Coach Aries Herman van UNAIR & NSA, Surabaya

Cara bicaranya kalem, sikap dalam pelatihannya termasuk lembut, namun toh deretan prestasi tak henti-henti diraihnya bersama anak-anak didik yang terlihat akrab dengan pelatih yang satu ini. Dialah coach Aries Herman atau yang biasa disapa coach Ary.

Prestasi pelatih yang saat ini melatih di UNAIR dan SMA NSA Surabaya ini pertama saya dengar sekitar 10 tahun yang lalu dan kemudian kemampuan melatihnya menjadi perbincangan di antara teman-teman pelatih setelah bersama UNAIR berhasil menjadi juara nasional LIMA 2013/2014. Prestasi moncer di tingkat nasional untuk sebuah perguruan tinggi negeri di tengah kancah PTS yang kita ketahui memiliki support & ambisi lebih besar untuk berprestasi.

Screenshot_20200702-004608

Tidak hanya sampai di situ, hingga saat ini secara “rutin” tim asuhan coach Aries Herman mencetak berbagai prestasi baik untuk level SMP, SMA dan Perguruan tinggi.  Anak didiknya bukan hanya memperkuat tim sekolah di Surabaya, tapi juga memperkuat tim Surabaya, Jawa Timur, lalu TIMNAS Basket Indonesia dan membawa mereka bertanding di berbagai event internasional di luar negeri (Piala Asia, Sea Games, dll) dan di dalam negeri (LIMA Nasional, Campus League, Kejurnas, Pra PON, PON, NBL, IBL, WNBL, Merpati Cup dll). Pelatih dan anak basket mana yang tak pernah mengimpikan prestasi semacam ini?

Prestasi ini kontan menarik perhatian beberapa klub besar IBL untuk menjadikannya Pelatih Kepala, namun yang mengherankan, semua ditolaknya dengan alasan ingin fokus dan terlanjur cinta dengan tempatnya melatih terdahulu, di kampus dan level SMA. Ha ha ha… beberapa teman pelatih sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat bagaimana bersahajanya pelatih yang satu ini.

“Dia berat meninggalkan ikan louhan-nya, Pi” kelakar Audy Pahala pada saya. Coach Audy atau kondangnya Bang Jack, (sahabat coach Ary, adalah pelatih basket senior asal Tanggerang, Banten) yang sudah melanglang buana melatih kemana-mana dan baru-baru ini berhasil membantu tim 3X3 Putri Sumatera Barat lolos ke PON di Papua nanti.

Kejadian ini lantas menarik rasa ingin tahu LATIHANBASKET.COM dan ingin segera menuliskan meski hanya secuplik kisah tentang coach Ary. Berprestasi di Surabaya dan Jawa Timur yang adalah salah satu panggung utama basket nasional tidaklah mudah, lalu apa yang bisa membuat pelatih bertangan dingin ini bisa konsisten melahirkan tim dan pemain yang berkualitas, berikut ini hasil wawancara LATIHANBASKET.COM dengan coach Ari, yang mungkin bisa diteladani rekan pelatih muda dan anak-anak basket tanah air.

Pertama, menurut coach Ary adalah menumbuhkan kecintaan dan komitmen anak-anak asuhnya untuk berlatih. “Bukan hanya cinta basket”, katanya. “Banyak anak yang cinta basket tapi buktinya malas berlatih. Ini tidak benar. Jadi yang harus ditumbuhkan adalah komitmen dan kecintaan berlatih basket” ujarnya mantap.

Kedua, footwork adalah landasan bermain basket terpenting. Durasi terbanyak berlatih basket dengan coach Ary adalah latihan untuk kaki dan pergerakan. Setelah yakin kaki anak-anak didiknya kokoh, seimbang, lincah dan cepat, skill yang lain akan jauh lebih baik dan maksimal dibanding jika footwork mereka jelek. Semua latihan skill mubazir saja jika dasar footwork anak-anak belum mapan ujarnya.

Ketiga, repetisi dan adjustmen adalah kata kunci untuk mengembangkan kemampuan technical skill dan tactical skill. Repetisi artinya perulangan latihan lalu setiap perulangan harus membuat anak-anak tampil lebih baik. Kuncinya, adjustment. Penyesuaian dan perbaikan yang diberikan untuk anak-anak ketika berlatih. Di sinilah imbuhnya, perbedaan satu pelatih dengan yang lainnya terletak. Hasil pengamatan yang tajam akan memudahkan pelatih memperbaiki detail-detail penting pada skill anak-anak, jika tidak hanya buang-buang waktu berlatih.

Keempat, fokus. Inilah yang sangat terlihat pada cara pelatihan coach Ary. Fokus pada anak didik, yang membuatnya menolak banyak tawaran klub-klub besar. Ia ingin menuntaskan program pelatihannya dan tidak mau meninggalkan anak-anaknya di tengah-tengah perjalanan. Bukti tanggung jawab dan integritas sebagai pelatih.

Empat hal itu lah yang menjadi aspek utama pelatihan basket sebagaimana disampaikan coach Ary kepada LATIHANBASKET.COM. Obrolan panjang dan bertubi-tubi dengan coach Ary semakin mengesankan saja. Lewat track & scouting yang dilakukan tim riset LATIHANBASKET.COM sebelumnya, kami menilai bahwa dengan konsistensi prestasi, passion dan integritas personalnya, coach Ary yang sejak belasan tahun yang lalu memutuskan untuk menjadi pelatih basket full timer (bukan sekedar pelatih paruh waktu, yang kerja sambilan atau penyaluran hobi, tetapi secara profesional bekerja dan mencari nafkah dengan melatih basket) sangat layak untuk diberikan kesempatan bukan hanya di level daerah Jawa Timur atau nasional, namun juga untuk melatih di Tim Nasional untuk event level internasional.

Hasil pelatihan oleh coach Ary bukan hanya menghasilkan pemain hebat di lapangan tetapi juga di luar lapangan karena ia sangat memperhatikan sejumlah added values, yaitu life skill yang bisa diberikan kepada anak didik lewat proses latihan basket. Pengembangan mental skill, kepercayaan diri, etos kerja keras, respek, kecakapan berkomunikasi dan yang juga penting, filosofi kepelatihan yang selalu dipegang kuat yaitu “membentuk kedewasaan dan kemandirian anak” lewat latihan basket ujarnya.

Ya, bukan hanya pemain hebat, coach satu ini juga telah melahirkan sejumlan pelatih berprestasi misalnya coach muda Dhimas Aniz yang sukses membawa SMAN 2 Surabaya meraih sejumlah prestasi. Coach Dhimas yang akrabnya disapa coach Ublek juga berhasil terpilih menjadi Head Coach tim DBL Allstar yang gemilang pula selama tournya di USA tahun 2019 lalu.

Ada berita menggembirakan kata coach Bayu, salah satu sahabat coach Ary asal Solo, Jawa Tengah, “Kali ini dia mau juga memperluas layanan pelatihan privat untuk anak-anak yang mau mengembangkan skill secara individual.”

ah 002

Ya, pelatih sekelas coach Ary takkan mudah membagi waktu dan tenaganya. Namun kali ini ia bersedia membagikan ilmunya secara privat, yang biar bagaimana akan memberikan hasil berbeda untuk peningkatan skill secara perorangan. Sentuhan tangan dinginnya kontan menarik banyak atensi anak-anak basket dan membuat sejumlah orang tua pebasket kelompok umur berduyun-duyun menghubunginya.

“Kebetulan latihan resmi di kampus dan sekolah belum mulai, saya punya waktu ekstra” jelasnya.

Ya, anak basket Surabaya dan sekitarnya, jangan sia-siakan kesempatan ini ya. Segera saja hubungi coach Ary yang kebetulan bersedia melatih kalian secara intensif dan bahkan mau memberikan nomor kontak pribadinya untuk kalian hubungi.

ah 001

Seandainya saja coach Ary melatih basket 34 tahun yang lalu saat masih bermain, kayaknya akan saya kejar dan minta dilatihnya dah!

Semoga sukses ya coach Aries Herman, jangan lelah membina dan melayani pebasket belia kita.

MENGEMBANGKAN LIFE SKILL PADA PELATIHAN BOLA BASKET

Ketika membaca LTAD (Long Term Athlete Development) untuk Bola Basket di USA, saya terkesan karena sejak dini mereka mengarahkan seluruh pelatih dan semua stakeholder yang terlibat untuik menanamkan pendidikan life skill bagi anak-anak yang berlatih basket sejak dini.  Terbayang betapa luas dan dalam makna pelatihan basket jika hal semacam ini juga kita terapkan ke dalam pelatihan basket kita di Indonesia. Rekan-rekan pelatih basket, berikut ini sebuah karya tulis lama yang pernah saya posting di blog saya bahansekolahminggu.online yang dirasa perlu untuk memperluas wawasan kita bersama, dan MUNGKIN SEKALI UNTUK KITA KEMBANGKAN PULA DALAM PELATIHAN BOLA BASKET.

Selamat membaca.

life skillllll

Dari sudut pandang ilmu pendidikan dikenal istilah “life skill” atau ketrampilan hidup.  Di Amerika Serikat, LeMahieu (1999) dari Department of Education State of Hawaii menyatakan “Enambelas tahun yang lalu publikasi yang berjudul “A Nation at Risk” menyebabkan suatu reformasi pendidikan dan perdebatan multidimensional di AS mengenai masa depan pendidikan di sana.”

Kemudian salah satu hasil dari gelombang reformasi pendidikan tersebut adalah lebih intensifnya pengembangan “life skill”, bahkan kemudian perdebatan dan konsep-konsep yang diajukan tersebut bukan hanya berkembang pesat di AS, namun meluas hingga ke seluruh dunia. Beberapa literatur dan laporan menyebutkan pengembangan konsep tersebut di benua Eropa, Asia,  dan Afrika. Sehingga kemudian PBB lewat UNICEF, WHO dan UNESCO mengembangkan konsep ketrampilan hidup ke dalam berbagai program antara lain kesehatan, kependudukan, dan pendidikan.

Definisi WHO mengenai “life skill” adalah the abilities for adaptive and positive behaviour that enable individuals to deal effectively with the demands and challenges of everyday life“. UNICEF mendefinisikannya sebagai : “a behaviour change or behaviour development approach designed to address a balance of three areas: knowledge, attitude and skills”.  UNICEF, UNESCO dan WHO membuat daftar sepuluh strategi pokok life skill yaitu :

  1. problem solving,
  2. critical thinking,
  3. effective communication skills,
  4. decision-making,
  5. creative thinking,
  6. interpersonal relationship skills,
  7. selfawareness building skills,
  8. empathy, 
  9. coping with stress and
  10. coping with emotions.

Self-awareness, self-esteem dan self-confidence adalah hal yang penting untuk mengerti kekuatan dan kelemahan seseorang.

Townson (2004) menyebutkan bahwa “life skill” pada setiap orang itu berbeda-beda, pengertian life skill menurutnya yaitu pengetahuan dan kemampuan yang memungkinkan seseorang untuk berfungsi di dalam masyarakat.

