MODEL PENGEMBANGAN LIFE SKILL PADA PELATIHAN BOLA BASKET (Bagian 1)

Atas kasih Tuhan YME, diberi-Nya hikmat untuk berkarya lewat tulisan ini..

Seandainya ada mesin waktu, sebagai pelatih saya ingin kembali ke periode awal melatih pada tahun 1989, yang ingin saya lakukan adalah meminta maaf (lalu memperbaiki cara melatih) kepada anak-anak didik saya yang pertama di SMPN 2 Banjarbaru, SMAN 1 Banjarbaru dan SMAN Martapura (Johan, Ade, alm. Arul, Ucup, dll) karena kala itu saya tidak memberikan latihan yang bisa memperkaya life skill mereka. Malah justru anak-anak itu yang kemudian memperkaya wawasan saya sebagai pelatih muda.

Adalah kerugian besar jika privilese sebagai pelatih hanya digunakan untuk menjadikan anak didik sebagai jago basket saja dan tidak dimaksimalkan untuk memberi life skill yang bernilai lebih dalam, luas dan bisa berlaku pada waktu yang lebih lama dalam hidup anak-anak kita.

Saya yakin bahwa pengayaan life skill, meski dengan nama, bentuk dan format yang berbeda sudah dilakukan oleh para pelatih basket terutama yang senior, anrtusias dan berpengalaman. Tapi bagaimana dengan para pelatih muda seperti halnya saya di masa 31 tahun yang lalu?

Itulah sebabnya saya membuat sebuah blog bernama http://latihanbasket.com dan channel youtube hingga berlanjut dengan penulisan konsep ini.

Buku LS 01

Pada model ini, tahapan dan proses pengembangan life skill diadaptasikan secara sederhana dengan prinsip-prinsip keolahragaan sehingga diharapkan menjadi lebih kontekstual dan mudah dimaknai. Selain untuk bola basket, konsep ini juga dapat diterapkan pada cabang olah raga lainnya maupun kegiatan belajar mengajar lainnya yang banyak mengandung aktivitas gerak

Konsep ini hanya sebuah awal, menjadi lebih baik apabila rekan-rekan pelatih memberi masukan dan sama-sama memperkaya.

MODEL PENGEMBANGAN LIFE SKILL PADA PELATIHAN BOLA BASKET

@ LS Model

Sebelum masuk secara spesifik ke dalam pembahasan model pengembangan life skill pada pelatihan bola basket, ada baiknya di bagian awal kita memperluas wawasan umum tentang konsep life skill, pengertian-pengertian dasar serta konsep tentang pendidikan, pengembangan, belajar, dan pelatihan.

KONSEP LIFE SKILL

Kebutuhan dasar manusia, pembangunan yang dilakukan semua bangsa bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Kualitas hidup manusia ditentukan oleh tingkat pemenuhan kebutuhan yang paling utama bagi manusia, yang disebut dengan kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar merupakan berbagai keperluan yang diperlukan manusia untuk kelangsungan hidupnya. Kebutuhan dasar ini tidak statis, tetapi bersifat dinamis dan berkembang sesuai tingkat peradaban dan kesejahteraan manusia.

Life skill adalah kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problema kehidupan kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Dengan demikian pendidikan berorientasi life skill bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai kehidupan pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara.dengan hasil yang dapat mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Pengertian Pendidikan Life Skill
Menurut Para Ahli

Pengertian life skill atau biasa disebut sebagai kecakapan hidup jika di lihat dari segi bahasa berasal dari dua kata yaitu Life dan skill. Life berarti hidup, sedangkan skill adalah kecakapan, kepandaian, ketrampilan. Sehingga life skill secara bahasa dapat diartiakan sebagai kecakapan, kepandaian, keterampilan hidup. Umumnya dalam penggunaan sehari-hari orang menyebut life skill dengan istilah kecakapan hidup.

Menurur Listyono, kecakapan hidup (life skill) yaitu kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problematika kehidupan, kemudian secara proaktif dan kreatif, mencari serta menemukan solusi untuk mengatasi permasalahan.

