Coach Aries Herman van UNAIR & NSA, Surabaya

Cara bicaranya kalem, sikap dalam pelatihannya termasuk lembut, namun toh deretan prestasi tak henti-henti diraihnya bersama anak-anak didik yang terlihat akrab dengan pelatih yang satu ini. Dialah coach Aries Herman atau yang biasa disapa coach Ary.

Prestasi pelatih yang saat ini melatih di UNAIR dan SMA NSA Surabaya ini pertama saya dengar sekitar 10 tahun yang lalu dan kemudian kemampuan melatihnya menjadi perbincangan di antara teman-teman pelatih setelah bersama UNAIR berhasil menjadi juara nasional LIMA 2013/2014. Prestasi moncer di tingkat nasional untuk sebuah perguruan tinggi negeri di tengah kancah PTS yang kita ketahui memiliki support & ambisi lebih besar untuk berprestasi.

Screenshot_20200702-004608

Tidak hanya sampai di situ, hingga saat ini secara “rutin” tim asuhan coach Aries Herman mencetak berbagai prestasi baik untuk level SMP, SMA dan Perguruan tinggi.  Anak didiknya bukan hanya memperkuat tim sekolah di Surabaya, tapi juga memperkuat tim Surabaya, Jawa Timur, lalu TIMNAS Basket Indonesia dan membawa mereka bertanding di berbagai event internasional di luar negeri (Piala Asia, Sea Games, dll) dan di dalam negeri (LIMA Nasional, Campus League, Kejurnas, Pra PON, PON, NBL, IBL, WNBL, Merpati Cup dll). Pelatih dan anak basket mana yang tak pernah mengimpikan prestasi semacam ini?

Prestasi ini kontan menarik perhatian beberapa klub besar IBL untuk menjadikannya Pelatih Kepala, namun yang mengherankan, semua ditolaknya dengan alasan ingin fokus dan terlanjur cinta dengan tempatnya melatih terdahulu, di kampus dan level SMA. Ha ha ha… beberapa teman pelatih sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat bagaimana bersahajanya pelatih yang satu ini.

“Dia berat meninggalkan ikan louhan-nya, Pi” kelakar Audy Pahala pada saya. Coach Audy atau kondangnya Bang Jack, (sahabat coach Ary, adalah pelatih basket senior asal Tanggerang, Banten) yang sudah melanglang buana melatih kemana-mana dan baru-baru ini berhasil membantu tim 3X3 Putri Sumatera Barat lolos ke PON di Papua nanti.

Kejadian ini lantas menarik rasa ingin tahu LATIHANBASKET.COM dan ingin segera menuliskan meski hanya secuplik kisah tentang coach Ary. Berprestasi di Surabaya dan Jawa Timur yang adalah salah satu panggung utama basket nasional tidaklah mudah, lalu apa yang bisa membuat pelatih bertangan dingin ini bisa konsisten melahirkan tim dan pemain yang berkualitas, berikut ini hasil wawancara LATIHANBASKET.COM dengan coach Ari, yang mungkin bisa diteladani rekan pelatih muda dan anak-anak basket tanah air.

Pertama, menurut coach Ary adalah menumbuhkan kecintaan dan komitmen anak-anak asuhnya untuk berlatih. “Bukan hanya cinta basket”, katanya. “Banyak anak yang cinta basket tapi buktinya malas berlatih. Ini tidak benar. Jadi yang harus ditumbuhkan adalah komitmen dan kecintaan berlatih basket” ujarnya mantap.

Kedua, footwork adalah landasan bermain basket terpenting. Durasi terbanyak berlatih basket dengan coach Ary adalah latihan untuk kaki dan pergerakan. Setelah yakin kaki anak-anak didiknya kokoh, seimbang, lincah dan cepat, skill yang lain akan jauh lebih baik dan maksimal dibanding jika footwork mereka jelek. Semua latihan skill mubazir saja jika dasar footwork anak-anak belum mapan ujarnya.