Ketrampilan Hidup (Life Skill)

Prianto (2001) bahwa mengungkapkan konsep pendidikan di Indonesia masih mengajarkan ‘kulit arinya’ saja. Artinya, murid hanya disodori setumpuk materi tanpa menyentuh kebutuhan yang lebih dalam dari seorang anak. Menurut Rose, hakekat belajar lebih sering diterjemahkan sebagai mengejar nilai, NEM atau ranking saja tanpa memperhatikan mutu, tingkah laku dan perkembangan pribadi anak. Kurikulum yang ada saat ini nampaknya belum mampu menemukan esensi pendidikan serta membantu mengembang kreativitas anak. Pemenuhan hak-hak anak seringkali juga tidak terpenuhi pada kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat. Ambil contoh, hak bermain dan berekreasi mereka terganggu oleh jadwal sekolah yang padat, kurikulum yang melampaui beban, ataupun jadwal kursus yang bertubitubi harus dihadapi oleh seorang anak. Pendidikan dalam kondisi ini sarat diartikan untuk menjejali anak dengan pengetahuan sebanyak-banyaknya bukannya pada pengembangan anak akan pengetahuan esensial yang penting bagi kehidupan.

Sujono Jachja, Wakil Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak mengatakan dalam artikel Majalah Suar, Nopember 2001 sebenarnya masalah-masalah kesejahteraan anak dan hak anak atas pendidikan sudah dibicarakan mendalam. Ini mengingat Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi mensyaratkan bahwa setiap anak harus mendapatkan hak-haknya termasuk untuk pendidikan dasar. Namun demikian, Sujono melihat, secara realistis boleh jadi pemerintah mengalami kesulitan untuk memberikan perhatian kepada sekitar 45 juta anak, yaitu mereka yang berusia di bawah 18 tahun dan belum menikah, yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. “Sebagai negara yang telah meratifikasi Konvensi Internasional, pemerintah hendaknya melakukan upaya-upaya bertahap agar implementasi dari instrumen-instrumen hak asasi manusia dapat dilakukan,” jelasnya. Ditanya soal tanggung jawab untuk dapat dipenuhinya wajib belajar pendidikan dasar, Sujono Jachja mengatakan pendidikan dasar yang dimaksud bukan sekedar compulsory atau wajib belajar di sekolah, tetapi pendidikan pokok yang tidak hanya dilakukan oleh pemerintah dan wajib ditanggung pemerintah. Menurutnya, masyarakat juga dapat mengawali dan melakukannya. “Yang meski kita lakukan adalah universal education. Artinya, pendidikan itu dapat dinikmati oleh semua anak di semua tempat,” papar Sujono. Sementara itu, Saparinah Sadli, wakil ketua Komnas HAM menekankan, pendidikan formal bukanlah alternatif satu-satunya untuk melakukan proses belajar. Dikatakan, masalah kesempatan untuk memenuhi hak atas pendidikan idealnya memang tidak hanya diartikan secara sempit sebagai bersekolah (formal). “Apabila sumber daya di lingkungan sekitarnya tidak memadai, maka dapat dilakukan pendidikan alternatif dengan menggunakan sumber daya yang ada. Institusi agama dan adat dapat juga melakukan upaya-upaya pendidikan bagi anak-anak,” ujarnya. Saparinah Sadli menambahkan masyarakat dapat mencoba memberikan atau memenuhi pendidikan anak walaupun tidak dalam bentuknya yang formal dan berdasarkan kurikulum. Yang lebih penting, katanya, adanya sebuah kegiatan yang substansi dan bentuknya dalam arti luas dari pendidikan yaitu menyampaikan kepada anak tentang informasi atau ajaran yang dapat mengembangkan anak yang bersangkutan.

Dengan demikian diharapkan anak dapat mengenal dan mengerti apa yang perlu dia pahami pada usianya sebagai anak yang merupakan bagian dari suatu komunitas. “Lingkungan dan komunitas seringkali memiliki kegiatan yang disesuaikan dengan apa yang tersedia, apakah dana, orang atau gurunya. Setiap komunitas dapat berbuat sesuatu untuk anak-anak dan masa depannya,” tambahnya.

Sejalan dengan berbagai kondisi di Indonesia belakangan ini, saya yakin bahwa pelatihan bola basket yang tertata, mampu memberikan sumbangsih dalam dunia pendidikan terutama untuk pengembangan karakter selain dari yang diberikan di sekolah.

Menurut Minnesota Department of Children, Families, and Learning (1997) dalam Sims (1998), “Students are learning both to learn and to work. Learning and working are becoming synonyms. Both require practice, guidance, and support.”  The Minnesota Department of Children, Families, and Learning memberikan definisi bekerja sebagai suatu usaha produktif yang meliputi baik pekerjaan yang dibayar dan yang tidak dibayar seperti menjadi pelajar, melaksanakan kerja sebagai orang tua, mengurus rumah, mengerjakan hobi, atau pelayanan kerja sukarela.  Pekerjaan dalam kehidupan merujuk pada kegiatan bekerja sepanjang masa hidup dan bagaimana pekerjaan tersebut dikembangkan dan diselesaikan melalui pengalaman belajar yang direncanakan maupun tidak direncanakan.

Sims (1998) kemudian menyimpulkan bahwa : “It is clear that schools alone cannot prepare youth for their life work. To instill the capabilities of work/life skills in young people, public agencies, organizations, employers, communities, parents, and the school system must work together.”

Di AS dikembangkan suatu program berskala nasional untuk mengembangkan life skill, disebut dengan 4-H, yaitu program pengembangan pendidikan dari University of Illinois Extension. Program ini terdiri dari serangkaian delivery modes dimana pemuda belajar dalam setting grup atau dari dirinya sendiri. Seorang tuan rumah yang memandu aktivitas memperkaya program ini dengan sejumlah pengalaman.

Apa komponen utama dari life skills? World Health Organisation (WHO) mengkategorikannya ke dalam tiga komponen :

a)       Ketrampilan berpikir kritis/ ketrampilan membuat keputusan termasuk ketrampilan pemecahan masalah dan pengumpulan informasi. Seseorang harus berketrampilan mengevaluasi konsekuensi masa depan atas tindakannya dan tindakan orang lain terhadapnya saat ini. Mereka perlu kemampuan untuk menentukan alternatif pemecahan masalah untuk menganalisis pengaruh dari nilai-nilai mereka dan bagi nilai orang-orang di sekitar mereka.

b)      Ketrampilan interpersonal/ komunikasi– mencakup komunikasi verbal dan non verbal, mendengar secara aktif, kemampuan mengekspresikan perasaan dan memberikan umpan balik. Juga termasuk dalam kategori ini yaitu kemampuan bernegosiasi/ menolak dan dan ketrampilan bersikap tegas yang secara langsung berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk mengelola konflik. Empati, yang merupakan kemampuan untuk mendengar dan mengerti kebutuhan orang lain, juga merupakan kunci bagi ketrampilan interpersonal. Termasuk juga di dalamnya kerjasama dalam tim dan kemampuan bekerjasama, kemampuan menyatakan hormat bagi orang-orang di sekitarnya. Pengembangan ketrampilan ini memberikan kemampuan bagi anak untuk beradaptasi dalam masyarakat. Ketrampilan-ketrampilan ini memberikan hasil dalam situasi penerimaan norma-norma sosial yang menjadi dasar perilaku sosial orang dewasa.

c)       Ketrampilan penanganan (Coping) dan manajemen diri merujuk pada ketrampilan-ketrampilan yang meningkatkan kontrol dari dalam diri, sehingga orang itu yakinn bahwa ia mampu membuat perubahan dan mempengaruhi perubahan itu. Self esteem, self-awareness, dan ketrampilan self-evaluation dan kemampuan untuk menetapkan tujuan juga merupakan bagian dari kategori umum dari ketrampilan memanaje diri  (self-management skills). Anger, grief and anxiety must all be dealt with, and the individual learns to cope loss or trauma. Stress and time management are key, as are positive thinking and relaxation techniques.

LeMahieu (1999) melaporkan bahwa hasil-hasil penelitian menunjukkan beberapa manfaat dari  Life Skills-Based Education yaitu: berkurangnya perilaku kekerasan; meningkatnya perilaku pro-sosial yang positif dan yang negatif berkurang; berkurangnya perilaku merusak diri sendiri; meningkatnya kemampuan membuat perencanaan masa depan dan memilih solusi atas permasalahan yang dihadapi; meningkatnya citra diri, kesadaran diri, kemampuan penyesuaian sosial; meningkatnya perolehan pengetahuan; membaiknya perilaku di dalam kelas; kemajuan dalam hal kontrol diri dan penanganan masalah-masalah inter-personal dan coping kecemasan; meningkatnya pemecahan masalah dengan rekan sebaya. Penelitian juga telah membuktikan bahwa sex education yang didasarkan pada life skill memberikan hasil berupa perubahan yang lebih efektif dalam penggunaan kontrasespsi bagi remaja; penundaan aktivitas pengalaman seksual pertama; penundaan penggunaan alkohol dan marijuana serta pengembangan sikap dan perilaku yang diperlukan menghadapi penyebaran HIV/AIDS.

Beberapa landasan teoretik yang berkaitan dengan konsep life skill yang digunakan dalam penelitian  ini berhubungan dengan Contextual Learning.

Contextual learning atau pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang dekat dengan pengalaman aktual. Pembelajaran kontekstual adalah suatu konsepsi yang membantu guru untuk menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk menghubungkan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka baik sebagai anggota keluarga, warga negara atau pekerja serta mengaitkannya dengan kebutuhan yang diperlukan dalam belajar.(Blanchard, 1991).

Menurut Simpson, (1992) dalam teori pembelajaran kontekstual, pembelajaran terjadi hanya apabila siswa (pembelajar) memproses informasi baru atau pengetahuan dengan suatu cara yang masuk akal menurut kerangka pikirnya sendiri (keadaan dalam dunianya sendiri, pengalaman atau tanggapan). Pendekatan pembelajaran kontekstual  terhadap belajar dan mengajar  menganggap bahwa pada dasarnya pikiran mencari suatu makna dalam suatu konteks—yaitu, dalam hubungannya dengan lingkungan sekarang darinya.—dan ini terjadi seperti itu dengan mencari hubungan-hubungan yang dapat diterima (masuk akal) dan kemudian dipahami bahwa ternyata hal itu berguna.

Beberapa hal yang menjadi karakter pembelajaran kontekstual menurutnya yaitu  yaitu :

a)      Menitikberatkan pada pemacahan masalah

b)      Diorganisasikan dengan keadaan dunia sekeliling

c)      Memungkinkan berbagai variasi sumber belajar

d)     Lebih mendorong terlaksananya pembelajaran di luar kelas

e)      Menghargai pengalaman belajar siswa dalam proses pembelajaran

f)       Mendorong adanya pembelajaran kolaboratif

Sedangkan model yang dijadikan dalam penyusunan model, yang juga menjadi salah satu acuan dalam meneliti kebutuhan anak jalan terhadap life skill  tertentu adalah model TLS atau Targeting Life Skill yang dikembangkan oleh Hendricks dan tim Iowa State University Extention.

Menurut Hendricks (1996) dalam Sims (1998), perkembangan pemuda adalah suatu proses mental, fisik dan pertumbuhan sosial selama suatu masa dimana para pemuda dipersiapkan untuk hidup secara produktif dan memuaskan dalam kebiasaan dan peraturan masyarakat.

Hendricks mendefinisikan life skill sebagai skill yang membantu seorang individu agar sukses dalam hidup yang produktif dan memberikan kepuasan. Hendricks mengembangkan Targeting Life Skills (TLS) model pada gambar di bawah.