Menurut Rais Saembodo dalam Wira Kurnia S (2006) mengatakan kecakapan, keterampilan (skill) menunjukkan suatu kecakapan atau keterampilan ini diperoleh melalui latihan atau pengalaman. Sasaran utama proses pengembangan sumber daya manusia dapat diarahkan pada usahausaha membina knowledge skill ability seoptimal mungkin.

Menurut IOWA State University (2003), life skill diartikan sebagai berikut, “a skill is a learned ability to do something well”. Kecakapan tidak hanya diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu, lebih daripada itu, kecakapan dimaknai sebagai kemampuan belajar untuk melakukan sesuatu secara lebih baik. Jadi mampu melakukan sesuatu saja belum cukup untuk dikatakan sebagai cakap, melainkan kemampuan untuk melakukan sesuatu tersebut harus ditunjukan secara lebih baik dan diperoleh melalui suatu aktivitas belajar.

Sedangkan life skill oleh IOWA State University (2003), diartikan sebagai, “are abilities individuals can lear that will help them to be successful in living a produktive and satisfying life”. Kecakapan hidup dimengerti sebagai kemampuan individual untuk dapat belajar sehingga seseorang memperoleh kesuksesan dalam hidupnya, produktif dan mampu memperoleh kepuasan hidup. Indikator seseorang telah memperoleh life skill dengan demikian dapat dilihat dari sejauhmana ia mampu eksis dalam kehidupnya di tengah-tengah masyarakat. Apabila seseorang mampu produktif dan membuat berbagai kesuksesan, maka dapat dikatakan orang tersebut memiliki life skill yang baik.

Menurut Anwar (2004) life skill adalah pendidikan yang dapat memberikan bekal ketrampilan yang praktis terpakai, terkait dengan kebutuhan pasar kerja, peluang usaha dan potensi ekonomi atau industri yang ada di masyarakat.

Broling (1989) mengemukakan bahwa life skill adalah interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh seseorang, sehingga mereka dapat hidup mandiri.

Kent Davis (2000) mengemukakan bahwa kecakapan hidup (life skill) “manual pribadi” bagi tubuh seseorang. Kecakapan ini membantu peserta didik belajar bagaimana memelihara tubuhnya, tumbuh menjadi dirinya, bekerja sama dengan secara baik dengan orang lain, membuat keputusan yang logis, melindungi dirinya sendiri dan mencapai tujuan didalam kehidupannya.(1997) life skill yaitu berupa berbagai keterampilan atau kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berprilaku positif, yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan dalam hidupnya sehari-hari secara efektif.

Buku LS 02

Menurut Kemendiknas

Istilah life skill menurut Depdiknas tidak semata-mata diartikan memiliki keterampilan tertentu (vocational job) saja, namun ia harus memiliki kemampuan dasar pendukungnya secara fungsional seperti mambaca, menghitung, merumuskan, dan memecahkan masalah, mengelolah sumber daya, bekerja dalam tim, terus belajar di tempat kerja mempergunakan teknologi.

Sedangkan pendidikan kecakapan hidup atau life skill menurut tim broad based education Depdiknas (2002) adalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara pro aktif dan kreatif dapat mencari serta menemukan solusi untuk mengatasinya.

Apa yang diungkapkan oleh Depdiknas tentu masih relevan dengan arahan pendidikan nasional saat ini. Hanya saja ada penguatan tertentu sesuai dengan pengembangan pendidikan sekaligus kebutuhan zaman yang semakin kompleks era ini.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian life skill adalah kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problema kehidupan kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Dengan demikian pendidikan berorientasi life skill bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai kehidupan pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara.dengan hasil yang dapat mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Jenis-Jenis Life Skill

Broling (1989) dalam pedoman penyelenggaraan program kecakapan hidup pendidikan non formal mengelompokkan life skill menjadi tiga kelompok, yaitu:

(1) Kecakapan hidup sehari-hari (daily living skill), antara lain meliputi ; pengelolahan rumah pribadi, kesadaran kesehatan, kesadaran keamanan, pengelolahan makanan-gizi, pengelolahan pakaian, kesadaran pribadi warga negara, pengelolahan waktu luang, rekreasi, dan kesadaran lingkungan.

