Buku “Penting & Gratis” Manual Pelatih dari FIBA

Sambil menyeleseaikan lanjutan tulisan terdahulu mengenai Life Skill Bagian 1, berikut ini akan saya bagikan 4 buah buku penting dan gratis yang penting untuk menjadi referensi rekan-rekan pelatih. Buku ini bisa diunduh siapa saja di situs resmi milik FIBA, khususnya asosiasi pelatih basket sedunia, WABC. Dalam hal ini saya hanya mengajak kita mengenali dan mengupas sedikit tentang ke 4 buku berharga ini.

Pada bagian akhir tulisan, rekan-rekan pelatih bisa mengunduh buku ini dengan satu kali klik. Akan lebih menyenangkan jika kita semua bisa berbagi pengalaman. Sekiranya rekan pelatih sudah mempelajari dan menerapkan pelatihan sesuai referensi buku ini, lebih baik jika bisa berbagi pengalaman tentang penyesuaian-penyesuaian, hambatan-hambatan serta bagaimana pemacahan masalahnya. Jika rekan-rekan pelatih bersedia menuliskannya, nantinya bisa kita sebarkan pengalaman berharga itu lewat blog ini.

Nilai plus dari buku manual pelatihan ini ada pada materinya yang tersusun secara sistematis berjenjang, terstruktur dengan susunan bangunan dari fundamental hingga advanced, dan terukur. Asupannya disesuaikan dengan kapasitas dan tingkat perkembangan anak-anak sejak dini hingga tumbuh lebih dewasa. Istimewa pula karena para penggunanya dipermudah oleh ratusan video tutorial pelengkapnya sehingga proses latihan sangat terbantu. Kita bahkan bisa memberikan lantihan mental imagery dulu dengan memberikan contoh video latihan sebelum latihan dimulai.

Video-video pelengkap ini jumlahnya ratusan, tersedia di channel youtube saya, di link ini COACH MOSES. Silakan klik link untuk membukanya. Pada channel tersebut bisa dipilih level yang sesuai dengan buku-buku manual ini.

Buku pertama yaitu tentang pelatihan Minibasket. Penekanan kata yang berulang-ulang akan kita baca adalah “FUN”, konsep rekreatif dari pengenalan olah raga untuk anak-anak usia dini sampai 12 tahun.

 

Ciri khas Buku Manual Pelatih Minibasket ini adalah dominasi warna kuning pada layout buku. Silakan klik gambar di atas untuk memperbesar tampilannya. Kita akan melihat beberapa bagian daftar isi yang menganjurkan para pelatih untuk menerapkan latihan yang game based namun tetap harus menyenangkan dan menarik untuk anak-anak kita.

Sejak awal, salah satu penekanan penting dalam pelatihan adalah pengajaran “values” atau nilai-nilai penting dan baik dalam kehidupan yang sepatutnya ditanamkan oleh pelatih. Hal ini ditekankan juga pada buku manual berikutnya, yaitu buku level 2.

Buku ini berciri khas warna biru di bagian sampul dan isi. Berjumlah 394 halaman, buku ini ditujukan untuk pelatihan anak usia sekolah menengah, namun tutorial latihan-latihan yang tersedia juga perlu untuk dilatihkan pada level berikutnya. Terutama jika kita menilai ada perbaikan dan pengembangak detail yang diperlukan sesuai hasil penilaian terhadap perkembangan anak-anak didik kita.

Pada dasarnya buku level 1, 2 dan 3, mengulang-ulang materi latihan fundamental bola basket dengan beberapa pendalaman serta peningkatan kualitas skill secara berjenjang pada level berikutnya.  Pada buku ini, pelatih diarahkan untuk mengembangkan kemampuan gerak dasar anak.

Bukan hanya semata teknis gerak, beberapa nilai penting untuk skill mental ikut dikembangkan pada latihan level 1. Untuk rekan-rekan pelatih, buku ini bagus sekali. Sudah disiapkan secara cermat oleh para  pelatih dan sejumlah ahli yang kompeten. materinya sangat lengkap dan padat. Pada saat kita akan menerapkannya, kita perlu memilih menu dan materi mana yang akan kita latihkan sesuai prioritas program pelatihan kita.

Buku level 2 ditandai dengan warna merah, berisi 368 halaman. sangat lengkap menguraikan tahap-tahap latihan lanjutan dari buku level Minibasket dan level 1 secara rinci dan berkesinambungan. Seperti halnya buku terdahulu, buku ini memberikan petunjuk lengkap untuk latihan fisik, teknik, taktik dan mental.

Materi yang disajikan sangat lengkap dan kemungkinan besar tidak seluruhnya dapat kita masukkan ke dalam sebuah program latihan jika periode program kita hanya beberapa bulan atau setahun saja. Kita harus memilih sesuai keperluan dan tujuan latihan.

Memang pada dasarnya FIBA menyediakan materi latihan secara komprehensif, namun juga menyediakan alternatif-alternatif sesuai perkembangan kemampuan dasar anak-anak kita.

Beberapa bagian dari buku level 2 mungkin dapat memberikan gambaran tentang outline buku ini.

Buku level 2 secara sistematis, terstruktur dan terukur sudah menyiapkan peningkatan jenjang belajar dan berlatih pada level berikutnya yaitu level 2 seperti terurai berikut ini.