TargetingLifeSkills

 

Gambar 1. Model Targeting Life Skills (TLS).

Dalam model TLS ini, kategori life skill dibagi berdasarkan model 4H: yaitu Head (kepala, terdiri dari managing dan  thinking), Heart (hati, terdiri dari relating  dan caring), Hands (tangan, terdiri dari giving dan  working), dan Health (kesehatan, terdiri dari living  dan  being).

Dengan model TLS, perencana program dapat membantu pemuda untuk mencapai potensinya melalui pendekatan positif terhadap pengembangan life skill, penyampaian informasi dan latihan skill yang sesuai tingkat perkembangan, menuliskannya dengan spesifik, tujuan penghembangan life skill yang terukur, melengkapi rencana instruksional yang memberikan pengalaman berdasarkan teori belajar berpengalamanuntuk mencapai life skill dan mengidentifikasi indikator perubahan yang terukur juga untuk mengevaluasi pengaruh progam.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa pengembangan life skill memungkinkan sekali untuk diterapkan pada proses pelatihan bola basket.

Semua unsur life skill dapat kita kembangkan di latihan rutin maupun pertandingan. Jika ini kita laksanakan, maka proses pelatihan basket kita akan menjadi lebih bermakna secara lebih luas, bukan hanya untuk di lapangan tapi jauh merambah keseharianan anak-anak basket kita di tempat lainnya.

Bukan hanya pada saat anak-anak basket kita bermain basket, tapi jauh melampaui masa-masa ketika mereka bermain basket. Jika lewat latihan basket kita bisa mengembangkan self awareness, self concept, self esteem hingga self confidence dan self efficacy, mengembangkan kemampuan negosiasi, menguatkan kemampuan mereka untuk mengatasi stressor, mampu mengendalikan emosi, berpikir kritis dan kreatif, cepat dan tepat mengambil keputusan, mampu berkomunikasi secara efektif, memiliki empati,  mau bekerja keras, trampil membangun skill yang dibutuhkannya, bukan kah itu semua sangat memungkinkan untuk diterapkan?

Salah satu perolehan penting juga saya dapatkan dari sebuah webinar yang diadakan Perbasi Kota Makassar oleh coach Jerry Lolowang yang mengajar tentang penerapan PCC (Player’s Code of Conduct) yang menganjurkan untuk menanamkan kultur hidup yang sehat dan bermartabat bagi para atlet basket yang kita bina, berlaku di dalam dan di luar lapangan.

Tak lama kemudian pemahaman saya diperkuat lagi dengan sejumlah materi yang disampaikan oleh beberapa pelatih FIBA dari Australia yang ternyata juga sangat menekankan pembembangan karakter ketika melatih para pemain usia dini.

Hal semacam ini pula yang dianjurkan oleh coach Ricky dari Jawa Barat. Pada seminarnya, ia lebih dulu mengajarkan pembentukan karakter sebelum memberikan materi teknis. Menyiratkan bahwa pengembangan karakter adalah sesuatu yang terlalu berharga jika kita abaikan ketika kita memiliki privilese sebagai pelatih basket.

Mari kita mulai saja dari sekarang, selamat mencoba ya teman-teman pelatih semuanya. Semoga sukses.

Resume Tugas Karya Tulis a.n. Mos F.  dan dari berbagai sumber

Belajar dari Coach Ocky Tamtelahitu, “Bertahan Atau Menyerang?”

Berikut ini tulisan yang dicuplik dari https://ockytamtelahitu.wordpress.com/ dengan seijin pemiliknya yaitu coach Ocky Tamtelahitu, ya benar the “Coach Ocky Tamtelahitu” yang saat ini memegang tim IBL Pelita Jaya. Beliau adalah salah satu nama besar di kancah bola basket Indonesia, yang ternyata juga trampil dan punya semangat menulis. (Ah seandainya saja pelatih-pelatih senior kita yang lain seperti ini juga, pasti besar pengaruhnya).

Mulai dari tim NBL, IBL, timnas, dll sudah pernah sukses oleh sentuhan tangan dinginnya. Pengetahuan, pengalaman dan instinknya sudah teruji. Bahkan di antara teman-teman pelatih angkatan lebih muda yang saat ini memegang tim profesional dan tim PON daerah yang basketnya papan atas pun mengakui “level berbeda” pelatih berdarah Ambon ini. “Beliau seperti mentor yang tidak tahu bahwa saya menjadikannya sebagai mentor” kata salah satu teman pelatih. Pelatih lainnya menyebutkan, “Sejak awal mula melatih dulu, diam-diam saya suka mengikuti cara beliau melatih, detailnya dan pengetahuannya itu lho yang bukan main”. Pelatih senior dari daerah lain yang juga beberapa kali membawa timnas Indonesia segera menimpali “Siapa dulu bapaknya? ha ha ha…”  

Ya, coach Ocky adalah putra dari Oom Ekky Tamtelahitu, tokoh senior bola basket nasional kita yang sangat dihormati dan banyak menghasilkan tokoh basket berikutnya. Saya sendiri pernah mengikuti penataran beliau pada tahun 1986 dan tahun 1990. Ketika itu beliau mengajar teknik bermain basket dan kepelatihan bersama almarhum Oom Bob yang membawakan materi perwasitan. Ya, saat itu untuk menjadi pelatih kita juga harus mendapatkan materi perwasitan lengkap.

Ulasan tentang riwayat coach Ocky akan panjang, sekarang kita ikuti saja beberapa pemikirannya lewat beberapa tulisan yang nanti secara berseri akan disajikan di LATIHANBASKET.COM.  Terimakasih coach Ocky.

Ocky Tamtelahitu Our Head Coach Coach Of The Year NBL Indonesia Season 2014-2015
Ocky Tamtelahitu, Head Coach Coach Of The Year NBL Indonesia Season 2014-2015

 

“Bertahan Atau Menyerang?”

Oleh Coach Ochy Tamtelahitu

Sebuah sore 28 tahun lalu, saya berjalan menuju lapangan basket di depan rumah Omboh di IKPN.  Sambil dribble2 di jalanan berharap tidak akan turun hujan. Begitu sampai di lapangan, belum ada satu orang pun dari teman2 saya yang kelihatan. Yang ada hanya ring basket, lapangan kering tidak becek dan bola basket (Super-K) yang saya bawa dari rumah.

Mulailah aktifitas harian saat itu, dribbling segala macam gaya, passing-passing ke tembok masjid persis di samping lapangan basket (Akhirnya sekarang pak RT tahu siapa yang bikin kotor tembok masjid). Dan yang paling penting buat saya di Bolabasket sampai hari ini, latihan shooting-shooting sampai teman yang lainnya datang.

Naturnya

Memang saya pikir sudah dari sananya kalau orang main basket pasti maunya memegang bola, menggiringnya dan memasukannya ke dalam keranjang. Kalau tidak pegang bola pasti maunya minta bola terus. Berlari kencang dalam serangan cepat untuk meminta bola dan lagi-lagi ingin memasukannya supaya angka tercipta, sangat menyenangkan. Lari sprint untuk balik bertahan? Kapan-kapan deh, Coach..

Saya ingat tidak ada (kalau ada pun pasti tidak kelihatan) pemain basket yang saat berlatih sendirian, mau melakukan latihan (tambahan) untuk bertahan atau defense. Kenyataannya kecil sekali kemungkinannya. Apalagi pemain muda yang baru senang-senangnya bermain basket.

Lalu apa yang akan dia lakukan sendirian dalam hubungannya dengan permainan Bolabasket? Pegang bola, dribbling dan shooting. Passing pun menjadi pilihan alamiah yang akhir-akhir, apalagi melakukan yang berhubungan dengan bertahan dalam Bolabasket. Bontot..

Sudah menjadi naturnya dalam olahraga ini kalau bermain basket itu adalah melesakkan bola ke dalam simpai dan lewat jaring. Menyerang! Betul sekali, naturalnya Bolabasket sangat didominasi oleh keinginan untuk menyerang. Ini berlaku buat si pemain dan juga buat penonton (penggemar).

Pemain Terbaik Dunia

Tiga pemain terbaik yang tidak bisa diperdebatkan siapa yang nomer satu. Michael Jordan, Magic johnson dan Larry Bird. Apa mereka pemain bertahan terbaik juga? Iya! Mungkin? Hmm.. Iya mungkin kali ya?!?!

Hey, siapa yang peduli! Yang sejarah tahu adalah tiga pemain super ini bisa mencetak angka seenak jidad mereka. Shooting, dribbling dan passing tiga pemain  ini jauh di atas  manusia kebanyakan yang jago main basket.

Dari 50 pemain terbaik NBA, hanya tiga pemain yang rataan angkanya dibawah 15 pts/game. Dan mungkin hanya 3 orang juga yang lebih disegani dari kemampuan mereka bertahan (Bill Russel, Dave DeBusschere, dan Nate Thurmond).

Saya juga tidak bisa ingat siapa first pick NBA yang disegani dari kemampuan bertahannya. Semua pemain top pasti disegani dan dibayar mahal karena kemampuan mereka menyerang mencetak angka. Kemampuan mereka membawa kemenangan? Hehe, nanti dulu..

Dijitak Kenyataan

Michael Jordan masuk jajaran puncak peraihan angka di NBA begitu dia terjun di liga itu tahun musim 1984-1985. Jordan urutan 3 dengan 28.2 ppg, di bawah New York’s Bernard King 32.9 ppg  dan Boston’s Larry Bird 28.7 ppg. Timnya juara? Tidak, bos..! Malahan King (NY) tidak masuk final..

Michael dan Bulls-nya baru merasakan juara tahun musim 1990-1991. Setelah dapat dukungan dari pelatih (Jackson) dan pemain bertahan yang cerdik. Ini saya ingat sekali bagaimana Scotty Pippen menghentikan permainan Lakers di final game 5. Penjagaannya membuat point guard Los Angeles kusut ngisup-ngisup.

Gak mungkin saya lupa, nonton bareng rame-rame satu tim (Pelita Jaya) di mess jalan Erlangga Senopati. Tapi tentu tidak ada juga yang ingat apa yang dilakukan Pips saat itu, pasti Jordan dunks dan jumper (Offense) di ingatan orang-orang kebanyakan.

Kita tunggu apa yang akan terjadi dengan Lebron James, tanpa harus mengingat T.Mac yang menjadi top scorer paling puncak di musim 2002-2003 tapi timnya bonyok di awal play offs. kenyataannya pertahanan selalu menolong tim yang menangan. Bener gak sih nih? Hehe.. Yang ini saya tidak mau cek ulang lagi sejarahnya, saya harap saya salah.

Jejeg Rem Atau Betot Gas?

Mau secanggih apapun mesinnya (L. James – Desmosedici), tetap  memerlukan pengereman atau deselerasi yang baik. Pakai sistem pengereman yang canggih (D. Mutombo – Brembo) pasti perlu power buat akselerasi lagi. Wew, keterusan nih motornya.. (Eh, geber2 motor di IKPN juga dimarahin pak RT!) Tidak salah lah pokoknya yang taruhan pegang C. Stoner di Phillip Island kemarin. Betot gas terus  dia (dengan Desmosedici-nya) dari lap awal sampai akhir di seri GP Australia. Sementara V. Rossi beberapa kali mencoba teknik andalan dia (late breaking) untuk menyusul rider Ducati ini kerap gagal. Pengereman dan akselerasi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Langsung basket lagi yuks; Salah juga nih saya pikir kalau mau mengalahkan tim papan atas kobatama saat 2007 lalu. Bisa apa tidak ya? Bagaimana bisa dalam waktu satu musim meningkatkan offensive rating supaya dapat melampaui pencapaian PIMNAD dan Stadium?