(2) Kecakapan hidup sosial/ pribadi (personal/ social skill), antara lain meliputi ; kesadaran diri (minat, bakat, sikap, kecakapan), percaya diri, komunikasi dengan orang lain, tenggang rasa dan kepedulian pada sesama, hubungan antar personal, pemahaman masalah, menemukan dan mengembangkan kebiasaan positif, kemandirian dan kepemimpinan.

(3) Kecakapan hidup bekerja (vocational skill), meliputi: kecakapan memilih pekerjaan, perencanaan kerja, persiapan keterampilan kerja, latihan keterampilan, pengusahaan kompetensi, menjalankan suatu profesi, kesadaran untuk menguasai berbagai keterampilan, kemampuan menguasai dan menerapkan teknologi, merancang dan melaksanakan proses pekerjaan, dan menghasilkan produk barang dan jasa.

WHO (World Health Organization) mengelompokkan kecakapan hidup kedalam lima kelompok, yaitu :

(1) Kecakapan mengenal diri (self awareness) atau kecakapan pribadi (personal skill),

(2) Kecakapan sosial (sosial skill),

(3) Kecakapan berpikir (thinking skill),

(4) Kecakapan akademik (academic skill), dan

(5) Kecakapan kejuruan (vocational skill).

Slameto (2002) membagi life skill menjadi dua bagian yaitu: kecakapan dasar dan kecakapan instrumental. Life skill yang bersifat dasar adalah kecakapan universal dan berlaku sepanjang zaman, tidak tergantung pada perubahan waktu dan ruang yang merupakan fondasi bagi peserta didik baik di jalur pendidikan persekolahan maupun pendidikan non formal agar bisa mengembangkan keterampilan yang bersifat instrumental. Life skill yang bersifat instrumental adalah kecakapan yang bersifat relatif, kondisional, dan dapat berubah-rubah sesuai dengan perubahan ruang, waktu, situasi, dan harus diperbaharui secara terus-menerus sesuai dengan drap perubahan. Kalau dikaji lagi pada dasarnya kecakapan hidup (life skill) hanya ada empat jenis, yakni

(1) kecakapan pribadi (personal skill),

(2) kecakapan sosial (sosial skill),

(3) kecakapan akademik (academic skill), dan

(4) kecakapan kerja (vocational skill).

 

Misi dan Prinsip Pendidikan Life Skill

Life skill memiliki misi untuk meningkatkan kualitas keterampilan, kecakapan hidup dan profesionalitas, bagi anggota masyarakat yang membutuhkan dalam rangka meraih kesejahteraan jasmani dan rohani, dengan menerapkan prinsip belajar sepanjang hayat dan untuk meningkatkan daya saing bangsa diera global. Menurut Anwar (2004), prinsip-prinsip pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup (life skill) adalah sebagai berikut:

a) Tidak mengubah sistem pendidikan yang berlaku

b) Tidak mengubah kurikulum yang berlaku

c) Pembelajaran menggunakan prinsip empat pilar, yaitu: belajar untuk tahu, belajar untuk menjadi diri sendiri, belajar untuk melakukan, belajar untuk mencapai kehidupan bersama.

d) Belajar konstektual (mengaitkan dengan kehidupan nyata) dengan menggunakan potensi lingkungan sekitar sebagai wahana pendidikan.

e) Mengarah kepada tercapainya hidup sehat dan berkualitas, memperluas wawasan dan pengetahuan, dan memiliki akses untuk memenuhi standar kehidupan yang layak.

Sasaran dan Tujuan Pendidikan Life Skill

Sasaran life skill yaitu anggota masyarakat usia produktif 18-45 tahun, perempuan maupun laki-laki, putus sekolah maupun belum memilki pekerjaan, dengan kriteria :

a) Memiliki kemauan untuk belajar dan bekerja

b) Memiliki komitmen mengikuti kegiatan belajar sampai dengan selesai yang dibuktikan dengan surat pernyataan kesedihan kesanggupan belajar.

c) Domisi warga masyarakat desa yang berada pada lingkup satu kecamatan.