Mungkin lebih baik jika kita bisa membaca dulu keseluruhan buku mulai level Minibasket, level 1, level 2 dan 3 agar kita tahu dulu konsep keseluruhannya.

Buku keempat yaitu manual pelatih level 3, berjumlah 280 halaman dengan ciri khas dominan warna hijau. Penekanan utama diarahkan pada kerjasama tim. Tactical skill yang berdasar pada individual technical skill dari masing-masing pemain yang diperoleh pada level latihan sebelumnya.

Buku level 3 ini dipenuhi berbagai skema taktis, yang akan jauh lebih mudah dipelajari jika disertai menonton video penjelasannya. Semua video tutorial pelengkap buku ini ada pada link youtube channel COACH MOSES. Silakan klik link aktif untuk membukanya.

Jika proses pelatihan kita pada level 1 dan 2 belum detail dan matang, penerapan materi latihan 3 ini mungkin agak terkendala, kalau pun dipaksakan sulit diharapkan untuk memenuhi standar kualitas permainan yang memadai.

Buku level 3 ini, sepertinya jika periode, durasi dan intensitas pelatihan sebelumnya memadai mungkin cocok untuk level mahasiswa perguruan tinggi. Namun jika anak-anak kita memang sudah mapan, ada beberapa pelajaran yang mungkin saja dapat kita terapkan untuk level sekolah menengah yang sudah advanced.

Ke 4 buku ini dapat diunduh dengan mengklik link aktif berikut ini:

  1. Mini-basketball.
  2. Level 1 3301_FIBA-WABC-Coaching-Manual-Level-1-updated-2018.
  3. Level 2.
  4. Level 3.

Baiklah rekan-rekan pelatih terkasih, semoga posting kali ini bermanfaat. Selamat melatih dan melayani. Semoga sehat sukses selalu.

 

Moses,

Banjarmasin, Juni 2020.

MODEL PENGEMBANGAN LIFE SKILL PADA PELATIHAN BOLA BASKET (Bagian 1)

Atas kasih Tuhan YME, diberi-Nya hikmat untuk berkarya lewat tulisan ini..

Seandainya ada mesin waktu, sebagai pelatih saya ingin kembali ke periode awal melatih pada tahun 1989, yang ingin saya lakukan adalah meminta maaf (lalu memperbaiki cara melatih) kepada anak-anak didik saya yang pertama di SMPN 2 Banjarbaru, SMAN 1 Banjarbaru dan SMAN Martapura (Johan, Ade, alm. Arul, Ucup, dll) karena kala itu saya tidak memberikan latihan yang bisa memperkaya life skill mereka. Malah justru anak-anak itu yang kemudian memperkaya wawasan saya sebagai pelatih muda.

Adalah kerugian besar jika privilese sebagai pelatih hanya digunakan untuk menjadikan anak didik sebagai jago basket saja dan tidak dimaksimalkan untuk memberi life skill yang bernilai lebih dalam, luas dan bisa berlaku pada waktu yang lebih lama dalam hidup anak-anak kita.

Saya yakin bahwa pengayaan life skill, meski dengan nama, bentuk dan format yang berbeda sudah dilakukan oleh para pelatih basket terutama yang senior, anrtusias dan berpengalaman. Tapi bagaimana dengan para pelatih muda seperti halnya saya di masa 31 tahun yang lalu?

Itulah sebabnya saya membuat sebuah blog bernama http://latihanbasket.com dan channel youtube hingga berlanjut dengan penulisan konsep ini.

Buku LS 01

Pada model ini, tahapan dan proses pengembangan life skill diadaptasikan secara sederhana dengan prinsip-prinsip keolahragaan sehingga diharapkan menjadi lebih kontekstual dan mudah dimaknai. Selain untuk bola basket, konsep ini juga dapat diterapkan pada cabang olah raga lainnya maupun kegiatan belajar mengajar lainnya yang banyak mengandung aktivitas gerak

Konsep ini hanya sebuah awal, menjadi lebih baik apabila rekan-rekan pelatih memberi masukan dan sama-sama memperkaya.

MODEL PENGEMBANGAN LIFE SKILL PADA PELATIHAN BOLA BASKET

@ LS Model

Sebelum masuk secara spesifik ke dalam pembahasan model pengembangan life skill pada pelatihan bola basket, ada baiknya di bagian awal kita memperluas wawasan umum tentang konsep life skill, pengertian-pengertian dasar serta konsep tentang pendidikan, pengembangan, belajar, dan pelatihan.

KONSEP LIFE SKILL

Kebutuhan dasar manusia, pembangunan yang dilakukan semua bangsa bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Kualitas hidup manusia ditentukan oleh tingkat pemenuhan kebutuhan yang paling utama bagi manusia, yang disebut dengan kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar merupakan berbagai keperluan yang diperlukan manusia untuk kelangsungan hidupnya. Kebutuhan dasar ini tidak statis, tetapi bersifat dinamis dan berkembang sesuai tingkat peradaban dan kesejahteraan manusia.

Life skill adalah kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problema kehidupan kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Dengan demikian pendidikan berorientasi life skill bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai kehidupan pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara.dengan hasil yang dapat mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Pengertian Pendidikan Life Skill
Menurut Para Ahli

Pengertian life skill atau biasa disebut sebagai kecakapan hidup jika di lihat dari segi bahasa berasal dari dua kata yaitu Life dan skill. Life berarti hidup, sedangkan skill adalah kecakapan, kepandaian, ketrampilan. Sehingga life skill secara bahasa dapat diartiakan sebagai kecakapan, kepandaian, keterampilan hidup. Umumnya dalam penggunaan sehari-hari orang menyebut life skill dengan istilah kecakapan hidup.

