI AMAZARTIST.COM.

Hadiahnya sangat menarik, yaitu 3 buah hoodie seperti pada foto berikut ini.

Hadiahnya 3 hoodies bertulisan thema basket yang dibuat dari kuit asli dan dijahit langsung ke hoodie-nya. Desainnya unik dan “one of a kind”, artinya kalian tidak akan menemukan produk serupa lainnya. Tali leher pada hoodies ini pun terbuat dari kulit sapi asli berkualitas tinggi.

Ketiga hoodies ini adalah produk dari seorang mantan anak basket, Amazia yang kini berwirausaha dengan memproduksi produk karya seni berbahan dasar kulit asli menjadi aneka bentuk produk mulai tas, dompet, jaket dan lain sebagainya. Profil dan beberapa contoh produk bisa dilihat di blognya, AMAZARTIST.COM atau vhannel youtubenya di AMAZIA ART . Mantan anak basket ini juga menjual karyanya di Tokopedia pada link ini Amazia Art.

Cara mengikuti skill challenge ini mudah, kalian hanya perlu melakukan gerakan sesuai contoh pada video berikut ini:

  1. 235 Latihan Ball Control Activities Stationary Dribbling 1 Ball.
  2. 250 Latihan Ball Control Activities Stationary Dribbling 2 Balls.
  3. 251 Latihan Ball Control Activities Partner Activities.

Ketiga video ini ada pada sebuah playlist berjudul SKILL CHALLENGE BERHADIAH. Silakan klik pada nama link yang di-highlight untuk membuka videonya.

Setelah video kalian selesai, kirimkan videonya ke dm pada akun ig LUKISANMOSES . Kami akan memilih 3 pemenang, satu pemenang untuk masing-masing kategori. Semakin bagus videonya, semakin berpeluang kalian menang. Selain para pemenang, kami juga akan memilih 6 peserta yang mendapatkan souvenir gantungan kunci unik bertulisan LATIHANBASKET.COM. Peserta yang belum beruntung, jangan kecil hati ya, minimal kalian sudah mencoba dan berarti juga meningkatkan skill dribel kalian kan?

Ketika mengirimkan video peserta, berarti kalian berarti juga sudah memberi ijin kami untuk memuat video kalian di akun ig lukisanmoses, amaziaartwork, blog latihanbasket.com, amazartist.com, channel youtube Amazia Art dan channel youtube Coach Moses.

Selamat mencoba, semoga skill dribel kalian meningkat ya.

Coach Moses,

Buku “Seni” Basket yang Indah

Ulas Buku FIBA Coaching & Officiating

Kesimpulan bahwa basket itu juga sebuah media seni, sulit dihindari ketika dan sesudah membaca buku istimewa keluaran FIBA ini. Bukunya sendiri merupakan sebuah karya seni yang indah. Bagaimana halaman ditata, ratusan foto yang detail, berekspresi kuat, serta ratusan diagram yang dibuat dengan apik. Buku ini sebuah karya serius yang memakan ribuan jam kerja para ahli. Setiap lembaran dari 953 halaman buku ini memiliki keunikan masing-masing. Buku ini memiliki keunikan, yaitu gaya papar seperti karya ilmiah namun gaya saji seperti majalah olahraga populer. Tak kalah menghibur dibanding  satu-satunya majalah basket yang kita punya, Main Basket (Thank God! kita punya juga…)

Itu baru bukunya, isinya bakal lebih menggugah. Mau tak mau kita akan berdecak kagum membaca ratusan artikel sebagai hasil karya para pelatih yang mencurahkan tak terhitung tenaga, waktu, pikiran dan pencurahan energi serta sumberdaya pada setiap artikel yang berasal dari seluruh dunia.  Sangat berwarna-warni, dinamis dan artistik seperti karya lukisan abstrak yang esensinya sangat realistis. Lihat saja ulasan tentang bagaimana permainan transisi dibentuk, membangun pertahanan man to man, bagaimana di Australia para pengurus basketnya mengajak semua kalangan menjadi partisipan aktif, bagaimana basket di Iran, dan lain sebagainya.