 

Secara umum tujuan pendidikan life skill yaitu untuk memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya yaitu untuk mengembangkan potensi manusiawi (peserta didik) untuk menghadapi peranannya dimasa yang akan datang.

Tujuan dari orientasi life skill adalah untuk memberikan pengalaman belajar yang berarti bagi peserta didik yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan di dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun tujuan pendidikan life skill secara khusus bila dirinci adalah sebagai berikut:

a) Melaksanakan program-program pendidikan dan pelatihan yang mampu mengembangkan ketrampilan, keahlian dan kecakapan serta nilai-nilai keprofesian untuk mendorong produktivitas sebagai tenaga kerja yang handal atau kemandirian berusaha.

b) Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengikuti program khusus berbasis kompetensi, serta fasilitasi penempatan kerja pada dunia usaha / industri dan / atau berusaha mandiri.

Life skill adalah kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problema kehidupan kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Dengan demikian pendidikan berorientasi life skill bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai kehidupan pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara.dengan hasil yang dapat mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Apa komponen utama dari life skills? World Health Organisation (WHO) mengkategorikannya ke dalam tiga komponen :

a) Ketrampilan berpikir kritis/ ketrampilan membuat keputusan termasuk ketrampilan pemecahan masalah dan pengumpulan informasi. Seseorang harus berketrampilan mengevaluasi konsekuensi masa depan atas tindakannya dan tindakan orang lain terhadapnya saat ini. Mereka perlu kemampuan untuk menentukan alternatif pemecahan masalah untuk menganalisis pengaruh dari nilai-nilai mereka dan bagi nilai orang-orang di sekitar mereka.

b) Ketrampilan interpersonal/ komunikasi– mencakup komunikasi verbal dan non verbal, mendengar secara aktif, kemampuan mengekspresikan perasaan dan memberikan umpan balik. Juga termasuk dalam kategori ini yaitu kemampuan bernegosiasi/ menolak dan dan ketrampilan bersikap tegas yang secara langsung berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk mengelola konflik. Empati, yang merupakan kemampuan untuk mendengar dan mengerti kebutuhan orang lain, juga merupakan kunci bagi ketrampilan interpersonal. Termasuk juga di dalamnya kerjasama dalam tim dan kemampuan bekerjasama, kemampuan menyatakan hormat bagi orang-orang di sekitarnya. Pengembangan ketrampilan ini memberikan kemampuan bagi anak untuk beradaptasi dalam masyarakat. Ketrampilan-ketrampilan ini memberikan hasil dalam situasi penerimaan norma-norma sosial yang menjadi dasar perilaku sosial orang dewasa.

c) Ketrampilan penanganan (Coping) dan manajemen diri merujuk pada ketrampilan-ketrampilan yang meningkatkan kontrol dari dalam diri, sehingga orang itu yakinn bahwa ia mampu membuat perubahan dan mempengaruhi perubahan itu. Self esteem, self-awareness, dan ketrampilan self-evaluationdan kemampuan untuk menetapkan tujuan juga merupakan bagian dari kategori umum dari ketrampilan mengelola diri  (self-management skills). “Anger, grief and anxiety must all be dealt with, and the individual learns to cope loss or trauma. Stress and time management are key, as are positive thinking and relaxation techniques.”

LeMahieu (1999) melaporkan bahwa hasil-hasil penelitian menunjukkan beberapa manfaat dari  Life Skills-Based Education yaitu : berkurangnya perilaku kekerasan; meningkatnya perilaku pro-sosial yang positif dan yang negatif berkurang; berkurangnya perilaku merusak diri sendiri; meningkatnya kemampuan membuat perencanaan masa depan dan memilih solusi atas permasalahan yang dihadapi; meningkatnya citra diri, kesadaran diri, kemampuan penyesuaian sosial; meningkatnya perolehan pengetahuan; membaiknya perilaku di dalam kelas; kemajuan dalam hal kontrol diri dan penanganan masalah-masalah inter-personal dan coping kecemasan; meningkatnya pemecahan masalah dengan rekan sebaya. Penelitian juga telah membuktikan bahwa sex education yang didasarkan pada life skill memberikan hasil berupa perubahan yang lebih efektif dalam penggunaan kontrasespsi bagi remaja; penundaan aktivitas pengalaman seksual pertama; pencegahan penggunaan alkohol dan marijuana serta pengembangan sikap dan perilaku yang diperlukan untuk menghadapi penyebaran HIV/AIDS.