Setelah hanya mencapai peringkat tiga di turnamen kobatama, seperti ada yang jitak ni kepala. Kaget dan sadar tiba-tiba, ngapain juga kita harus memaksa diri meningkatkan rating penyerangan (angka yang diciptakan tiap satu serangan = poin dibagi jumlah serangan) untuk mengalahkan pesaing kita?

Coba tingkatkan pertahanan (menekan turun rating serangan lawan), pikir saya. Dengan ini nantinya kita bisa bersaing apa tidak di kompetisi? Dari sini latihan di fokuskan sedikit lebih banyak di pertahanan. Pendeknya Hangtuah juara saat itu bukan karena pemainnya tambah jago dalam waktu tidak lebih dari satu tahun. Tapi karena lawan kita di final tidak mampu menampilkan rataan rating serangannya yang sesungguhnya. Pakem nih remnya..

HT tetap belum bisa (beda mesinnya) menyamai rataan serangan pesaingnya saat itu. Tapi tim yang dipimpin Cungkring dan Mayong sukses menekan rataan rating serangan lawannya. Sederhana sekali. Mana ya yang lebih baik tim bertahan apa tim menyerang di Bolabasket?

Steve, petinggi Bolabasket di Universitas Pelita Harapan, pernah bertanya pada saya saat wawancara calon pelatih di kampusnya.  Bagaimana kamu membagi persentase latihan pertahanan dan menyerang?

Jawab saya, di awal saya akan terapkan 60% latihan defense dan 40% offense. Seiring waktu berjalan dan pengamatan rating pertahanan tim, pada titik yang diharapkan dan ditentukan, latihan menjadi 50%-50% bertahan dan menyerang. Lalu lanjut lagi pada situasi spesifik di musim pertandingan. Mencermati fluktuasi penampilan pertahanan tim dan juga serangannya, sesuaikan dari situ.

Kenapa Bertahan menjadi utamanya latihan di awal? Karena sudah naturnya manusia main basket itu maunya nyerang. Jadi penambahan pasti juga akan terjadi saat pemain berlatih sendiri (Ingat sebuah sore di IKPN?). Hingga akan lebih baik kalau di awal kita tingkatkan dulu kemampuan dan kemauan bertahannya.

Lagi pula saat kita sedang “bau” di serangan (tidak mampu bikin angka pada rentang waktu tertentu di pertandingan), shooting tidak masuk, turn over terus, dsb. Masakan kita mau lawan kita dengan seenaknya mencobloskan bola ke keranjang kita? “Kalau memang offense yang memenangkan pertandingan, pasti diperlukan defense yang baik untuk memulainya..”

 

(Berikut ini sebuah tulisan lain dari coach Ocky yang saya muat jadi satu posting, Admin).

Defense: Tekan FG% Atau Batasi FGA Lawan?

Aspac vs Pelita Jaya..  (Fiba Livestats)

Pagi tadi bangun langsung terdengar #thatPOWER (Will.i.am feat. Justin Bieber) diputar di radio. Belum sadar benar alias nyawa belum pada ngumpul, duduk bengong sambil minum kopi. Begitu kafein masuk ke sistem tubuh saya, segera terpikir apa yang membuat sebuah tim POWERfull? Defense? Mana yang lebih POWERfull? Mematikan FG% lawan atau kita membatasi FGA lawan? Hehe.. Pagi-pagi sudah melamun.

Indiana bisa bersaing di level atas NBA karena penjagaannya yang sangat baik. Buls walau dengan jagoannya sehat waktu itu (D.Rose) tetap terlihat POWERfull karena pertahanan. Spurs dan ini dan itu dan banyak lagi. Pertahanan yang baik. Yup, saya selalu percaya kalau pertahanan harus ditekankan agar supaya kemenangan bisa lebih dekat ke tim kita.

Pelita Jaya vs. Aspac (Fiba Lifestats)

Pada pertandingan lanjutan NBL Indonesia (Solo), game terakhir semalam (ASP 72 – PJ 68) menunjukkannya. Baku tukar basket terjadi dari awal hingga akhir, serangan cepat dan tembakan jauh silih berganti hingga kita lupa siapa yang lebih banyak melakukan serangan, keberhasilan dan percobaannya.

Rating Pertahanan

Dari aspek ini kedua tim melakukan pertahanan yang tidak baik. Aspac defensive rating 0.88 atau memberi Pelita Jaya membuat 0.88 point pada tiap satu kali serangan.  Lebih buruk lagi Pelita Jaya rating 0.93 atau membiarkan Aspac menciptakan 0.93 angka pada tiap serangannya. Keduanya mendapatkan kesempatan (77x) menyerang yang sama dalam game ini.

Persentase Atau Usaha?

Rating pertahanan di atas sangat berhubungan dengan total angka yang diciptakan lawan. “Gamenya bagus kok, angkanya ketat seperti celana dalam, eh..!!! Apanya yang salah hingga ada yang harus kalah?” Ujar para Voices di kepala saya. Nah, pada game yang ketat seperti ini banyak hal kecil yang sering terlewat atau dianggab biasa saja bahkan baik-baik saja. Hingga akumulasi dan pemuncakan semua data baru kita cemberut.

Komentar.. (NBL Indonesia)

Ada beberapa departemen yang ingin saya perhatikan di sini dan hubungannya dengan baik buruk pertahanan. Pertama adalah tinggi rendahnya % keberhasilan tim menembak (FG%) dan jumlah usahanya (FGA). 3FG% dan 3FGA, tinggi rendahnya FT% dan FTA lalu turn over.

FG Aspac  29-77 (38% saja) dan Pelita Jaya 26-64 (41%). Angka di sebelah ini menunjukan kalau PJ menembak lebih baik 3%. Tapi pada game ketat seperti ini apalah artinya lebih baik persentasenya kalau lawan membukukan usaha yang berhasil (made attempt) 3 kali bola masuk lebih banyak pada FGA yang jauh lebih banyak lagi. Dari sini angka Aspac sudah pasti lebih banyak, terlepas lawannya menembak lebih baik.

3FG Aspac 7-24 (29% saja) dan Pelita Jaya 7-16 (44%). Lagi-lagi tim yang bermarkas dekat rumah saya ini menembak lebih baik. Kali ini dari luar garis tiga angka. Ironi adalah Aspac (Yang markasnya jauh dari rumah saya.. HRAAAGH GAK PENTING!!!) melesakkan jumlah bola yang sama dari luar garis tiga angka. Tentu perolehan angka kedua tim dari 3 angka totalnya sama. Ini dicapai Aspac dari 3FGA yang jauh lebih banyak. Dibiarkan menembak?

Komentar.. (NBL Indonesia)

FT Aspac 7-13 (54% saja) dan PJ 9-12 (75%). Betul, sekali lagi Pelita Jaya lebih baik menembaknya banding lawannya dari garis amal. Tetapi lagi, usaha tim yang markasnya.. HADEEEH! Aspac satu FTA lebih banyak. Disiplin menjaga bola, rotasi bantuan penjagaan saat ada tusukan ke dalam?

Dan si Monster yang di bawah tempat tidur saya pun angkat bertanya. “Dari mana segala usaha Aspac yang lebih banyak di atas itu datang? Bukankah kedua tim sama-sama menyerang 77 kali?”

TO Aspac yang hanya 9 banding Pelita Jaya yang 14 memberi keuntungan tersendiri dalam rangka yang sebenarnya membuat percobaan ASP lebih banyak. Dari TO PJ ini mereka mampu merubahnya menjadi 12 angka. Dibantu lagi dengan serangan cepatnya yang membukukan 16 angka. Belum lagi penambahan usaha dari Offensive Rebound Aspac yang 15 kali (PJ 7 saja). Disiplin pertahanan Aspac yang membuat PJ TO lebih banyak, atau? Pertahanan PJ yang lengah dalam melakukan box out tuk memetik def. rebound, atau?

Banyak hal lain yang pastinya juga menyumbang gegap gempitanya pertandingan semalam. Tetapi lagi pertahanan memang sangat harus diperhatikan. Membatalkan sebuah usaha menembak lawan juga sangat penting untuk dilakukan. Kasarnya kalau lawan tidak ada attempt-nya, tentunya tidak akan ada kemungkinan sebuah kulit bundar bisa masuk ke simpai.

Barang pasti persentase menembak yang rendah dari lawan juga menjadi parameter pertahanan yang baik. Namun sekali lagi banyak dari pelaku Bolabasket yang lupa bahwa sebuah usaha yang di gagalkan atau tidak jadi menembak merupakan hal yang tidak bisa dipandang sebelah mata dalam pertahanan. Redam usaha menembak lawan, dan persentase tembakan lawan akan mengurus dirinya sendiri. Batalkan!

Pada saat tertinggal 3 angka di ujung pertandingan, PJ meminta time out dan merancang sebuah inbound yang sangat sempurna dari bawah basket untuk si inbounder (Ari Chandra) menembak 3 angka di pojok kanan. Terbayang kalau usaha ini berhasil. Yah, namanya juga melamuun..

“Melamun markasnya dekat rum..” 

TAAANG!!!

(Kunci Inggris melayang..)

 

Skill Challenge Berhadiah dari Amazartist.com

Skill challenge ini terdiri dari 3 kategori. Pertama untuk anak basket tingkat SD, kedua untuk anak basket tingkat SMP dan ketiga untuk anak basket tingkat SMA. Bagaimana gerakannya bisa dilihat dengan meng-klik di sini SKILL CHALLENGE BERHADIAH DARI AMAZARTIST.COM.

Hadiahnya sangat menarik, yaitu 3 buah hoodie seperti pada foto berikut ini.

Hadiahnya 3 hoodies bertulisan thema basket yang dibuat dari kuit asli dan dijahit langsung ke hoodie-nya. Desainnya unik dan “one of a kind”, artinya kalian tidak akan menemukan produk serupa lainnya. Tali leher pada hoodies ini pun terbuat dari kulit sapi asli berkualitas tinggi.

Ketiga hoodies ini adalah produk dari seorang mantan anak basket, Amazia yang kini berwirausaha dengan memproduksi produk karya seni berbahan dasar kulit asli menjadi aneka bentuk produk mulai tas, dompet, jaket dan lain sebagainya. Profil dan beberapa contoh produk bisa dilihat di blognya, AMAZARTIST.COM atau vhannel youtubenya di AMAZIA ART . Mantan anak basket ini juga menjual karyanya di Tokopedia pada link ini Amazia Art.

Cara mengikuti skill challenge ini mudah, kalian hanya perlu melakukan gerakan sesuai contoh pada video berikut ini:

  1. 235 Latihan Ball Control Activities Stationary Dribbling 1 Ball.
  2. 250 Latihan Ball Control Activities Stationary Dribbling 2 Balls.
  3. 251 Latihan Ball Control Activities Partner Activities.