Ketika melihat deretan grafis yang menerangkan skema permainan, kita melihat bagaimana seorang pelatih tak ubahnya seorang koreografer tari, melatih anak-anaknya menjadi bagian dari sebuah karya tari kolosal yang surealis namun penuh emosi karena sekaligus tarian itu mengadu dua tim secara kompetitif. Tarian yang sangat dinamis karena selalu mengandung spontanitas, berubah-ubah setiap kali ditampilkan dan sulit diduga hasil akhirnya. Ya, gerakan para pebasket itu sendiri, semakin mapan level permainannya semakin ritmik permainannya. Bahkan pola gerak ritmik ini juga telah menjadi salah satu unsur dalam latihan fisik atlet.

Buku ini saya dapatkan dari sebuah sumber open source di website basket Eropa, dan pada posting ini saya hanya memperpanjang alur berbagi saja. Ini link untuk mengunduh bukunya.

Klik saja bagian teks yang di-highlight ini untuk mengunduh @ 00 FIBA WABC coaching and officiating

Ayo, teman-teman pelatih, unduh buku ini. Simpan di laptop, tablet atau HP mu. Baca, perlihatkan pada anak-anak kita. Petik sari ilmunya, kunyah lalu sajikan untuk anak didik kita.

Buat anak-anak basket, ayo unduh. Baca lalu ceritakan pada pelatih kalian. Petik mana yang berguna untuk pengembangan dirimu sendiri dan bagian mana untuk pengembangan tim kalian. Bicarakan pada teman-teman, usulkan hal-hal yangbaik dan cocok pada pelatihmu. Jangan takut-takut, semua pelatih juga tahu dan jaman sekarang pemain sudah ditempatkan sebagai partisipan aktif, bukan sekedar objek dalam proses pelatihan. Kalian sudah dilibatkan dalam penetapan goal-goal tim, goal setting yang juga untuk pemantap pengembangan diri kalian. Ini sesuatu yang jauh berbeda jika dibanding jaman saya berlatih sekitar beberapa dekade lalu.

Berikut ini sejumlah kutipan foto halaman yang mungkin bisa memberikan kalian bayangan sehingga mengerti kenapa saya memberikan kredit dan apresiasi tinggi untuk buku ini, para editor, fotografer, penulis, desainer grafis, serta para pelatih yang membuat tulisan-tulisannya.

Semoga bermanfaat buat teman-teman pelatih ya.

Anak-anak basket yang saya sayangi, lihat tuh cuplikan isi bukunya, keren kan. Ayo unduh, simpan, baca-baca, pelajari lalu berbagi dengan teman-teman dan pelatihmu.

Banjarmasin, 16 Mey 2010

Moses.

 

 

 

 

 

 

Jadi Point Guard dan Playmaker Andalan

Point Guard, salah satu posisi yang paling didambakan anak-anak basket di manapun. Siapa yang tidak ingin jadi jenderal di lapangan, memimpin tim, disegani lawan manapun, dihormati teman-teman dan dikagumi para penggemarnya?

Pada tulisan kali ini, saya akan coba mengulas topik ini karena banyak sekali pertanyaan mengenai hal ini. Pada tulisan kali ini, juga dilengkapi dengan beberapa video tutorial yang tersedia di link youtube Coach Moses. Bahkan secara khusus baru dibuatkan sebuah playlist yang berisi sejumlah video tutorial khusus untuk membimbing anak-anak basket yang ingin menjadi point guard atau playmaker andalan.

Playlist ini berjudul “LATIHAN KHUSUS POINT GUARD & PLAYMAKER”, silakan klik link tersebut untuk membukanya. Playlist tersebut berisi 26 materi latihan dasar.

Salah satu video dalam playlist tersebut adalah “5 DRILL LATIHAN KHUSUS POINT GUARD PLAYMAKER”, yang berisi petunjuk tentang 5 drill penting untuk menjadi seorang Point Guard (PG) dan Playmaker (PM) andalan.