Ketiga, repetisi dan adjustmen adalah kata kunci untuk mengembangkan kemampuan technical skill dan tactical skill. Repetisi artinya perulangan latihan lalu setiap perulangan harus membuat anak-anak tampil lebih baik. Kuncinya, adjustment. Penyesuaian dan perbaikan yang diberikan untuk anak-anak ketika berlatih. Di sinilah imbuhnya, perbedaan satu pelatih dengan yang lainnya terletak. Hasil pengamatan yang tajam akan memudahkan pelatih memperbaiki detail-detail penting pada skill anak-anak, jika tidak hanya buang-buang waktu berlatih.

Keempat, fokus. Inilah yang sangat terlihat pada cara pelatihan coach Ary. Fokus pada anak didik, yang membuatnya menolak banyak tawaran klub-klub besar. Ia ingin menuntaskan program pelatihannya dan tidak mau meninggalkan anak-anaknya di tengah-tengah perjalanan. Bukti tanggung jawab dan integritas sebagai pelatih.

Empat hal itu lah yang menjadi aspek utama pelatihan basket sebagaimana disampaikan coach Ary kepada LATIHANBASKET.COM. Obrolan panjang dan bertubi-tubi dengan coach Ary semakin mengesankan saja. Lewat track & scouting yang dilakukan tim riset LATIHANBASKET.COM sebelumnya, kami menilai bahwa dengan konsistensi prestasi, passion dan integritas personalnya, coach Ary yang sejak belasan tahun yang lalu memutuskan untuk menjadi pelatih basket full timer (bukan sekedar pelatih paruh waktu, yang kerja sambilan atau penyaluran hobi, tetapi secara profesional bekerja dan mencari nafkah dengan melatih basket) sangat layak untuk diberikan kesempatan bukan hanya di level daerah Jawa Timur atau nasional, namun juga untuk melatih di Tim Nasional untuk event level internasional.

Hasil pelatihan oleh coach Ary bukan hanya menghasilkan pemain hebat di lapangan tetapi juga di luar lapangan karena ia sangat memperhatikan sejumlah added values, yaitu life skill yang bisa diberikan kepada anak didik lewat proses latihan basket. Pengembangan mental skill, kepercayaan diri, etos kerja keras, respek, kecakapan berkomunikasi dan yang juga penting, filosofi kepelatihan yang selalu dipegang kuat yaitu “membentuk kedewasaan dan kemandirian anak” lewat latihan basket ujarnya.

Ya, bukan hanya pemain hebat, coach satu ini juga telah melahirkan sejumlan pelatih berprestasi misalnya coach muda Dhimas Aniz yang sukses membawa SMAN 2 Surabaya meraih sejumlah prestasi. Coach Dhimas yang akrabnya disapa coach Ublek juga berhasil terpilih menjadi Head Coach tim DBL Allstar yang gemilang pula selama tournya di USA tahun 2019 lalu.

Ada berita menggembirakan kata coach Bayu, salah satu sahabat coach Ary asal Solo, Jawa Tengah, “Kali ini dia mau juga memperluas layanan pelatihan privat untuk anak-anak yang mau mengembangkan skill secara individual.”

ah 002

Ya, pelatih sekelas coach Ary takkan mudah membagi waktu dan tenaganya. Namun kali ini ia bersedia membagikan ilmunya secara privat, yang biar bagaimana akan memberikan hasil berbeda untuk peningkatan skill secara perorangan. Sentuhan tangan dinginnya kontan menarik banyak atensi anak-anak basket dan membuat sejumlah orang tua pebasket kelompok umur berduyun-duyun menghubunginya.

“Kebetulan latihan resmi di kampus dan sekolah belum mulai, saya punya waktu ekstra” jelasnya.

Ya, anak basket Surabaya dan sekitarnya, jangan sia-siakan kesempatan ini ya. Segera saja hubungi coach Ary yang kebetulan bersedia melatih kalian secara intensif dan bahkan mau memberikan nomor kontak pribadinya untuk kalian hubungi.

ah 001

Seandainya saja coach Ary melatih basket 34 tahun yang lalu saat masih bermain, kayaknya akan saya kejar dan minta dilatihnya dah!

Semoga sukses ya coach Aries Herman, jangan lelah membina dan melayani pebasket belia kita.

Apasih Istimewanya DBL? Pengalaman mengikuti DBL Camp Surabaya 2016

Awal kenal DBL, saya tidak mengerti dan tegas menolak ketika diajak melatih tim peserta DBL oleh coach Mika, rekan pelatih di klub lama kami Mandala.