Ketiga video ini ada pada sebuah playlist berjudul SKILL CHALLENGE BERHADIAH. Silakan klik pada nama link yang di-highlight untuk membuka videonya.

Setelah video kalian selesai, kirimkan videonya ke dm pada akun ig LUKISANMOSES . Kami akan memilih 3 pemenang, satu pemenang untuk masing-masing kategori. Semakin bagus videonya, semakin berpeluang kalian menang. Selain para pemenang, kami juga akan memilih 6 peserta yang mendapatkan souvenir gantungan kunci unik bertulisan LATIHANBASKET.COM. Peserta yang belum beruntung, jangan kecil hati ya, minimal kalian sudah mencoba dan berarti juga meningkatkan skill dribel kalian kan?

Ketika mengirimkan video peserta, berarti kalian berarti juga sudah memberi ijin kami untuk memuat video kalian di akun ig lukisanmoses, amaziaartwork, blog latihanbasket.com, amazartist.com, channel youtube Amazia Art dan channel youtube Coach Moses.

Selamat mencoba, semoga skill dribel kalian meningkat ya.

Coach Moses,

Jadi Point Guard dan Playmaker Andalan

Point Guard, salah satu posisi yang paling didambakan anak-anak basket di manapun. Siapa yang tidak ingin jadi jenderal di lapangan, memimpin tim, disegani lawan manapun, dihormati teman-teman dan dikagumi para penggemarnya?

Pada tulisan kali ini, saya akan coba mengulas topik ini karena banyak sekali pertanyaan mengenai hal ini. Pada tulisan kali ini, juga dilengkapi dengan beberapa video tutorial yang tersedia di link youtube Coach Moses. Bahkan secara khusus baru dibuatkan sebuah playlist yang berisi sejumlah video tutorial khusus untuk membimbing anak-anak basket yang ingin menjadi point guard atau playmaker andalan.

Playlist ini berjudul “LATIHAN KHUSUS POINT GUARD & PLAYMAKER”, silakan klik link tersebut untuk membukanya. Playlist tersebut berisi 26 materi latihan dasar.

Salah satu video dalam playlist tersebut adalah “5 DRILL LATIHAN KHUSUS POINT GUARD PLAYMAKER”, yang berisi petunjuk tentang 5 drill penting untuk menjadi seorang Point Guard (PG) dan Playmaker (PM) andalan.

Ke5 drill itu adalah:

1. Latihan Ball Control & Footwork

InShot_20200512_045402490

Ball control yang mapan harus didukung oleh footwork yang baik dan mapan pula. Itulah tujuan utama drill ini. latihan pendahulu untuk drill ini adalah agility ladder training, penguatan otot inti, ballhandling dan sprint.

2. Latihan Ball Control & One Handed Quick Pass

InShot_20200512_045325296

Passing yang akurat dan cepat adalah hasil akhir yang diharapkan dari drill ini. Seringkali untuk melakukan passing yang cepat memerlukan skill khusus satu tangan yang mau tak mau harus didahului oleh kemampuan ball control yang baik.

Latihan pendahuluan yang diperlukan untuk drill ini adalah ballhandling, baseball pass, push up dan dip up.

3. Latihan One Handed Quick & Power Pass

InShot_20200512_045251288

Drill yang ke3 ini adalah peningkatan dari drill ke2. Penambahan dalam hal kecepatan dan kekuatan. Latihan penguatan otot inti, lengan, bahu, dada dan kaki menjadi kunci keberhasilan latihan ini.

4. Latihan Vision, Coordination & Reaction Time

InShot_20200512_045214833

Setelah sekitar 12 kali latihan untuk menyelesaikan drill 1, 2 dan 3, anak-anak kembali diberikan latihan untuk mempertajam visi, koordinasi gerak dan reaction time. Drill ke4 ini merupakan latihan khusus yang ditujukan pada sistem neuro-muscular. Bola yang digunakan 3 macam, yaitu bola basket, bola tenis dan bola golf (bisa diganti bola pingpong) yang berbeda ukuran, berat dan warnanya.

5. Latihan Vision, Ballhandle & Reaction Time

InShot_20200512_045135126

Pada drill ke5, masih untuk menajamkan visi, biasanya bukan hanya menggunakan 2 bola basket. Pada kelanjutannya menggunakan sampai 3 bola untuk memastikan kapasitas ball feel anak-anak sudah mapan.

Ke5 drill itu berisi latihan skill dasar untuk PGPM. Apakah 5 dril itu sudah cukup, tidak. Drill itu hanya untuk kapasitas skill (agility, balance, speed, coordination, reaction time & power) teknik (dribel, passing, ball control, visi, footwork & movements), mengarah ke pembentukan kualitas teknis dasar terpenting untuk menjadi seorang PGPM.

Apa sih kualitas dasar untuk menjadi seorang PGPM andalan? Kita akan mengupasnya dengan pendekatan 4 komponen prestasi, yaitu fisik, teknik, taktik, dan mental.

  1. Fisik, seorang PGPM minimal harus memiliki endurance yang membuatnya mampu berlari dinamik bercampur gerak main basket selama 4 quarter (60 menit bersih, biasanya jadi 120 menitan kotor), mampu lari sekurangnya 15 km, melompat sekitar 300 kali. Memiliki kekuatan tubuh untuk menahan benturan, melompat dan berebut bola. Memiliki kecepatan dalam melakukan gerakan yang berubah-ubah arah maupun tempo. Memiliki kelenturan, keseimbangan, koordinasi, akurasi, reaksi, dan kelincahan.
  2. Teknik. Seorang PGPM dituntut memiliki teknik dribel dan olah bola yang sangat baik, menguasai aneka jenis passing dan mampu melakukannya dengan kuat, cepat dan akurat, memiliki akurasi shooting dan drive, serta visi bermain yang istimewa.
  3. Strategi. Seorang PGPM tak ubahnya representasi pelatih sendiri. Ia harus menguasai seluruh taktik dan strategi yang diberikan pelatih. Ia dituntut tahu persis gameplan apa yang akan diterapkan pada pertandingan mana, situasi bagaimana dan perubahan-perubahan atau inisiatif apa yang harus dilakukan jika ada masalah di lapangan.
  4. Mental. Otak dan daya pikir adalah aset terbesar seorang atlet, apa pun cabang olahraganya.  Agar daya pikirnya kuat dan senantiasa bekerja dengan baik, harus dimiliki stabilitas mental. Perlu mentalitas khusus agar seorang pebasket memenuhi syarat menjadi PGPM. Dewasa, tenang, tidak mudah panik, marah atau menyesal berlebihan. Tangguh, tidak mudah menyerah, sikap positif, optimis, penuh respek dan sportif, supportif, dan kualitas terlangka yaitu kepemimpinan.  faktor lain yaitu pengalaman dan wawasan, keduanya akan membentuk istilah populer basketball IQ.

Sebegitu beratkah persyaratan untuk menjadi seorang PGPM? Ya, jika mau lengkap ya seperti itulah idealnya. Itulah sebabnya, Point Guard dan Playmaker itu langka.

Dalam pengalaman saya, belum tentu dari 100 anak kita bisa dapatkan 1 bibit pemain berkarakter point guard dan playmaker ideal.

Faktor terlangka secara teknis adalah visi bermain dan secara mental yaitu kepemimpinan dan basketball IQ.  Itulah sebabnya, dalam melatih saya selalu memasukkan aspek visi bermain sebagai latihan fundamental. Sedangkan kepemipinan? Itu seperti pertanyaan retorik tentang pemimpin, “Apakah pemimpin dilahirkan atau dibentuk?”

Nature or nurture? Pendapat saya, kombinasi antara keduanya. Tidak bisa semata-mata nature dan tidak hanya nurture. Sulit sekali untuk bisa menemukan kembali kualitas point guard dan playmaker seperti Mario Wuysang atau Dimas Muharri. Uniknya lagi, point guard yang baik hanya bisa dilatih oleh seorang point guard yang baik pula, ha ha ha… bukannya tidak bisa sama sekali, tapi lihat saja anak didik seorang mantan shooter, bagaimana kualitas shooting anak didiknya dibanding pemain yang dilatih bukan shooter. Jika point guard playmaker dilatih oleh seorang point guard pula, ada aspek-aspek yang memang hanya dipahami dan diajarkan oleh seorang point guard sendiri. Baik sekali jika Mario Wuysang mau turun melatih seperti halnya Dimas Muharri dengan DBL Academy-nya. Semoga saja.

Kesulitan melatih PGPM bukan hanya teknis, tapi terletak pada pemberian minute play yang cukup untuk pemula. Karena vitalnya peran point guard dalam pertandingan, riskan juga bagi pelatih untuk memasang PGPM minim pengalaman pada pertandingan penting penuh pressure, sedangkan situasi semacam itulah yang paling diperlukan untuk pematangannya. Memang pelatih perlu keberanian untuk mematangkan pemain mudanya.

Sekian dulu, terimakasih.

 

 

 

 

 

Drill Kerjasama Berdua, Penerapannya pada Latihan

Salam jumpa lagi abas2 & coaches, semoga sehat sejahtera semuanya.

Drill Kerjasama Berdua (Terapan pada Latihan).mp4_000351051

Lihat gambar di atas? Ya, itu caption dari sebuah video skema gerakan drill. Nah, skema itulah yang akan kita bahas penerapannya pada latihan yang sesungguhnya.

Drill Kerjasama Berdua (Terapan pada Latihan).mp4_000000133

Kali ini kita akan membahas terapan pada latihan untuk:

Pertama,   “DRILL KERJASAMA BERDUA (Terapan pada Latihan)”  yang ada di channel youtube Coach Moses (silakan klik pada link untuk membukanya).

Kedua, Latihan itu menerapkan sebuah skema drill, yaitu skema “DRILL KERJASAMA BERDUA” yang terdapat pada playlist “SKEMA DRILL LATIHAN BASKET”.

Penerapannya pada latihan sangat mudah. Tinggal ikuti saja:

  1. Skema gerakan drill.
  2. Detail gerakan pemain.

Skema gerakan bisa dilihat pada video pertama (silakan klik pada link yang di-highlight) sedangkan detail gerakan bisa dilihat pada video berikut ini:

  1. Latihan 008. Drill Offense Post Moves
  2. 020. Latihan on ball screens 2 lawan 2
  3. 016. Latihan Gerakan Low Post “Inside Pivot” Menghadap Basket
  4. 015. Latihan Gerakan Low Post “Drop Step”

Atau bisa ditambahkan gerakan lain yang ingin dilatihkan pada drill tersebut. Ada baiknya video-video latihan berdurasi singkat yang telah disediakan oleh FIBA dan WABC ini diunduh dulu lalu dibagikan kepada anak-anak beberapa hari sebelum latihan dimulai.

Dengan demikian, kita sudah menerapkan yang namanya mental training, latihan imagery, ketika anak-anak mulai mempelajari gerakan lewat video dan membayangkan dirinya sedang melakukan gerakan tersebut di lapangan. ( Ini sebuah referensi bagus tentang mental imagery. Silakan klik untuk membacanya Mental imagery,  Sebuah penelitian oleh Gilang Chairullah, seorang mahasiswa jurusan Keolahragaan di Univ. Tanjungpura Kalimantan Barat. Pada hasil penelitiannya yang berjudul “PENGARUH LATIHAN IMAGERY TERHADAP SHOOTING BOLA BASKET PADA PESERTA DIDIK EKSTRAKURIKULER SMAN 7 PONTIANAK”). Percaya saja, latihan akan lebih mudah ketika kita melakukan juga latihan imagery.