Ke5 drill itu adalah:

1. Latihan Ball Control & Footwork

InShot_20200512_045402490

Ball control yang mapan harus didukung oleh footwork yang baik dan mapan pula. Itulah tujuan utama drill ini. latihan pendahulu untuk drill ini adalah agility ladder training, penguatan otot inti, ballhandling dan sprint.

2. Latihan Ball Control & One Handed Quick Pass

InShot_20200512_045325296

Passing yang akurat dan cepat adalah hasil akhir yang diharapkan dari drill ini. Seringkali untuk melakukan passing yang cepat memerlukan skill khusus satu tangan yang mau tak mau harus didahului oleh kemampuan ball control yang baik.

Latihan pendahuluan yang diperlukan untuk drill ini adalah ballhandling, baseball pass, push up dan dip up.

3. Latihan One Handed Quick & Power Pass

InShot_20200512_045251288

Drill yang ke3 ini adalah peningkatan dari drill ke2. Penambahan dalam hal kecepatan dan kekuatan. Latihan penguatan otot inti, lengan, bahu, dada dan kaki menjadi kunci keberhasilan latihan ini.

4. Latihan Vision, Coordination & Reaction Time

InShot_20200512_045214833

Setelah sekitar 12 kali latihan untuk menyelesaikan drill 1, 2 dan 3, anak-anak kembali diberikan latihan untuk mempertajam visi, koordinasi gerak dan reaction time. Drill ke4 ini merupakan latihan khusus yang ditujukan pada sistem neuro-muscular. Bola yang digunakan 3 macam, yaitu bola basket, bola tenis dan bola golf (bisa diganti bola pingpong) yang berbeda ukuran, berat dan warnanya.

5. Latihan Vision, Ballhandle & Reaction Time

InShot_20200512_045135126

Pada drill ke5, masih untuk menajamkan visi, biasanya bukan hanya menggunakan 2 bola basket. Pada kelanjutannya menggunakan sampai 3 bola untuk memastikan kapasitas ball feel anak-anak sudah mapan.

Ke5 drill itu berisi latihan skill dasar untuk PGPM. Apakah 5 dril itu sudah cukup, tidak. Drill itu hanya untuk kapasitas skill (agility, balance, speed, coordination, reaction time & power) teknik (dribel, passing, ball control, visi, footwork & movements), mengarah ke pembentukan kualitas teknis dasar terpenting untuk menjadi seorang PGPM.

Apa sih kualitas dasar untuk menjadi seorang PGPM andalan? Kita akan mengupasnya dengan pendekatan 4 komponen prestasi, yaitu fisik, teknik, taktik, dan mental.

  1. Fisik, seorang PGPM minimal harus memiliki endurance yang membuatnya mampu berlari dinamik bercampur gerak main basket selama 4 quarter (60 menit bersih, biasanya jadi 120 menitan kotor), mampu lari sekurangnya 15 km, melompat sekitar 300 kali. Memiliki kekuatan tubuh untuk menahan benturan, melompat dan berebut bola. Memiliki kecepatan dalam melakukan gerakan yang berubah-ubah arah maupun tempo. Memiliki kelenturan, keseimbangan, koordinasi, akurasi, reaksi, dan kelincahan.
  2. Teknik. Seorang PGPM dituntut memiliki teknik dribel dan olah bola yang sangat baik, menguasai aneka jenis passing dan mampu melakukannya dengan kuat, cepat dan akurat, memiliki akurasi shooting dan drive, serta visi bermain yang istimewa.
  3. Strategi. Seorang PGPM tak ubahnya representasi pelatih sendiri. Ia harus menguasai seluruh taktik dan strategi yang diberikan pelatih. Ia dituntut tahu persis gameplan apa yang akan diterapkan pada pertandingan mana, situasi bagaimana dan perubahan-perubahan atau inisiatif apa yang harus dilakukan jika ada masalah di lapangan.
  4. Mental. Otak dan daya pikir adalah aset terbesar seorang atlet, apa pun cabang olahraganya.  Agar daya pikirnya kuat dan senantiasa bekerja dengan baik, harus dimiliki stabilitas mental. Perlu mentalitas khusus agar seorang pebasket memenuhi syarat menjadi PGPM. Dewasa, tenang, tidak mudah panik, marah atau menyesal berlebihan. Tangguh, tidak mudah menyerah, sikap positif, optimis, penuh respek dan sportif, supportif, dan kualitas terlangka yaitu kepemimpinan.  faktor lain yaitu pengalaman dan wawasan, keduanya akan membentuk istilah populer basketball IQ.