Menurur Listyono, kecakapan hidup (life skill) yaitu kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problematika kehidupan, kemudian secara proaktif dan kreatif, mencari serta menemukan solusi untuk mengatasi permasalahan.

Menurut Rais Saembodo dalam Wira Kurnia S (2006) mengatakan kecakapan, keterampilan (skill) menunjukkan suatu kecakapan atau keterampilan ini diperoleh melalui latihan atau pengalaman. Sasaran utama proses pengembangan sumber daya manusia dapat diarahkan pada usahausaha membina knowledge skill ability seoptimal mungkin.

Menurut IOWA State University (2003), life skill diartikan sebagai berikut, “a skill is a learned ability to do something well”. Kecakapan tidak hanya diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu, lebih daripada itu, kecakapan dimaknai sebagai kemampuan belajar untuk melakukan sesuatu secara lebih baik. Jadi mampu melakukan sesuatu saja belum cukup untuk dikatakan sebagai cakap, melainkan kemampuan untuk melakukan sesuatu tersebut harus ditunjukan secara lebih baik dan diperoleh melalui suatu aktivitas belajar.

Sedangkan life skill oleh IOWA State University (2003), diartikan sebagai, “are abilities individuals can lear that will help them to be successful in living a produktive and satisfying life”. Kecakapan hidup dimengerti sebagai kemampuan individual untuk dapat belajar sehingga seseorang memperoleh kesuksesan dalam hidupnya, produktif dan mampu memperoleh kepuasan hidup. Indikator seseorang telah memperoleh life skill dengan demikian dapat dilihat dari sejauhmana ia mampu eksis dalam kehidupnya di tengah-tengah masyarakat. Apabila seseorang mampu produktif dan membuat berbagai kesuksesan, maka dapat dikatakan orang tersebut memiliki life skill yang baik.

Menurut Anwar (2004) life skill adalah pendidikan yang dapat memberikan bekal ketrampilan yang praktis terpakai, terkait dengan kebutuhan pasar kerja, peluang usaha dan potensi ekonomi atau industri yang ada di masyarakat.

Broling (1989) mengemukakan bahwa life skill adalah interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh seseorang, sehingga mereka dapat hidup mandiri.

Kent Davis (2000) mengemukakan bahwa kecakapan hidup (life skill) “manual pribadi” bagi tubuh seseorang. Kecakapan ini membantu peserta didik belajar bagaimana memelihara tubuhnya, tumbuh menjadi dirinya, bekerja sama dengan secara baik dengan orang lain, membuat keputusan yang logis, melindungi dirinya sendiri dan mencapai tujuan didalam kehidupannya.(1997) life skill yaitu berupa berbagai keterampilan atau kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berprilaku positif, yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan dalam hidupnya sehari-hari secara efektif.

Buku LS 02

Menurut Kemendiknas

Istilah life skill menurut Depdiknas tidak semata-mata diartikan memiliki keterampilan tertentu (vocational job) saja, namun ia harus memiliki kemampuan dasar pendukungnya secara fungsional seperti mambaca, menghitung, merumuskan, dan memecahkan masalah, mengelolah sumber daya, bekerja dalam tim, terus belajar di tempat kerja mempergunakan teknologi.

Sedangkan pendidikan kecakapan hidup atau life skill menurut tim broad based education Depdiknas (2002) adalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara pro aktif dan kreatif dapat mencari serta menemukan solusi untuk mengatasinya.

Apa yang diungkapkan oleh Depdiknas tentu masih relevan dengan arahan pendidikan nasional saat ini. Hanya saja ada penguatan tertentu sesuai dengan pengembangan pendidikan sekaligus kebutuhan zaman yang semakin kompleks era ini.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian life skill adalah kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problema kehidupan kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Dengan demikian pendidikan berorientasi life skill bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai kehidupan pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara.dengan hasil yang dapat mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Jenis-Jenis Life Skill

Broling (1989) dalam pedoman penyelenggaraan program kecakapan hidup pendidikan non formal mengelompokkan life skill menjadi tiga kelompok, yaitu:

(1) Kecakapan hidup sehari-hari (daily living skill), antara lain meliputi ; pengelolahan rumah pribadi, kesadaran kesehatan, kesadaran keamanan, pengelolahan makanan-gizi, pengelolahan pakaian, kesadaran pribadi warga negara, pengelolahan waktu luang, rekreasi, dan kesadaran lingkungan.

(2) Kecakapan hidup sosial/ pribadi (personal/ social skill), antara lain meliputi ; kesadaran diri (minat, bakat, sikap, kecakapan), percaya diri, komunikasi dengan orang lain, tenggang rasa dan kepedulian pada sesama, hubungan antar personal, pemahaman masalah, menemukan dan mengembangkan kebiasaan positif, kemandirian dan kepemimpinan.

(3) Kecakapan hidup bekerja (vocational skill), meliputi: kecakapan memilih pekerjaan, perencanaan kerja, persiapan keterampilan kerja, latihan keterampilan, pengusahaan kompetensi, menjalankan suatu profesi, kesadaran untuk menguasai berbagai keterampilan, kemampuan menguasai dan menerapkan teknologi, merancang dan melaksanakan proses pekerjaan, dan menghasilkan produk barang dan jasa.