Beberapa landasan teoretik yang berkaitan dengan konsep life skill yang digunakan dalam penelitian  ini berhubungan dengan Contextual Learning.

Contextual learning atau pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang dekat dengan pengalaman aktual. Pembelajaran kontekstual adalah suatu konsepsi yang membantu guru untuk menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk menghubungkan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka baik sebagai anggota keluarga, warga negara atau pekerja serta mengaitkannya dengan kebutuhan yang diperlukan dalam belajar.(Blanchard, 1991).

Menurut Simpson, (1992) dalam teori pembelajaran kontekstual, pembelajaran terjadi hanya apabila siswa (pembelajar) memproses informasi baru atau pengetahuan dengan suatu cara yang masuk akal menurut kerangka pikirnya sendiri (keadaan dalam dunianya sendiri, pengalaman atau tanggapan). Pendekatan pembelajaran kontekstual  terhadap belajar dan mengajar  menganggap bahwa pada dasarnya pikiran mencari suatu makna dalam suatu konteks—yaitu, dalam hubungannya dengan lingkungan sekarang darinya.—dan ini terjadi seperti itu dengan mencari hubungan-hubungan yang dapat diterima (masuk akal) dan kemudian dipahami bahwa ternyata hal itu berguna. Beberapa hal yang menjadi karakter pembelajaran kontekstual menurutnya yaitu  yaitu :

a) Menitikberatkan pada pemacahan masalah

b) Diorganisasikan dengan keadaan dunia sekeliling

c) Memungkinkan berbagai variasi sumber belajar

d) Lebih mendorong terlaksananya pembelajaran di luar kelas

e) Menghargai pengalaman belajar siswa dalam proses pembelajaran

f) Mendorong adanya pembelajaran kolaboratif

Pendidikan, Pelatihan, Pengembangan dan Belajar

Berikut ini disampaikan beberapa pengertian-pengertian dasar serta konsep umum tentang pendidikan, pengembangan, belajar, dan pelarihan.

Buku LS 03

Penjelasan lainnya:

  1. Pelatihan merupakan bagian dari suatu proses pendidikan, yang tujuannya untuk meningkatkan kemampuan atau keterampilan khusus seseorang atau kelompok orang.
  2. Merupakan suatu proses berkelanjutan untuk meniadakan/memperkecil kesenjangan antara kemampuan seseorang, dengan kemampuan yang diharapkan oleh perusahaan di dalam suatu jabatan/ pekerjaan tertentu.
  3. Latihan (training) dimaksudkan untuk memperbaiki penguasaan berbagai keterampilan dan teknik pelaksanaan kerja tertentu, terinci, dan rutin, dan untuk masa sekarang.
  4. Dalam dunia kerja, pelatihan adalah suatu kegiatan yang direncanakan oleh perusahaan/ institusi untuk memfasilitasi proses belajar karyawan terhadap kompetensi dalam pekerjaannya (noe, 2002).

Buku LS 04Buku LS 05

PENJELASAN UNSUR MODEL SECARA BERTAHAP

Secara keseluruhan, model ini terdiri dari 6 bagian dengan uraian per bagian sebagai berikut:

Buku LS 06

Bagian berikutnya nanti, kita akan membahas model dan unsur-unsurnya. Seperti terlihat pada gambar di atas, ada enam kelompok bagian unsur latihan. Nanti di tulisan berikutnya akan akan kita bahas satu per satu.

Salam.

Banjarmasin, 25 Juni 2020

Coach Moses,

Author: Lukisan Moses

Love to paint, woodworking, song writing resin work and basketball coaching.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s