Sebegitu beratkah persyaratan untuk menjadi seorang PGPM? Ya, jika mau lengkap ya seperti itulah idealnya. Itulah sebabnya, Point Guard dan Playmaker itu langka.

Dalam pengalaman saya, belum tentu dari 100 anak kita bisa dapatkan 1 bibit pemain berkarakter point guard dan playmaker ideal.

Faktor terlangka secara teknis adalah visi bermain dan secara mental yaitu kepemimpinan dan basketball IQ.  Itulah sebabnya, dalam melatih saya selalu memasukkan aspek visi bermain sebagai latihan fundamental. Sedangkan kepemipinan? Itu seperti pertanyaan retorik tentang pemimpin, “Apakah pemimpin dilahirkan atau dibentuk?”

Nature or nurture? Pendapat saya, kombinasi antara keduanya. Tidak bisa semata-mata nature dan tidak hanya nurture. Sulit sekali untuk bisa menemukan kembali kualitas point guard dan playmaker seperti Mario Wuysang atau Dimas Muharri. Uniknya lagi, point guard yang baik hanya bisa dilatih oleh seorang point guard yang baik pula, ha ha ha… bukannya tidak bisa sama sekali, tapi lihat saja anak didik seorang mantan shooter, bagaimana kualitas shooting anak didiknya dibanding pemain yang dilatih bukan shooter. Jika point guard playmaker dilatih oleh seorang point guard pula, ada aspek-aspek yang memang hanya dipahami dan diajarkan oleh seorang point guard sendiri. Baik sekali jika Mario Wuysang mau turun melatih seperti halnya Dimas Muharri dengan DBL Academy-nya. Semoga saja.

Kesulitan melatih PGPM bukan hanya teknis, tapi terletak pada pemberian minute play yang cukup untuk pemula. Karena vitalnya peran point guard dalam pertandingan, riskan juga bagi pelatih untuk memasang PGPM minim pengalaman pada pertandingan penting penuh pressure, sedangkan situasi semacam itulah yang paling diperlukan untuk pematangannya. Memang pelatih perlu keberanian untuk mematangkan pemain mudanya.

Sekian dulu, terimakasih.

 

 

 

 

 

BAGAIMANA BIKIN PROGRAM UNTUK TIM YANG KONDISI LATIHANNYA TIDAK IDEAL? (Bagian 1)

Bahan Diskusi Online Kelompok Pelatih Alumni DBL Camp 2017

Itu pertanyaan pokoknya, dilanjutkan penjelasan penanya “Kan kalo melatih tim regional/ daerah tapi pemainnya masih ada latihan dan pertandingan untuk tim sekolah, kampus atau klub, kan program jadi terganggu. Beda halnya jika melatih tim untuk liga pro, kan pemain-pemainnya fokus sehingga program bisa jalan penuh. Gimana tuh cara bikin program dan pelaksanaannya? Lalu yang sering dialami banyak pelatih nih, kalo misalnya timnya nih dibentuk dadakan, waktu latihan hanya beberapa minggu, kita harus bagaimana?”

Ha… ha… ha… yang topik bagus dari coach Muflih Farhan yang sebenarnya tahu persis apa jawabannya. Tapi untuk bahan sharing dan diskusi ya boleh lah, asik juga.

Ada 2 situasi nih.