WHO (World Health Organization) mengelompokkan kecakapan hidup kedalam lima kelompok, yaitu :

(1) Kecakapan mengenal diri (self awareness) atau kecakapan pribadi (personal skill),

(2) Kecakapan sosial (sosial skill),

(3) Kecakapan berpikir (thinking skill),

(4) Kecakapan akademik (academic skill), dan

(5) Kecakapan kejuruan (vocational skill).

Slameto (2002) membagi life skill menjadi dua bagian yaitu: kecakapan dasar dan kecakapan instrumental. Life skill yang bersifat dasar adalah kecakapan universal dan berlaku sepanjang zaman, tidak tergantung pada perubahan waktu dan ruang yang merupakan fondasi bagi peserta didik baik di jalur pendidikan persekolahan maupun pendidikan non formal agar bisa mengembangkan keterampilan yang bersifat instrumental. Life skill yang bersifat instrumental adalah kecakapan yang bersifat relatif, kondisional, dan dapat berubah-rubah sesuai dengan perubahan ruang, waktu, situasi, dan harus diperbaharui secara terus-menerus sesuai dengan drap perubahan. Kalau dikaji lagi pada dasarnya kecakapan hidup (life skill) hanya ada empat jenis, yakni

(1) kecakapan pribadi (personal skill),

(2) kecakapan sosial (sosial skill),

(3) kecakapan akademik (academic skill), dan

(4) kecakapan kerja (vocational skill).

 

Misi dan Prinsip Pendidikan Life Skill

Life skill memiliki misi untuk meningkatkan kualitas keterampilan, kecakapan hidup dan profesionalitas, bagi anggota masyarakat yang membutuhkan dalam rangka meraih kesejahteraan jasmani dan rohani, dengan menerapkan prinsip belajar sepanjang hayat dan untuk meningkatkan daya saing bangsa diera global. Menurut Anwar (2004), prinsip-prinsip pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup (life skill) adalah sebagai berikut:

a) Tidak mengubah sistem pendidikan yang berlaku

b) Tidak mengubah kurikulum yang berlaku

c) Pembelajaran menggunakan prinsip empat pilar, yaitu: belajar untuk tahu, belajar untuk menjadi diri sendiri, belajar untuk melakukan, belajar untuk mencapai kehidupan bersama.

d) Belajar konstektual (mengaitkan dengan kehidupan nyata) dengan menggunakan potensi lingkungan sekitar sebagai wahana pendidikan.

e) Mengarah kepada tercapainya hidup sehat dan berkualitas, memperluas wawasan dan pengetahuan, dan memiliki akses untuk memenuhi standar kehidupan yang layak.

Sasaran dan Tujuan Pendidikan Life Skill

Sasaran life skill yaitu anggota masyarakat usia produktif 18-45 tahun, perempuan maupun laki-laki, putus sekolah maupun belum memilki pekerjaan, dengan kriteria :

a) Memiliki kemauan untuk belajar dan bekerja

b) Memiliki komitmen mengikuti kegiatan belajar sampai dengan selesai yang dibuktikan dengan surat pernyataan kesedihan kesanggupan belajar.

c) Domisi warga masyarakat desa yang berada pada lingkup satu kecamatan.

 

Secara umum tujuan pendidikan life skill yaitu untuk memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya yaitu untuk mengembangkan potensi manusiawi (peserta didik) untuk menghadapi peranannya dimasa yang akan datang.

Tujuan dari orientasi life skill adalah untuk memberikan pengalaman belajar yang berarti bagi peserta didik yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan di dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun tujuan pendidikan life skill secara khusus bila dirinci adalah sebagai berikut:

a) Melaksanakan program-program pendidikan dan pelatihan yang mampu mengembangkan ketrampilan, keahlian dan kecakapan serta nilai-nilai keprofesian untuk mendorong produktivitas sebagai tenaga kerja yang handal atau kemandirian berusaha.

b) Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengikuti program khusus berbasis kompetensi, serta fasilitasi penempatan kerja pada dunia usaha / industri dan / atau berusaha mandiri.

Life skill adalah kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problema kehidupan kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Dengan demikian pendidikan berorientasi life skill bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai kehidupan pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara.dengan hasil yang dapat mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Apa komponen utama dari life skills? World Health Organisation (WHO) mengkategorikannya ke dalam tiga komponen :

a) Ketrampilan berpikir kritis/ ketrampilan membuat keputusan termasuk ketrampilan pemecahan masalah dan pengumpulan informasi. Seseorang harus berketrampilan mengevaluasi konsekuensi masa depan atas tindakannya dan tindakan orang lain terhadapnya saat ini. Mereka perlu kemampuan untuk menentukan alternatif pemecahan masalah untuk menganalisis pengaruh dari nilai-nilai mereka dan bagi nilai orang-orang di sekitar mereka.