“Biar kamu aja yang bawa anak-anak. saya tetap melatih mereka di klub saja” jawab saya ketika merespon ajakannya untuk terjun langsung ke DBL Kalimantan Selatan. Saya hanya datang sampai halaman GOR Hasanuddin Banjarmasin. Memang gegap gempita gedung terdengar riuh sampai halamannya. Saya tetap bergeming.

Awal ketertarikan adalah saat membludaknya anak-anak yang datang berlatih di Suria Arena, tempat kami melatih para pemain junior Mandala. “Saya ingin sukses main di DBL coach” jawab anak-anak yang saya tanya. Dari yang biasanya hanya 20-an anak, tiba-tiba menjadi 50 sampai 60 anak yang datang berlatih. Mau tak mau hari latihan dan perlengkapan latihan pun harus ditambah oleh pengurus klub Mandala Banjarmasin.

Pemicu minat yang kedua adalah ketika coach Mika dan anak-anak menghubungi saya untuk minta latihan ekstra untuk persiapan jelang DBL, termasuk latihan fisik yang nota bene adalah momok bagi anak-anak umumnya. Selama bertahun-tahun melatih, coach Mika dan saya selalu hati-hati ketika memberikan menu latihan fisik karena beberapa kali penerapannya yang kurang tepat malah kontan membuat jumlah anak-anak yang berlatih berkurang drastis.

Banjar segmen 3.mp4_000243040
Coach Mika

Motivasi berlatih gila-gilaan otomatis membuat saya tertarik mencari tahu dan menyaksikan beberapa game DBL. Di saat itulah terlihat langsung betapa antusiasnya orang tua, guru, pemain dan suporter terlibat dalam event DBL.

Para pemain dibuat seperti artis idola yang akan show di arena serupa panggung hiburan. Sponsor besar menyediakan aneka hadiah dan hiburan, dikemas apik oleh para organizer belia yang energik. Bukan hanya para pebasket, penari dan ribuan suporter pun diberi ruang untuk eksis. Semua ulah di arena terekam apik dan diberitakan oleh media besar, koran Radar Banjarmasin pun laris manis oleh pembaca belia yang terseret oleh serbuan pembaca belia. Tidak tanggung-tanggung, koran itu memuat beberapa halaman penuh foto besar para performer setiap hari sejak persiapan DBL dan selama berlangsungnya event. Beberapa hari sebelum event dimuali, mereka mengadakan roadshow di sekolah-sekolah, membuat para pemain menjadi anak-anak populer. Berharga sekali untuk konsep diri mereka.

Menjelang final pemberitaan dan gelombang promosi menghebat, membuat pertarungan final mengandung intensitas persaingan ketat dan emosional. Air mata bahagia dan tangisan kekecewaan langsung terlihat seusai sebuah pertandingan pada pemain dan pendukung.  Apa pun hasil pertandingan final hari itu, membuat motivasi mereka untuk tampil lebih baik di season mendatang membuncah di dada dan benak masing-masing.

Saya pulang menonton dengan perasaan maklum, meski masih ada kecewa dengan beberapa aturan pertandingan yang anggapan saya masih mengganggu aspek teknis pertandingan basket itu sendiri.

Hari berikutnya mulailah saya melatih dengan adaptasi penuh terhadap ketentuan pertandingan DBL yang awalnya saya anggap aneh-aneh itu. Latihan untuk defense man to man, rotasi dan minute play pemain harus merata, respect the game sesuai kedudukan skor, dan sebagainya mau tak mau saya terima dengan lapang dada. Seiring berjalannya waktu, saya mencoba memahami latar belakang panitia DBL menetapkan beberapa peraturan aneh-aneh itu.

Satu per satu pertanyaan-pertanyaan itu terjawab ketika masuk ke situs FIBA, khususnya di Coaches Education Platform. Reasoning untuk ketentuan-ketentuan tambahan oleh organizer DBL, ternyata sesuai dan tidak bertentangan dengan ketentuan teknis pertandingan bola basket (kecuali ketentuan yang berkaitan dengan penari dan batasan jumlah suporter yang terlibat, namun kemudian dihapuskan pula oleh DBL), terurai jelas di situs resmi asosiasi pelatih sedunia yang bernaung resmi di bawah FIBA. Barulah saya tersadar bahwa sebagai pelatih saya tertinggal jauh.