–  Pertama, program untuk tim regional/ daerah yang pemainnya banyak acara sehingga sesi latihan banyak terganggu.

–  Kedua, tim regional/ daerah yang dibentuk dadakan, waktunya latihan pun hanya beberapa minggu.

Baik, saya akan menyampaikan pendapat saya. Kedua situasi itu punya jawaban serupa. Ada asumsi kesamaan namun juga ada perbedaan pada aspek FITT:

  1. time/ durasi dan, situasi 1 punya time/ durasi latihan per sesi yang lebih panjang, situasi 2 lebih singkat.
  2. frekuensi latihan, situasi 1 punya frekuensi latihan lebih banyak pada periode latihan lebih lama namun terputus-putus, situasi 2 lebih sedikit.

Antara situasi 1 dan 2 ada perbedaan dalam hal:

  1. tipe dan
  2. intensitas latihan.

Ok, kita bahas satu-satu ya.

Kita ulas dikit kondisi ideal, yaitu waktu dan sumberdaya lainnya tersedia dengan cukup. Nanti yang kita mau dalami bukan ini, tetapi sebagai pembanding perlu kita ulas dikit.

GAMEPLAN

Gameplan adalah kata kunci pertama. Untuk bagaimana pun kondisi sebuah tim, tugas utama dan pertama seorang pelatih adalah menyusun gameplan setelah sungguh-sungguh mengenali 4 komponen prestasi pada masing-masing pemainnya.

Di sini kita bicara perencanaan latihan, isinya tentang practice plan. Dalam hierarkinya, practice plan itu breakdown dari gameplan. Yang kita latih itu kan practice plan yang berisi 4 komponen prestasi yang terdiri dari fisik, teknik, strategi, mental.

Jika menemui hambatan batasan waktu latihan, maka logika kita akan langsung memilih fokus latihan ke strategi, untuk bola basket ya berkaitan dengan teamwork.

Latiham teamwork bagaimana yang akan dipilih? Ya tergantung pilihan coach tentang gameplan. Tapi apa benar hanya latihan teamwork strategy yang akan jadi pilihan? Bagaimana kondisi fisik, teknik dan mental? Tidak, bukan hanya latihan strategi untuk teamwork.

KONDISI IDEAL

Pada kondisi ideal, sebuah gameplan akan di-breakdown ke practice plan yaitu dengan materi latihan sesuai komponen prestasi, pre-requirement apa yang diperlukan untuk gameplan ya sesuai dengan pilihan pelatih. Apa dasar pilihan pelatih, pertama pengetahuannya terkait pengalaman, ilmu, filosofinya, ketersediaan data, dan instinctive decision making (instink bisa terkait pengalaman, bisa juga tidak. Tetapi pengalaman mempertajam instink. Pengambilan keputusan berdasarkan instink seringkali bertentangan dengan fakta statistikal).

Pada kondisi ideal, akan ada tes dan pengukuran pendahuluan tentang bagaimana kapasitas dan kualitas dari keempat komponen prestasi.

  1. fisik atletnya (dengan measurement/ pengukuran fisik),
  2. teknik individual (dengan instrumen test/ uji skill teknis baik absolut, normatif atau relatif),
  3. kemampuan kerjasama yang ada pada individual untuk menjalankan strategi (dengan instrumen test/uji skill & knowledge normatif), dan kemampuan kerjasama yang ada pada tim untuk menjalankan strategi (test absolut).
  4. mental toughness (dengan uji respon/ skala psikologis normatif).

Itu jika keadaan normal, punya waktu dan sumberdaya cukup. Setelah memiliki data itu, si pelatih akan harus memiliki data scouting calon tim lawan dan melakukan analisis sebelum menentukan gameplan. Setelah semua data ada, pelatih masih melakukan lagi analisis SWOT factors.

Faktor inside the team, terdiri dari Strength (Kekuatan kita) dan Weakness (Kelemahan kita).