b) Ketrampilan interpersonal/ komunikasi– mencakup komunikasi verbal dan non verbal, mendengar secara aktif, kemampuan mengekspresikan perasaan dan memberikan umpan balik. Juga termasuk dalam kategori ini yaitu kemampuan bernegosiasi/ menolak dan dan ketrampilan bersikap tegas yang secara langsung berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk mengelola konflik. Empati, yang merupakan kemampuan untuk mendengar dan mengerti kebutuhan orang lain, juga merupakan kunci bagi ketrampilan interpersonal. Termasuk juga di dalamnya kerjasama dalam tim dan kemampuan bekerjasama, kemampuan menyatakan hormat bagi orang-orang di sekitarnya. Pengembangan ketrampilan ini memberikan kemampuan bagi anak untuk beradaptasi dalam masyarakat. Ketrampilan-ketrampilan ini memberikan hasil dalam situasi penerimaan norma-norma sosial yang menjadi dasar perilaku sosial orang dewasa.

c) Ketrampilan penanganan (Coping) dan manajemen diri merujuk pada ketrampilan-ketrampilan yang meningkatkan kontrol dari dalam diri, sehingga orang itu yakinn bahwa ia mampu membuat perubahan dan mempengaruhi perubahan itu. Self esteem, self-awareness, dan ketrampilan self-evaluationdan kemampuan untuk menetapkan tujuan juga merupakan bagian dari kategori umum dari ketrampilan mengelola diri  (self-management skills). “Anger, grief and anxiety must all be dealt with, and the individual learns to cope loss or trauma. Stress and time management are key, as are positive thinking and relaxation techniques.”

LeMahieu (1999) melaporkan bahwa hasil-hasil penelitian menunjukkan beberapa manfaat dari  Life Skills-Based Education yaitu : berkurangnya perilaku kekerasan; meningkatnya perilaku pro-sosial yang positif dan yang negatif berkurang; berkurangnya perilaku merusak diri sendiri; meningkatnya kemampuan membuat perencanaan masa depan dan memilih solusi atas permasalahan yang dihadapi; meningkatnya citra diri, kesadaran diri, kemampuan penyesuaian sosial; meningkatnya perolehan pengetahuan; membaiknya perilaku di dalam kelas; kemajuan dalam hal kontrol diri dan penanganan masalah-masalah inter-personal dan coping kecemasan; meningkatnya pemecahan masalah dengan rekan sebaya. Penelitian juga telah membuktikan bahwa sex education yang didasarkan pada life skill memberikan hasil berupa perubahan yang lebih efektif dalam penggunaan kontrasespsi bagi remaja; penundaan aktivitas pengalaman seksual pertama; pencegahan penggunaan alkohol dan marijuana serta pengembangan sikap dan perilaku yang diperlukan untuk menghadapi penyebaran HIV/AIDS.

Beberapa landasan teoretik yang berkaitan dengan konsep life skill yang digunakan dalam penelitian  ini berhubungan dengan Contextual Learning.

Contextual learning atau pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang dekat dengan pengalaman aktual. Pembelajaran kontekstual adalah suatu konsepsi yang membantu guru untuk menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk menghubungkan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka baik sebagai anggota keluarga, warga negara atau pekerja serta mengaitkannya dengan kebutuhan yang diperlukan dalam belajar.(Blanchard, 1991).

Menurut Simpson, (1992) dalam teori pembelajaran kontekstual, pembelajaran terjadi hanya apabila siswa (pembelajar) memproses informasi baru atau pengetahuan dengan suatu cara yang masuk akal menurut kerangka pikirnya sendiri (keadaan dalam dunianya sendiri, pengalaman atau tanggapan). Pendekatan pembelajaran kontekstual  terhadap belajar dan mengajar  menganggap bahwa pada dasarnya pikiran mencari suatu makna dalam suatu konteks—yaitu, dalam hubungannya dengan lingkungan sekarang darinya.—dan ini terjadi seperti itu dengan mencari hubungan-hubungan yang dapat diterima (masuk akal) dan kemudian dipahami bahwa ternyata hal itu berguna. Beberapa hal yang menjadi karakter pembelajaran kontekstual menurutnya yaitu  yaitu :

a) Menitikberatkan pada pemacahan masalah

b) Diorganisasikan dengan keadaan dunia sekeliling

c) Memungkinkan berbagai variasi sumber belajar

d) Lebih mendorong terlaksananya pembelajaran di luar kelas

e) Menghargai pengalaman belajar siswa dalam proses pembelajaran

f) Mendorong adanya pembelajaran kolaboratif

Pendidikan, Pelatihan, Pengembangan dan Belajar

Berikut ini disampaikan beberapa pengertian-pengertian dasar serta konsep umum tentang pendidikan, pengembangan, belajar, dan pelarihan.

Buku LS 03

Penjelasan lainnya:

  1. Pelatihan merupakan bagian dari suatu proses pendidikan, yang tujuannya untuk meningkatkan kemampuan atau keterampilan khusus seseorang atau kelompok orang.
  2. Merupakan suatu proses berkelanjutan untuk meniadakan/memperkecil kesenjangan antara kemampuan seseorang, dengan kemampuan yang diharapkan oleh perusahaan di dalam suatu jabatan/ pekerjaan tertentu.
  3. Latihan (training) dimaksudkan untuk memperbaiki penguasaan berbagai keterampilan dan teknik pelaksanaan kerja tertentu, terinci, dan rutin, dan untuk masa sekarang.
  4. Dalam dunia kerja, pelatihan adalah suatu kegiatan yang direncanakan oleh perusahaan/ institusi untuk memfasilitasi proses belajar karyawan terhadap kompetensi dalam pekerjaannya (noe, 2002).