Yang perlu dicatat ketika kita melakukan latihan drill ini yaitu sebagai berikut:

Drill Kerjasama Berdua (Terapan pada Latihan).mp4_000014547

1. Lakukan breakdown. Latihan dimulai dulu dengan gerakan 2v0, atau 2 pemain melakukan gerakan offensive berdua tanpa defender dulu, sampaiu mereka lancar melakukannya sesuai prosedur.

Drill Kerjasama Berdua (Terapan pada Latihan).mp4_000030063

2. Setelah anak-anak mulai lancar melakukan gerakan, terapkan latihan 2v2. Tugaskan 2 pemain lain menjadi defender.

Drill Kerjasama Berdua (Terapan pada Latihan).mp4_000069035
 

3. Supaya anak-anak mendapatkan repetisi lebih banyak, lakukan latihan di kedua sisi ring. Berikan latihan ini sekitar 5 kali atau sekitar 2 minggu, sehingga anak-anak benar-benar mampu melakukan detail gerakan dengan benar.

 

Drill Kerjasama Berdua (Terapan pada Latihan).mp4_000103036
 

4. Setelah 2 minggu latihan atau sekitar 5 sesi pertemuan, biasanya anak-anak sudah mahir. Berikutnya tambahkan detail gerakan, baik itu drop step, seal, fakes, atau gerakan lain yang dipandang perlu. Materinya bisa dilihat di playlist  “LATIHAN BASKET LEVEL 1”

 

Drill Kerjasama Berdua (Terapan pada Latihan).mp4_000106039
 

5. Untuk para pemain yang akan dilatih khsus untuk bermain post, bedakan latihan gerakan mereka. Bisa misalnya diberikan teknik gerakan low post moves.

 

Drill Kerjasama Berdua (Terapan pada Latihan).mp4_000217050
 

6. Setelah cukup lancar melakukan drill di posisi low post, pindahkan posisi latihan pada bagian high post. 

 

Drill Kerjasama Berdua (Terapan pada Latihan).mp4_000217050
 

7. Setelah anak-anak cukup lancar melakukan gerakan, berikan alternatif variasi gerakan tambahan. Bebaskan mereka untuk memilih dan memutuskan alternatif gerakan mana yang akan mereka terapkan. Pada saat ini, latihan anak-anak sudah meningkat jauh. Pada level ini mereka berlatih read & react, decision making dan itu semua memerlukan konsentrasi serta rasa percaya diri yang tinggi. Jika mereka berhasil melakukannya pada latihan mereka akan mendapatkan successful experience sehingga memiliki keyakinan tinggi, maka tidak sulit bagi mereka untuk melakukannya pada pertandingan. Pada momen seperti inilan pelatih menerapkan mental training. Kalimat-kalimat penguatan, dorongan, dan pemberi semangat akan sangat besar nilainya bagi anak-anak. 

 

Drill Kerjasama Berdua (Terapan pada Latihan).mp4_000258058
 

8. Kemampuan anak-anak dalam menerima pelajaran baru bervariasi. Jangan buru-buru menambah atau merubah menu latihan. Pastikan semua pemain mampu dulu baru berlanjut. Biar bagaimana, basket adalah permainan tim, belum selesai sebuah latihan drill jika hanya setengah tim yang mampu menerapkan sebuah konsep latihan kerjasama.

 

Drill Kerjasama Berdua (Terapan pada Latihan).mp4_000331064
 

9. Kenapa saya membuat dulu video skema gerakan dan membagikannya beberapa hari sebelum memulai latihan? Hal ini jelas mempersingkat periode latihan yang diperlukan untuk penguasaan sebuah materi latihan. Skema gerakan terlebih diperlukan tatkala latihan yang akan diberikan adalah kerjasama tim. Dan kenapa pula video2 yang disediakan FIBA dan WABC ini sebaiknya disimpan oleh pelatih? Karena dengan adanya video-video tersebut, pelatih sudah bisa menerapkan latihan imagery pada anak-anak. Sangat bermanfaat.

 

Ini saja dulu ulasan tentang beberapa video latihan yang saya sajikan baik di blog http://latihanbasket.com dan pada channel youtube Coach Moses. Semoga bermanfaat.

O ya, teman2, para abas2 dan rekan pelatih, bantu saya ya dengan memberikan umpan balik tentang apa-apa materi latihan yang diperlukan, yang kurang jelas penyampaiannya di video youtube, atau apa saja yang ingin disampaikan ke akun instagram saya @lukisanmoses. Bisa dilihat tuh beberapa display posting instagram saya di sisi kanan atas halaman ini.

Terimakasih.

Basketball Quotes dari coach Bill Russel

Basketball quotes sangat baik untuk menginspirasi para pelatih dan pemain. Tak terhitung seringnya saya mengutip berbagai quotes bagi para pemain saya dan teman-teman pelatih, dan selalu memberikan hasil positif.

Berikut ini seri tulisan tentang 501 quotes, akan diposting satu per satu, semoga bermanfaat.  Kita awali dengan beberapa quote dari Bill Russell.

Bill

“Create unselfishness as the most important team attribute” – Bill Russell

“Menciptakan rasa tidak mementingkan diri sendiri adalah pencapaian terpenting dalam tim”

“Concentration and mental toughness are the margins of victory” – Bill Russell

“Konsentrasi dan ketangguhan mental adalah pembatas dari kejayaan” 

“The most important thing to me is the friends that I’ve made” – Bill Russell

“Hal terpenting bagi saya adalah pertemanan yang telah saya hasilkan”

“The most important measure of how good a game I played was how much better I’d made my teammates play” – Bill Russell

“Ukuran terpenting tentang bagusnya game yang saya mainkan hari ini adalah sebaik apa saya membuat teman setim saya bermain bagus”

“Remember that basketball is a game of habits. If you make the other guy deviate from his habits, you’ve got him” – Bill Russell

“Ingat, basket itu game tentang kebiasaan, kamu berhasil jika bisa membuat lawanmu bermain menyimpang dari kebiasaannya”

“Commitment separates those who live their dreams from those who live their lives regretting the opportunities they have squandered” – Bill Russell

“Komitmen adalah pemisah antara orang yang menghidupkan mimpi-mimpinya dengan orang-orang yang hanya menyesali peluang-peluang yang telah disia-siakan”

“What distinguishes a great player is his presence. When he goes on to the court, his presence dominates the atmosphere” – Bill Russell

“Apa yang menentukan seorang pemain besar adalah kehadirannya, ketika ia ada di lapangan, ia mendominasi atmosfer” 

“The only important statistic is the final score” – Bill Russell

“Satu-satunya statistik terpenting adalah skor akhir”

“The idea is not to block every shot. The idea is to make your opponent believe that you might block every shot” – Bill Russell

“Tujuannya bukan untuk memblok setiap shot, tetapi untuk meyakinkan lawan bahwa kamu mungkin memblok setiap shot”

dikutip dari https://www.basketballforcoaches.com/

Bagaimana, kamu punya quotemu sendiri?

Latihan Fisik Khusus Anak Basket Bareng si Jabrik

Beberapa bagian buku ini diambil dari buku “LATIHAN BASKET” yang sebentar lagi selesai.

hal 61 blog

> Sip, kita mulai aja coach. Tapi saya sambil makan nih ya.

< Iyoo, gak apa. Pertama, kita akan membahas LATIHAN DASAR PEMBENTUKAN FIsIK.  Paling pokok yaitu lari.

> ha ha haaa… ini dia nih, lari lagi lari lagiii…

< Dasar kalian tu Brik, banyak ngeluh kalo disuruh latihan lari ya. Padahal kalo kata pak Ndul tuh, lari itu inti dari inti, core of the core main basket. Mobilitas kalian selama bermain basket tergantung pada kemampuan lari.

> Latihannya bagaimana?

< Paling gampang nih latihannya, ya lari aja. Usahakan kalau bisa di jogging track, supaya impact benturan ke sendi-sendi kaki berkurang dan pernafasanmu terlatih. 6 sesi latihan pertama, materi latihan berlari santai, tapi target jarak 2.400 meter atau 6 kali putaran lapangan bola. Usahakan jangan banyak berhenti atau campur jalan kaki.

> Kalo misalnya larinya di lapangan basket apa bisa coach?

< Bisa aja, tapi sebaiknya di jogging track dulu sampai kaki kalian cukup kuat dan trampil berlari. Ingat, jumlah kelilingnya jadi 30 kali lho ya.

> Setelah 6 kali latihan lari, berikutnya apa coach?

< Larinya joggingnya dicampur sprint. Jadi kalau lapangan bola atau basket tuh kan segi 4, nah separonya harus sprint dan separonya lagi jogging. Latihan begini dilakukan 6 sesi lagi.

> Setelah itu gimana lagi model larinya coach?

< Berikutnya separo sprint, separonya campuran. Lari dinamik, tiru aja cara berlari seperti sedang bermain basket, Ada gerak lari mundur, slide menyisi, ada menyisi lalu lanjut sprint. Tempo atau irama lari berubah-ubah. Kalau larinya di lapangan basket, lebih bagus jika sambil melakukan dribel dengan 1 atau 2 bola. Target sejauh 2.400 meter ini hanya berlaku 3 bulan. Berikutnya target jarak naik jadi 4.000 meter atau 10 kali keliling lapangan bola. Kalo di lapangan basket jadinya 50 kali. 3 bulan berikutnya, berarti 6 bulan setelah mulai latihan lari, semua pemain harus mampu lari 6.400 meter. Itu setara 16 kali keliling lapangan bola atau 80 kali keliling lapangan basket.

> Wah apa kami mampu coach?

< Kalau tidak mampu, berarti tidak mampu main basket 2 quarter dong.

> Ooo gitu ya coach…

< Makanya 9 bulan setelah mulai latihan lari, target kalian dinaikkan lagi jadi 8.800 meter.

> Wah tambah berat lagi?

< Berat? Anak-anak  didikku putri umur 14 – 15 tahun aja mampu lho. Kalian seharusnya juga mampu dan waktu tempuhnya mestinya lebih cepat.

> Supaya bisa lari lebih kencang bagaimana?

< Biasanya supaya sprint kalian lebih kencang, lompatan juga jadi lebih tinggi, kalian perlu latihan penguatan di gym.

Sasaran latihan fisik kalian adalah:

–  endurance

–  flexibility

–  muscular strength

–  muscular endurance

Komposisi tubuh itu juga termasuk physical fitness. Jadi kalian jangan sampai kegemukan ya. Tiap akan memulai saja, kalian harus pemanasan dan stretching dulu. Cukup dengan lari selama 5 menit sambil menggerakkan semua bagian tubuih. Setelah berkeringat, coba hitung denyut nadi kalian.

> Gimana caranya coach?

< Lho kamu kan sudah tahu?

> Iya, tapi pura2 nanya, kan belum tentu teman2 yang baca buku ini sudah tahu coach.