Faktor outside the team, terdiri dari Opportunities (yaitu peluang, sesuai dengan Weakness lawan) dan Threats (yaitu ancaman, sesuai dengan Strength lawan).

Jika faktor Strength kita tepat sesuai dengan Weakness-nya lawan, buat pelatih ini yang paling enak. Ini yang namanya big opportunity.

Jika Strength kita sesuai dengan strength-nya lawan, PR kecil nih buat pelatih.

Jika Weakness kita tepat sesuai dengan Strength lawan, ini namanya ancaman, big Threats dan PR besar buat pelatih.

Jika Strength dan Weakness kita berbeda dengan Strength dan Weakness lawan, akan terjadi perang kreativitas antar pelatih.

Dengan data-data dan analisis itulah disusun sebuah gameplan, lalu berlanjut dengan perencanaan latihan berbentuk program periodisasi untuk menempatkan practice plan mana pada periode mana. Jika kita mendalami beberapa sistem, maka umumnya terdiri dari 3 bagian pokok. Pertama peningkatan kapasitas dasar (umumnya berkaitan dengan kapasitas fisik yang berhubungan dengan health related fitness), kedua konversi (umumnya berkaitan dengan teknik, resistensi dan kapasitas fisik yang berhubungan dengan skill related fitness), ketiga pematangan kualitas komponen prestasi, fase siap tanding hingga super-kompensasi, peaking (umumnya berkaitan dengan mental dan strategy, konsistensi, biomotorik, peningkatan kapasitas sistem energi dan recovery).

health-related-fitness-7-638

KONDISI TIDAK IDEAL 1

Tapi jika keadaan tidak mengungkinkan, maka metode penentuan gameplan yang lebih praktis yaitu dengan statistik, seperti yang pernah diajarkan dan dikuasai dengan baik oleh Coach Mbing. Berdasarkan statistik pemain yang lengkap, kita bisa mengenali secara mendalam “Prestasi”, “Specificity”, untuk nantinya menjadi ukuran kekuatan dan kelemahan kalau dikaitkan dengan kebutuhan tim sesuai dengan gameplan. Jika tidak dikaitkan dengan gameplan, maka tidak ada yang namanya kelebihan dan kekurangan, yang ada hanya individual statistical factual score. Jika menyangkut skala mental, kata individual diganti dengan personal.

Tapi penggunaan medode berdasarkan stastistik ini untuk penyusunan gameplan punya kelemahan, yaitu:

Pertama, apakan sistem pencatatan statistik pemain-pemain kita sudah ada dan cukup? Perihal data availability dan data adequacy untuk statistik. Setahu saya tidak, kecuali yang berbasis data yang diperoleh dari scoresheet setelah pertandingan).

Kedua, apa yang dianalisis pada sistem pendekatan berdasarkan metode statistis “mengabaikan” bagaimana ukuran kapasitas dan kualitas fisiknya, tekniknya, strategi (tidak memperhitungkan teamwork, support teman satu tim) dan kapasitas mental. Yang dilihat semata-mata hanya prestasi faktual dan kalkulasi prestasi yang tercatat. Kecuali jika pada keadaan tertentu, ada scouting dan tracking khusus terhadap si pemain (biasanya ini hanya ada pada pemain yang menonjol saja, yang kata Bill Russel tuh, pemain yang kehadirannya langsung mempengaruhi atmosfer lapangan).

Jika perekaman data itu tidak available atau tidak adequat, maka kita berada di kondisi tidak ideal 2.

KONDISI TIDAK IDEAL 2

Pada kondisi ini, kita hanya disodori pemain yang si pelatih tahu persis kapasitas dan kualitas komponen prestasinya yaitu fisik, teknik, strategi dan mental karena para pemainnya adalah anak didiknya sendiri. Jadi tidak masalah, karena memiliki data yang cukup mengenai komponen prestasi anak didiknya sendiri (sdh hapal ya 4 komponen prestasi tadi, dikit2 kita kembali ke situ, he he he…).