Buku LS 04Buku LS 05

PENJELASAN UNSUR MODEL SECARA BERTAHAP

Secara keseluruhan, model ini terdiri dari 6 bagian dengan uraian per bagian sebagai berikut:

Buku LS 06

Bagian berikutnya nanti, kita akan membahas model dan unsur-unsurnya. Seperti terlihat pada gambar di atas, ada enam kelompok bagian unsur latihan. Nanti di tulisan berikutnya akan akan kita bahas satu per satu.

Salam.

Banjarmasin, 25 Juni 2020

Coach Moses,

MENGEMBANGKAN LIFE SKILL PADA PELATIHAN BOLA BASKET

Ketika membaca LTAD (Long Term Athlete Development) untuk Bola Basket di USA, saya terkesan karena sejak dini mereka mengarahkan seluruh pelatih dan semua stakeholder yang terlibat untuik menanamkan pendidikan life skill bagi anak-anak yang berlatih basket sejak dini.  Terbayang betapa luas dan dalam makna pelatihan basket jika hal semacam ini juga kita terapkan ke dalam pelatihan basket kita di Indonesia. Rekan-rekan pelatih basket, berikut ini sebuah karya tulis lama yang pernah saya posting di blog saya bahansekolahminggu.online yang dirasa perlu untuk memperluas wawasan kita bersama, dan MUNGKIN SEKALI UNTUK KITA KEMBANGKAN PULA DALAM PELATIHAN BOLA BASKET.

Selamat membaca.

life skillllll

Dari sudut pandang ilmu pendidikan dikenal istilah “life skill” atau ketrampilan hidup.  Di Amerika Serikat, LeMahieu (1999) dari Department of Education State of Hawaii menyatakan “Enambelas tahun yang lalu publikasi yang berjudul “A Nation at Risk” menyebabkan suatu reformasi pendidikan dan perdebatan multidimensional di AS mengenai masa depan pendidikan di sana.”

Kemudian salah satu hasil dari gelombang reformasi pendidikan tersebut adalah lebih intensifnya pengembangan “life skill”, bahkan kemudian perdebatan dan konsep-konsep yang diajukan tersebut bukan hanya berkembang pesat di AS, namun meluas hingga ke seluruh dunia. Beberapa literatur dan laporan menyebutkan pengembangan konsep tersebut di benua Eropa, Asia,  dan Afrika. Sehingga kemudian PBB lewat UNICEF, WHO dan UNESCO mengembangkan konsep ketrampilan hidup ke dalam berbagai program antara lain kesehatan, kependudukan, dan pendidikan.

Definisi WHO mengenai “life skill” adalah the abilities for adaptive and positive behaviour that enable individuals to deal effectively with the demands and challenges of everyday life“. UNICEF mendefinisikannya sebagai : “a behaviour change or behaviour development approach designed to address a balance of three areas: knowledge, attitude and skills”.  UNICEF, UNESCO dan WHO membuat daftar sepuluh strategi pokok life skill yaitu :

  1. problem solving,
  2. critical thinking,
  3. effective communication skills,
  4. decision-making,
  5. creative thinking,
  6. interpersonal relationship skills,
  7. selfawareness building skills,
  8. empathy, 
  9. coping with stress and
  10. coping with emotions.

Self-awareness, self-esteem dan self-confidence adalah hal yang penting untuk mengerti kekuatan dan kelemahan seseorang.

Townson (2004) menyebutkan bahwa “life skill” pada setiap orang itu berbeda-beda, pengertian life skill menurutnya yaitu pengetahuan dan kemampuan yang memungkinkan seseorang untuk berfungsi di dalam masyarakat.

Ketrampilan Hidup (Life Skill)

Prianto (2001) bahwa mengungkapkan konsep pendidikan di Indonesia masih mengajarkan ‘kulit arinya’ saja. Artinya, murid hanya disodori setumpuk materi tanpa menyentuh kebutuhan yang lebih dalam dari seorang anak. Menurut Rose, hakekat belajar lebih sering diterjemahkan sebagai mengejar nilai, NEM atau ranking saja tanpa memperhatikan mutu, tingkah laku dan perkembangan pribadi anak. Kurikulum yang ada saat ini nampaknya belum mampu menemukan esensi pendidikan serta membantu mengembang kreativitas anak. Pemenuhan hak-hak anak seringkali juga tidak terpenuhi pada kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat. Ambil contoh, hak bermain dan berekreasi mereka terganggu oleh jadwal sekolah yang padat, kurikulum yang melampaui beban, ataupun jadwal kursus yang bertubitubi harus dihadapi oleh seorang anak. Pendidikan dalam kondisi ini sarat diartikan untuk menjejali anak dengan pengetahuan sebanyak-banyaknya bukannya pada pengembangan anak akan pengetahuan esensial yang penting bagi kehidupan.