< Ok, begini. Raba aja denyut nadimu di pegelangan tangan atau pangkal leher. Setelah terasa denyutnya, hitung aja jumlah denyutnya selama enam detik. Misalnya kamu dapat 12 denyut dalam 6 detik, berarti saat itu denyut nadi per menit adalah 120. Nah target denyut nadi untuk warm up itu sekitar 50 sampe 60% dari denyut nadi maksimum kamu, yaitu 220 dikurangi umur. Misalnya umur kamu 16, berarti denyut nadi maksimum atau MHR (maximum heart rate) kamu adalah 204. 50%-nya adalah 102 dan 60%-nya 123. Dengan angka dpm 120, berarti pemanasanmu sudah cukup.

> Baik coach, nanti untuk cara perhitungan denyut nadi coach akan ajari secara khusus kan?

< Ya karena ini penting. Kontrol intensitas latihan, penentuan zona latihan semua mengacu ke perhitungan denyut nadi kalian. Berikutnya kamu harus meregangkan tubuh untuk pelenturan.

Kalo stretching jangan buru-buru diregang dengan maksimal ya, Selow aja, dan sama sekali tidak boleh dipaksa.  Gerakan-gerakan ini berguna untuk:

–  meningkatkan aliran darah ke bagian otot dan persendian yang bekerja.

–  mengurangi resiko dedera.

–  mengurangi ketegangan.

–  meningkatkan performa latihan

–  menambah flexibility

Contoh gerakannya seperti di foto berikut ini ya.

 

hal 66 blog

 

hal 67 blog

 

hal 68 blog

 

hal 69 blog

 

hal 70 blog

 

hal 71 blog

 

Sip. Jelas coach. Jadi semua ada 12 gerakan untuk latihan flexibility ya.

< Sebetulnya bukan itu aja, masih ada beberapa macam2 gerakan lain tapi yang standar 12 itu.  Berikutnya kita akan melatih kekuatan. Latihan yang satu ini harus hati2 lho ya.

> Kenapa coach?

< Bahaya kalo ngawur. Bukannya membaik, anak2 malah bisa menurun permainannya jika salah hitung atau keliru penerapan.

> Wah, nah ini saya perlu tahu. Gimana caranya. Sulit ya coach?

< Tidak sulit, lagi-lagi asal asal si coach mau bertanya saja. Minta bantuan instruktur yang pengalaman atau pelatih yang sering melaksanakan latihan kekuatan.

> Kalo dari youtube bisa juga kan?

< Bisa, tapi juga harus direcheck, tahu persis alasannya dan resiko2nya. Kalo kita nanya ke orangnya langsung, kan lebih baik karena bisa ada komunikasi lebih mendalam.

> Iya betul juga. Nah latihan kita ini namanya apa sih?

< Latihan kekuatan atau strength training, tujuannya menambah kekuatan otot, bukan semata memperbesar otot. Tahapannya ada 3, pertama maximum strength, kedua elastic strength dan ketiga, strength endurance.

> Yaaah si coach pake bahasa sulit lagi.

< Meningkatkan maximum strength atau kekuatan maksimum itu gampangnya ya kalo dulu kamu cuman bisa ngangkat beban 80 kilogram, berikutnya nanti bisa 100 kg, misalnya tuh. Tapi kan biasanya kalo kita melatih satu macam kapasitas fisik, kapasitas fisik yang lain berubah juga. Misalnya ok lah kekuatan nambah, tapi bisa jadi otot kaku, mungkin akan kehilangan flexibility, atau kehilangan kecepatan, koordinasi, akurasi, atau endurance.

> Supaya kekuatan nambah, dan yang lain juga tidak berkurang gimana?

< Makanya di latihan kita ini ada konversi dari kekuatan maksimum ke kekuatan elastis, artinya kamu tetap kuat tapi juga lentur, jadi kamu tetap bisa bergerak cepat dan punya koordinasi dan balance bagus. Trus apa gunanya kalau kita tambah kuat tapi tidak tahan lama? Nah yang ketiga tahapnya daya tahan kekuatan. Kita bikin kamu dan kawan setim ntar punya otot kuat, lentur dan punya endurance. Sebutan lainnya ya muscular strength, muscular endurance, tapi tetap berlatih lari sehingga juga punya cardiopulmonary endurance,  jantung dan paru2mu tetap siap diajak kerja keras dsalam waktu lama.

> saat kekuatan maksimum dikonversi jadi kekuatan yang cepat, lentur dan berdaya tahan, tentunya kekuatan maksimumnya berkurang lagi kan?

< Iya. Tapi misalnya sekarang kamu mampu mengangkat beban 80 kg naik jadi 100 kg. Lalu kalo kamu lari bawa beban 20 kg ditambah tubuhmu yang 70 kg itu awalnya hanya mampu lari 1000 meter, setelah latihan ini mungkin sekali kamu mampu bawa beban 20 kg sejauh 2.000 meter, peningkatan itu yang menjadi tujuan akhir, tetapi prosesnya memang harus menaikkan kekuatan maksimum dulu, selanjutnya dibikin elastis bertenaga. Baru dibikin punya daya tahan lama.

> Berarti ototku tetap jadi gede kan coach, biar macho gitu he he…

< Ada tapi dikit, yang meningkat mungkin massa otot, kepadatannya, jumlah serabut dan yang terpenting kemampuan otot menyimpan dan menggunakan energi secara lebih besar dan lama.

> jadi bisa aja beratku berkurang tapi kekuatanku malah bertambah?

< Ya, komposisinya jelas akan berubah. Tapi ada catatannya nih, kamu harus cukup istirahat, minum, dan makan bergizi ya.

> Nah, soal nutrisi lagi nih.  Tolong dong saya dikasih penjelasan yang paling ringkas dan gampang.

< Ok, sebelum memulai latihan ini, pelatih memang harus mengedukasi atletnya tentang nutrisi dan recovery. Nanti saya berikan satu pembahasan, tapi sekarang intinya bahwa kamu bayangkan jika kau tuh sebagai sebuah bangunan. Bangunan itu namanya kapasitas fisik. Bangunan ini punya kaki 3. Kaki yang satu namanya asupan nutrisi, kaki kedua namanya recovery, kaki ketiga namanya training. Nah apa yang terjadi jika tinggi ketiga kaki bangunan itu beda2?

> Doyong trus roboh lah.

< Nah, begitu juga tubuhmu, roboh lah jika tiga faktor itu tidak proporsional. Faktor asupan nutrisi ini bicara tentang makanan untuk pembangun tubuh dan untuk energi tubuh, recovery itu untuk kesempatan tubuh memulihkan diri dan metabolisme nutrisi tadi untuk membangun tubuhmu, latihan itu bicara tentang perluasan kapasitas dan kualitas kerja organ tubuhmu.

> Mana yang terpenting coach?

< Semuanya, 3 tiganya terpenting, harus jalan bareng. Kalau salah satunya tidak seimbang, saat itu juga coach hentikan  akan latihanmu. Melatih keras tanpa perhatikan 3 hal itu sama aja dengan pelatih bunuh atletnya pelan2. Kamu juga harus tanggung jawab lho, komitmen untuk latihan ya termasuk komitmen untuk menjaga makanan dan istirahatmu. Kalo kamu bohongi coach, berarti kamu yang bikin rusak diri sendiri!

> Wuih coach kluar galaknya coachku.

< Enggak.

> Itu pake tanda seru, tadi.

< Iya soalnya ini mendasar banget, ini yang dibilang pak Ndul inti dari inti, core of the core-nya.

> Nah kalo aspek terpenting dalam latihan strength training ini apa coach?

< Bukan hanya untuk latihan strength training, tapi untuk proses latihan secara keseluruhan, aspek dan aset terpentingmu adalah otak.

> Lho, bukannya otot?

< Bukan. Otak lah yang akan menjadi pengendali semuanya, baik otot, sendi, dll semuanya lewat nervous system. Brain memory tentang pengetahuanmu, muscle memory tentang ketrampilan gerakmu.

> Iya, coach sudah pernah bilang. Muscle loves repetition. Ntar aja bahas yang itu ya coach, palaku mulai berasap nih.

< Ok, Brik. Dimaklumi.

> Tuuuh…. kan, si coach. Saban aku mulai mumet dan nyerah, pasti kluar dah kata-katanya. Kan… kamu jurusan IPA, kan… kamu udah blajar biologi, kan… tahu HB itu apa? Kan… tahu gula itu ada yg C6H12O6, kan… tahu kalo kebanyakan gula, karbon rantai pendek bakal terurai kan… jadi begini, begitu…  asam laktat, dan sebagainya, parah dah. Masih untung juga ada anak didikmu yang mau nemenin ngobrol ngopi begini.

< Iyaaa… iyaaa… sana main dulu, kalo udah dingin kita lanjut lagi. Aku juga mulai mumet sendiri, mau melukis dulu ah.

dan 4 jam kemudian….

> Ok coach, kita mulai lagi.

< Sip. Ini sekarang kita bahas latihan beban ya.

hal 77 blog

 

hal 78 blog

– Latihan Pull Down untuk strength endurance dengan beban 10 kg sebanyak 20 repetisi.

– Latihan Bench Press untuk strength endurance dengan beban 20 kg sebanyak 20 repetisi.

> Sebentar coach, aku mau nanya dulu. Kenapa latihannya selama 6 minggu dan seminggu 4 kali?

< Itu sesuai hasil riset eyang Moritani, prinsip 3-5-6, umumnya rerata latihan itu memberikan hasil  peningkatan kekuatan setelah 6 minggu. 3 minggu adaptasi sistem syaraf, kalian merasa sakit dikit di tahap awal, lalu hilang karena beradaptasi setelah 3 minggu. Lalu otot tumbuh setelah 5 minggu dan ototnya terbentuk menjadi kuat di minggu ke 6. Jumlah 4 kali seminggu itu yang terbaik, seminggu kan 7 hari, berarti kalo 4 kali seminggu itu kan ada rest 1 hari untuk pemulihan dan pembentukan jaringan baru.

> Lalu setelah elastic training selesai, strength endurance juga selesai, latihan apa lagi?

< Porsi frekuensinya akan diturunkan jadi 2 kali seminggu aja.

> Kenapa coach?

< Karena setelah itu kan ada latihan teknik, jadi jadualnya disesuaikan. Latihan 2 kali seminggu itu cukup lah untuk maintain kondisi fisiknya. Saat latihan teknik juga kan fisiknya tetap terjaga, beradaptasi lagi dengan latihan teknik yang diberikan. Latihan tekniknya akan lebih bagus karena kapasitas fisik mereka sudah meningkat. Jadi kalau sebelumnya ada batasan gerak karena kurang kuat, kurang lentur, kurang cepat dan kurang daya tahan, akan membaik setelah conditioning selama 12 minggu itu.

> Kenapa nggak ditambahin aja terus latihan fisiknya supaya bener2 kuat?

< Mereka ini kan student athlete, ada batasannya. Kalau ini tim basket pro yang sedang off season, bisa aja kita tambah lagi latihan agar beban maksimumnya naik, tapi bagaimana dengan sekolahnya? Kompetisi jeda? Banyak pertimbangan Brik. Saya kan harus membagi waktu dengan latihan teknik dan strategi juga.

> Ok, jadi untuk menghitung beban latihan lari dan melompat, kita hitung pakai beban standar permainan basket ya.

< Betul, bisa diperhitungkan lewat statistik dan scouting.

> Trus untuk latihan kekuatan kita hitung ! RM pakai diagram Holten tadi kan coach?