Jika para pemain pada tim kebanyakan bukan anak didiknya sendiri, maka bagi yang sering nonton tim lain dan melakukan scouting meski kasat mata, setingkat observasi saja, si pelatih akan cukup mengenali komponen prestasi pemain yang dikenalinya itu sehingga memiliki data yang cukup untuk menyusun gameplan.

Tetapi jika tim terdiri dari pemain yang bukan anak didiknya, dan para pemain dipilih oleh orang lain, bukan oleh si pelatih yang akan menyusun gameplan, jika si pelatih memaksakan untuk membuat gameplan maka hasilnya gameplan tebak-tebakan. Ini yang katanya coach Wahyu Budi, “Mesti banyak-banyak berdoa” ya semoga saja gameplan-nya tepat, sehingga practice plan pun tepat, sehingga hasil latihan pun pas. Tetapi jika tidak, maka kita berada di kondisi tidak ideal 3.

KONDISI TIDAK IDEAL 3

Situasi ini sering lho terjadi. Misalnya seorang pelatih dengan nama besar, secara mendadak dan tidak diberi waktu seperti KONDISI IDEAL untuk membangun tim, maka sehebat apa pun si pelatih, kondisinya adalah KONDISI TIDAK IDEAL 3. Sehingga harus banyak-banyak berdoa. Kalau ia ingin memperbaiki situasi, minta data yang banyak, membangun relasi yangbaik dengan para pelatih dari para pemain yang ada di timnya, maka bisa saja kondisinya membaik jadi KONDISI TIDAK IDEAL 2. Dan jika ia ingin lebih baik lagi, dan mujur karena sistem pencatatan individual pemain tersedia lengkap, maka kondisinya membaik jadi KONDISI TIDAK IDEAL 1. Lantas ketika kemudian lembaga yang menunjuk si pelatih mendengar doa si pelatih, lalu memberinya waktu yang cukup untuk melakukan tes dan pengukuran bagiu semua pemain, lalu sempat melakukan scouting dan tracking tim sendiri serta seluruh calon tim lawan, lalu memberinya keleluasaan untuk membongkar pasang pemain sesuai gameplan yang matang, tambah lagi waktu yang panjang untuk melatih dan menjalankan program periodisasi, (dinaikkan pula gajinya) maka doanya terjawab sehingga si pelatih berada pada KONDISI IDEAL.

Akan tetapi jika ia gagal memperbaiki kondisinya dari KONDISI TIDAK IDEAL 3, 2, 1 hingga kondisi ideal, dan doa-doanya tidak terjawab maka apa yang akan dilakukan si pelatih? Saran saya, mundur aja. Jangan nekat. Beritahukan pada lembaga yang menunjuknya agar menyerahkan kursi pelatih kepada pelatih yang tahu persis secara terukur bagaimana 4 komponen prestasi para pemain dan tim. Dengan demikian si pelatih tahu harus berbuat apa. Ia bisa menyusun sebuah gameplan yang rasional dan realistis, sehingga bisa menyusun practice plan yang realistis pula.

PRACTICE PLAN

Practice plan ata kunci kedua. Practice plan akan sangat panjang pembahasannya jika kita bahas untuk semua kondisi, sehingga sesuai pembicaraan awal tadi, saya ditugaskan memberikan 3 alternatif untuk dibahas pada diskusi kita nanti.

Practice plan itu terjemahannya nanti adalah sebuah program, apakah program dengan periodisasi lengkap, bagaimana FITT-nya? Itu akan harus disesuaikan dengan gameplan dan kondisinya.

Silakan pilih nih, apakah kita akan membahas practice plan untuk KONDISI IDEAL, KONDISI TIDAK IDEAL 1, 2, ATAU 3? Nanti itu yang akan kita diskusikan Jumat depan ya.

Ayo, silakan dipilih ya teman-teman pelatih.

Tulisan ini nantinya bersambung ke bagian 2, setelah diskusi selesai dan ada masukan dari kawan-kawan pelatih. Tengkiyu.

9 Mey 2020