Sujono Jachja, Wakil Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak mengatakan dalam artikel Majalah Suar, Nopember 2001 sebenarnya masalah-masalah kesejahteraan anak dan hak anak atas pendidikan sudah dibicarakan mendalam. Ini mengingat Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi mensyaratkan bahwa setiap anak harus mendapatkan hak-haknya termasuk untuk pendidikan dasar. Namun demikian, Sujono melihat, secara realistis boleh jadi pemerintah mengalami kesulitan untuk memberikan perhatian kepada sekitar 45 juta anak, yaitu mereka yang berusia di bawah 18 tahun dan belum menikah, yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. “Sebagai negara yang telah meratifikasi Konvensi Internasional, pemerintah hendaknya melakukan upaya-upaya bertahap agar implementasi dari instrumen-instrumen hak asasi manusia dapat dilakukan,” jelasnya. Ditanya soal tanggung jawab untuk dapat dipenuhinya wajib belajar pendidikan dasar, Sujono Jachja mengatakan pendidikan dasar yang dimaksud bukan sekedar compulsory atau wajib belajar di sekolah, tetapi pendidikan pokok yang tidak hanya dilakukan oleh pemerintah dan wajib ditanggung pemerintah. Menurutnya, masyarakat juga dapat mengawali dan melakukannya. “Yang meski kita lakukan adalah universal education. Artinya, pendidikan itu dapat dinikmati oleh semua anak di semua tempat,” papar Sujono. Sementara itu, Saparinah Sadli, wakil ketua Komnas HAM menekankan, pendidikan formal bukanlah alternatif satu-satunya untuk melakukan proses belajar. Dikatakan, masalah kesempatan untuk memenuhi hak atas pendidikan idealnya memang tidak hanya diartikan secara sempit sebagai bersekolah (formal). “Apabila sumber daya di lingkungan sekitarnya tidak memadai, maka dapat dilakukan pendidikan alternatif dengan menggunakan sumber daya yang ada. Institusi agama dan adat dapat juga melakukan upaya-upaya pendidikan bagi anak-anak,” ujarnya. Saparinah Sadli menambahkan masyarakat dapat mencoba memberikan atau memenuhi pendidikan anak walaupun tidak dalam bentuknya yang formal dan berdasarkan kurikulum. Yang lebih penting, katanya, adanya sebuah kegiatan yang substansi dan bentuknya dalam arti luas dari pendidikan yaitu menyampaikan kepada anak tentang informasi atau ajaran yang dapat mengembangkan anak yang bersangkutan.

Dengan demikian diharapkan anak dapat mengenal dan mengerti apa yang perlu dia pahami pada usianya sebagai anak yang merupakan bagian dari suatu komunitas. “Lingkungan dan komunitas seringkali memiliki kegiatan yang disesuaikan dengan apa yang tersedia, apakah dana, orang atau gurunya. Setiap komunitas dapat berbuat sesuatu untuk anak-anak dan masa depannya,” tambahnya.

Sejalan dengan berbagai kondisi di Indonesia belakangan ini, saya yakin bahwa pelatihan bola basket yang tertata, mampu memberikan sumbangsih dalam dunia pendidikan terutama untuk pengembangan karakter selain dari yang diberikan di sekolah.

Menurut Minnesota Department of Children, Families, and Learning (1997) dalam Sims (1998), “Students are learning both to learn and to work. Learning and working are becoming synonyms. Both require practice, guidance, and support.”  The Minnesota Department of Children, Families, and Learning memberikan definisi bekerja sebagai suatu usaha produktif yang meliputi baik pekerjaan yang dibayar dan yang tidak dibayar seperti menjadi pelajar, melaksanakan kerja sebagai orang tua, mengurus rumah, mengerjakan hobi, atau pelayanan kerja sukarela.  Pekerjaan dalam kehidupan merujuk pada kegiatan bekerja sepanjang masa hidup dan bagaimana pekerjaan tersebut dikembangkan dan diselesaikan melalui pengalaman belajar yang direncanakan maupun tidak direncanakan.

Sims (1998) kemudian menyimpulkan bahwa : “It is clear that schools alone cannot prepare youth for their life work. To instill the capabilities of work/life skills in young people, public agencies, organizations, employers, communities, parents, and the school system must work together.”

Di AS dikembangkan suatu program berskala nasional untuk mengembangkan life skill, disebut dengan 4-H, yaitu program pengembangan pendidikan dari University of Illinois Extension. Program ini terdiri dari serangkaian delivery modes dimana pemuda belajar dalam setting grup atau dari dirinya sendiri. Seorang tuan rumah yang memandu aktivitas memperkaya program ini dengan sejumlah pengalaman.

Apa komponen utama dari life skills? World Health Organisation (WHO) mengkategorikannya ke dalam tiga komponen :

a)       Ketrampilan berpikir kritis/ ketrampilan membuat keputusan termasuk ketrampilan pemecahan masalah dan pengumpulan informasi. Seseorang harus berketrampilan mengevaluasi konsekuensi masa depan atas tindakannya dan tindakan orang lain terhadapnya saat ini. Mereka perlu kemampuan untuk menentukan alternatif pemecahan masalah untuk menganalisis pengaruh dari nilai-nilai mereka dan bagi nilai orang-orang di sekitar mereka.

b)      Ketrampilan interpersonal/ komunikasi– mencakup komunikasi verbal dan non verbal, mendengar secara aktif, kemampuan mengekspresikan perasaan dan memberikan umpan balik. Juga termasuk dalam kategori ini yaitu kemampuan bernegosiasi/ menolak dan dan ketrampilan bersikap tegas yang secara langsung berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk mengelola konflik. Empati, yang merupakan kemampuan untuk mendengar dan mengerti kebutuhan orang lain, juga merupakan kunci bagi ketrampilan interpersonal. Termasuk juga di dalamnya kerjasama dalam tim dan kemampuan bekerjasama, kemampuan menyatakan hormat bagi orang-orang di sekitarnya. Pengembangan ketrampilan ini memberikan kemampuan bagi anak untuk beradaptasi dalam masyarakat. Ketrampilan-ketrampilan ini memberikan hasil dalam situasi penerimaan norma-norma sosial yang menjadi dasar perilaku sosial orang dewasa.