< Ya itu hanya untuk ngitung kalau latihan kita ditujukan untuk peningkatan muscular strength dan strength endurance, masih banyak lho jenis latihan lain dan cara perhitungannya sendiri. Tapi untuk permainan bola basket ya cara ini yang saya pakai. Misalnya untuk cabor balap sepeda, renang dll kan beda2.

> Trus kan ada juga latihan sit up, push up, dip, dan lainnya, kan nggak ada beban tuh, gimana cara ngitungnya coach?

< O ya, latihan kalistenik, hanya menggunakan beban berat badannya sendiri. Kalo yang itu, saya pakai prinsip 40%. Artinya pada latihan pertama dihitung dulu kemampuan maksimal si atlet. Misalnya push up. Si Biyan mampu push up berapa kali nonstop sampe nggletak lemes megap-megap tak berdaya dan habis tenaga, dengan batas hanya 1 kali jeda rest 3 menit. Misalnya ternyata sanggupnya 72 kali. Angka 72 itu dihitung sebagai 40% dari kemampuan yang dijadikan target 100%. Cara hitungnya:

Max push up = 72 x (100/40) = 180. Berarti maximum jumlah push up yang nanti ditargetkan untuk bisa dilakukan Biyan setelah berlatih 6 minggu dengan seminggu 4 kali sebanyak 180 kali. Cara latihannya ya dinaikkan bertahap. Kita buatkan perhitungan untuk Biyan seperti ini:

Target  dikurangi Prestasi awal si Biyan, (180) – (72) = 108. 108 dibagi 5 minggu = 21,6, berarti kenaikan per minggu adalah 21,6 dibulatkan menjadi 22.

– Minggu ke 1 Biyan berlatih sebanyak  max push up nya = 72 per latihan.

– Minggu ke 2 Biyan berlatih sebanyak  72+22 = 94 per sesi latihan.

– Minggu ke 3 Biyan berlatih sebanyak  94+22 = 116 per sesi latihan.

– Minggu ke 4 Biyan berlatih sebanyak  116+22 = 138 per sesi latihan.

– Minggu ke 5 Biyan berlatih sebanyak  138+22 = 160 per sesi latihan.

– Minggu ke 6 Biyan berlatih sebanyak  160+22 = 182 per sesi latihan.

Prosesnya akan serupa, setelah 3 minggu latihan ada rasa pegel2, sakit dan kaku otot. Setelah minggu ke 5 jaringan ototnya tumbuh, lalu di minggu ke 6 ototnya jadi kuat. Perhitungan yang sama bisa juga digunakan untuk latihan skipping, sit up, dll. Sebagai catatan penting nih, jika yang berlatih anak2 usia sd 12 tahun sebaiknya tidak berlatih menggunakan beban. Jika sudah 15 tahun boleh lah tetapi bebannya ringan sekali, tidak lebih dari 10% RM-nya. Nanti dibahas khusus.

> Ooo ya, berarti dalam hal ini coach menggunakan 3 macam perhitungan ya. Ada yang ikut standar game itu sendiri, ada yang mengikuti prestasi awal masing-masing individu lalu ikut formulasi baku, sedangkan latihan kalistenik didasarkan pada prestasi awal dan target realistis yang ingin dicapai.

> Coach, pernah nggak perhitungannya meleset.

< Pernah. Awal saat bodoh dan baru belajar menerapkan perhitungan latihan ini, beberapa anak memang belum tahu push up, sehingga waktu menghitung prestasi maksimal awal angkanya hanya 5, 10 dan 12. Ambyar lah. Batal. Jadi kuajari dulu mereka push up yang benar, penguatan dulu. Setelah itu baru hitung lagi.

> Pernah ada yang benar-benar gagal?

< Pernah juga. Waktu itu aku tidak teliti, ada anak yang kelainan postur. Kakinya orang bilang bentuk “X” gitu. Pas latihan leg press, hari kedua sudah kesakitan, langsung stop. Jadi pelatih tu harus teliti. Jangan saat mau latihan ada yang kelainan postur misalnya seperti scoliosis, tulang belakang melengkung, atau barusan pemulihan cedera, atau baru ada sakit atau gangguan fungsi hati, main hantam aja dengan latihan berat. Gangguan seperti itu semua momok buat pelatih. Hati-hati. Apalagi kalo mau pertandingan, semua anak ngakunya fit dan siap, mereka sembunyiin cederanya. Pelatih ya harus jeli.

> Trus setelah mengalami beberapa kejadian seperti itu tadi, ada rasa kapok gitu coach?

< Pengalaman itu semua mengajarkan saya bahwa latihan beban untuk atlet basket, apalagi yang usia muda, Harus diperhitungkan dengan sangat teliti.  Pelajaran penting yang diperoleh ketika saya salah memberikan latihan fisik, terutama latihan beban adalah:

  1. Perhatikan usia anak yang akan berlatih. Perhatikan kapan dan pada usia berapa boleh berlatih beban, latihan mana yang boleh untuk usia berapa, kapan latihan boleh berlanjut dan kapan latihan harus dihentikan. Sampai usia 12 tahun sebaiknya tidak usah diberikan latihan beban. Pada usia 15 umumnya tahun sudah bisa diberikan latihan beban secara sangat selektif dan hati-hati., terutama diberikan hanya pada anak yang sudah berlatih sejak usia dini sehingga sudah mencapai tahap ready to train. Anak yang telat mulai latihan, belum terbiasa latihan berat sebaiknya jangan diberikan sampai usia 16 tahun. Kecuali beberapa anak-anak kita yang secara genetik dan kultur lebih siap, seperti banyak anak-anak kita tercinta dari Papua atau Maluku, athleticism anak-anak kita dari wilayah ini unik. Secara alami kebanyakan lebih cepat mencapai tahap ready to train di usia belia.
  2. Perhatikan latihan mana yang beresiko tinggi cedera, latihan mana yang beresiko menimbulkan kondisi awal untuk terjadinya cedera. Kedua hal ini berbeda jauh ya. Jika anak melakukan deadlifting lalu salah turun, bisa langsung cedera. Tetapi ketika menggunakan leg press ternyata terjadi iritasi atau overuse yang tidak terpantau, itu kondisi awal yang bisa menimbulkan cedera fatal, misalnya ketika dalam keadaan beresiko tinggi karena salah kelola di latihan beban trus anak-anak kita suruh latihan power lay up, bisa jadi terjadi cedera yang fatal.
  3. Hati-hati dengan beberapa macam latihan beban yang karena salah pilih dan perhitungan, bisa saja malah kontra produktif untuk perkembangan skill dan teknik pemain di lapangan. Tidak semua jenis latihan beban dan latihan kekuatan berguna untuk meningkatkan performa atlet. Jangan langsung terpikat ketika melihat contoh latihan dahsyat dan memikat yang ada di buku, ada di youtube, atau ada dilakukan oleh atlet top itu cocok dan berguna untuk atlet kita. Pilih latihan beban mana yang benar-benar sesuai dan diperlukan. Jika kurang ngerti, tanya aja dengan pelatih fisik yg lebih tahu. Banyak pelatih kepala senior dan pelatih fisik top yang ramah dan melayani dengan baik para rekan pelatih yang mau bertanya. (Setahu saya yang terhormat kak Iman, kak Fary, coach Manto, coach Ito Roring, Coach Mbing Asdianto, coach Meldy, coach Xaverius Wiwid, coach Okky Tamtelahitu, coach Gorey, Coach Dimas Muharri, Coach Erwin Triono, dll selalu tanggap dengan baik kok kalo ditanya). Baca aneka buku dan liat2 youtube itu berguna, tapi lebih bermanfaat jika bisa diskusi konfirmatif atau diskusi tanya total dengan mereka. Ada nilai plus di wawasan dan pengalaman.
  4. Sedapat mungkin pelatih belajar, biar sedikit yang bisa aja tidak apa2, tapi mulailah belajar tentang latihan beban. Tentang anatomi dan fisiologi, fisiologi latihan, efek-efek latihan terhadap fungsi gerak, tentang penyembuhan dan pencegahan cedera, tentang nutrisi serta recovery.

6. Beberapa materi latihan yang saya paparkan di sini hanya sedikit sekali dari ribuan alternatif, yang menurut pengalaman saya yang minim, cocok untuk latihan basket (dan tinju, keduanya punya beberapa kemiripan fundamental). Sekali lagi, si pelatih lah yang paling mengenali anak2nya dan tahu latihan apa yang terbaik untuk mereka, yang penting kaji dan pilih dengan seksama.

hal 85 blog

 

hal 86 blog

 

hal 87 blog

 

hal 88 blog

 

hal 89 blog

 

hal 90 blog

 

hal 91 blog

 

hal 92 blog

 

hal 93 blog

 

 

hal 94 blog

 

hal 95 blog

Dari ke14 model latihan di atas, jika latihan compound sebaiknya hanya dipilih maksimak sebanyak 8 latihan sudah cukup. Bagi pemain basket latihan isolasi biasanya diperlukan hanya pada keadaan khusus.

Materi tulisan ini adalah bagian dari buku “Latihan Basket” yang sedang saya susun, lengkap dengan materi latihan teknik, strategi dan mental. Semoga pada posting berikutnya akan ditampilkan satu per satu.

Terimakasih, selamat berlatih.

Coach Moses, Sabtu, 2 Mey 2020

Interview with Tudor Bompa

Need to know more of Bompa’s books.

Tudor Bompa Institute

Tudor Bompa is one of the world’s foremost sports training experts. He is the only coach to have produced Olympic and world champions in two different sports – athletics and rowing. He has been called the father of periodization (training planning). I bet there aren’t any athletes in the world who don’t owe their successes (even if they don’t realize it) to Bompa’s theories in one way or another.

How did you get involved in sport?

Like almost every kid in Romania I started to play football. Track and field also captivated my interest so much so that during my mid-teens I was very busy training and competing in both sports. I quickly realised the athleticism I gained from track greatly helped my football. When I was 17 I was selected for the Romanian national under18 side. And I still managed to find the time to continue with my track…

View original post 2,456 more words

Profil Pemain: Gusti Medina Alawiyah

mandala basketball

Nama lengkapnya Gusti Medina Alawiyah, lahir di Banjarmasin, 20 mei 1998. Putri bungsu dari Bapak Gt. Zulkarnain ini berlatih basket sejak kelas 1 SMP dan pelatihnya yang pertama adalah Bapak Syahrum. Saat ini Dina duduk di kelas 2 di SMA 2 Banjarmasin. Meski masih tergolong berusia junior, Dina berulangkali dipercaya oleh pelatihnya, Coach Mika memperkuat tim senior, ia pun berusaha membuktikan kepercayaan sang pelatih dengan hasil yang baik.

Dina in action. Dina in action.

“Dina punya mental yang kuat. Berani dan mau bekerja keras” ujar Coach Mika tentang anak didiknya.

Dina senang bermain basket karena bikin sehat, meski melelahkan Dina sangat rajin berlatih. Dengan tinggi badan 163 cm dan berat 61 kg, ia tergolong pemain dengan postur kuat dan tegap, tak heran tim yang diperkuatnya baik di sekolah maupun klubnya, Mandala cukup berprestasi.

Gadis manis yang bercita-cita menjadi pengusaha ini sekurangnya sudah mengoleksi 7 trofi juara 1 dan 6 trofi juara 2. Antara…

View original post 75 more words