Dengan intensifnya anak-anak berlatih, sesuai dengan tensi pertandingan yang diantisipasi oleh tim pelatih yang akan berlangsung cepat dan agresif, resiko cedera pun meningkat. Setelah memberikan edukasi dan penyesuaian menu latihan, mau tak mau akhirnya saya menerima tawaran coach Mika untuk ikut turun di DBL. Meski sibuk luar biasa karena kala itu saya juga bertugas sebagai pelatih di tim PON tahun 2016 di Bandung, latihan anak-anak sangat intensif.

Akhirnya di tahun 2016 tim yang kami asuh, SMAN 2 Banjarmasin berhasil jadi juara (dengan respek penuh pada tim lain, termasuk tim SMAN 1 Banjarbaru yang sangat kompetitif dan berhasil mengalahkan kami di tahun 2017, dan bertemu lagi di 2 kali final berikutnya tahun 2018 dan 2019).

Banjar segmen 3.mp4_000348080

Liputan final DBL Kalimantan Selatan 2016 ini juga bisa dilihat di youtube channel DBLplay dengan klik pada link ini.

Ketika tanding final selesai, barulah saya sadar jika ditipu oleh coach Mika karena terpilih sebagai first team dan mengikuti DBL Camp di Surabaya.  Baru tahu jika status saya yang seharusnya hanya asisten, dijadikannya pelatih kepala.

Pengalaman luar biasa, itulah singkat kata untuk pengalaman di DBL Camp. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika event itu sedemikian besar dan sangat terorganisir. Tak mampu menahan rasa ingin tahu, saya pun menelusuri bagaimana anak-anak muda di pusatnya DBL di Surabaya itu bekerja. Enerjik dan tahu persis apa yang harus dilakukan, itu kesan yang langsung muncul di benak saya. Jelas mereka dipimpin oleh orang-orang yang juga cakap. Ternyata Azrul, putra pak Dahlan Iskan bos besar Jawa Pos group adalah tokoh di balik seluruh fenomena sukses DBL. Jika tadinya saya hanya mengira ia hanya berada di balik layar, ternyata Azrul juga turun langsung ke lapangan, saya menyaksikan sendiri bagaimana ia turun ke arena saat menghibur tim yang kalah pada final DBL Jawa Timur.di DBL Arena. Kiprahnya dibantu seorang wanita muda yang kabarnya mendapat berbagai international award untuk kecakapan manajerialnya.

24-besar-campers-honda-dbl-camp-2016
Terpilih 24 Besar Campers dan 12 Besar Coach Honda DBL Camp 2016. Foto dari dblindonesia.com

Sempat terbersit di pikiran saya, “Kok mau-maunya orang sekelas mereka menghabiskan waktunya yang tentunya berharga dan bernilai mahal, “hanya” untuk DBL?” namun setelah mengikuti dan terlibat langsung, saya bersyukur. Seluruh anak basket dan pecinta basket se-Indonesia patut berterimakasih.

Kegiatan DBL Camp berakhir menyenangkan, saya kembali ke Ungaran dan kemudian ke Banjarmasin dengan pengayaan ilmu dan sahabat baru yang luar biasa. Terimakasih.

 

 

Interview with Tudor Bompa

Need to know more of Bompa’s books.

Tudor Bompa Institute

Tudor Bompa is one of the world’s foremost sports training experts. He is the only coach to have produced Olympic and world champions in two different sports – athletics and rowing. He has been called the father of periodization (training planning). I bet there aren’t any athletes in the world who don’t owe their successes (even if they don’t realize it) to Bompa’s theories in one way or another.

How did you get involved in sport?

Like almost every kid in Romania I started to play football. Track and field also captivated my interest so much so that during my mid-teens I was very busy training and competing in both sports. I quickly realised the athleticism I gained from track greatly helped my football. When I was 17 I was selected for the Romanian national under18 side. And I still managed to find the time to continue with my track…

View original post 2,456 more words