c)       Ketrampilan penanganan (Coping) dan manajemen diri merujuk pada ketrampilan-ketrampilan yang meningkatkan kontrol dari dalam diri, sehingga orang itu yakinn bahwa ia mampu membuat perubahan dan mempengaruhi perubahan itu. Self esteem, self-awareness, dan ketrampilan self-evaluation dan kemampuan untuk menetapkan tujuan juga merupakan bagian dari kategori umum dari ketrampilan memanaje diri  (self-management skills). Anger, grief and anxiety must all be dealt with, and the individual learns to cope loss or trauma. Stress and time management are key, as are positive thinking and relaxation techniques.

LeMahieu (1999) melaporkan bahwa hasil-hasil penelitian menunjukkan beberapa manfaat dari  Life Skills-Based Education yaitu: berkurangnya perilaku kekerasan; meningkatnya perilaku pro-sosial yang positif dan yang negatif berkurang; berkurangnya perilaku merusak diri sendiri; meningkatnya kemampuan membuat perencanaan masa depan dan memilih solusi atas permasalahan yang dihadapi; meningkatnya citra diri, kesadaran diri, kemampuan penyesuaian sosial; meningkatnya perolehan pengetahuan; membaiknya perilaku di dalam kelas; kemajuan dalam hal kontrol diri dan penanganan masalah-masalah inter-personal dan coping kecemasan; meningkatnya pemecahan masalah dengan rekan sebaya. Penelitian juga telah membuktikan bahwa sex education yang didasarkan pada life skill memberikan hasil berupa perubahan yang lebih efektif dalam penggunaan kontrasespsi bagi remaja; penundaan aktivitas pengalaman seksual pertama; penundaan penggunaan alkohol dan marijuana serta pengembangan sikap dan perilaku yang diperlukan menghadapi penyebaran HIV/AIDS.

Beberapa landasan teoretik yang berkaitan dengan konsep life skill yang digunakan dalam penelitian  ini berhubungan dengan Contextual Learning.

Contextual learning atau pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang dekat dengan pengalaman aktual. Pembelajaran kontekstual adalah suatu konsepsi yang membantu guru untuk menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk menghubungkan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka baik sebagai anggota keluarga, warga negara atau pekerja serta mengaitkannya dengan kebutuhan yang diperlukan dalam belajar.(Blanchard, 1991).

Menurut Simpson, (1992) dalam teori pembelajaran kontekstual, pembelajaran terjadi hanya apabila siswa (pembelajar) memproses informasi baru atau pengetahuan dengan suatu cara yang masuk akal menurut kerangka pikirnya sendiri (keadaan dalam dunianya sendiri, pengalaman atau tanggapan). Pendekatan pembelajaran kontekstual  terhadap belajar dan mengajar  menganggap bahwa pada dasarnya pikiran mencari suatu makna dalam suatu konteks—yaitu, dalam hubungannya dengan lingkungan sekarang darinya.—dan ini terjadi seperti itu dengan mencari hubungan-hubungan yang dapat diterima (masuk akal) dan kemudian dipahami bahwa ternyata hal itu berguna.

Beberapa hal yang menjadi karakter pembelajaran kontekstual menurutnya yaitu  yaitu :

a)      Menitikberatkan pada pemacahan masalah

b)      Diorganisasikan dengan keadaan dunia sekeliling

c)      Memungkinkan berbagai variasi sumber belajar

d)     Lebih mendorong terlaksananya pembelajaran di luar kelas

e)      Menghargai pengalaman belajar siswa dalam proses pembelajaran

f)       Mendorong adanya pembelajaran kolaboratif

Sedangkan model yang dijadikan dalam penyusunan model, yang juga menjadi salah satu acuan dalam meneliti kebutuhan anak jalan terhadap life skill  tertentu adalah model TLS atau Targeting Life Skill yang dikembangkan oleh Hendricks dan tim Iowa State University Extention.

Menurut Hendricks (1996) dalam Sims (1998), perkembangan pemuda adalah suatu proses mental, fisik dan pertumbuhan sosial selama suatu masa dimana para pemuda dipersiapkan untuk hidup secara produktif dan memuaskan dalam kebiasaan dan peraturan masyarakat.

Hendricks mendefinisikan life skill sebagai skill yang membantu seorang individu agar sukses dalam hidup yang produktif dan memberikan kepuasan. Hendricks mengembangkan Targeting Life Skills (TLS) model pada gambar di bawah.

TargetingLifeSkills

 

Gambar 1. Model Targeting Life Skills (TLS).

Dalam model TLS ini, kategori life skill dibagi berdasarkan model 4H: yaitu Head (kepala, terdiri dari managing dan  thinking), Heart (hati, terdiri dari relating  dan caring), Hands (tangan, terdiri dari giving dan  working), dan Health (kesehatan, terdiri dari living  dan  being).

Dengan model TLS, perencana program dapat membantu pemuda untuk mencapai potensinya melalui pendekatan positif terhadap pengembangan life skill, penyampaian informasi dan latihan skill yang sesuai tingkat perkembangan, menuliskannya dengan spesifik, tujuan penghembangan life skill yang terukur, melengkapi rencana instruksional yang memberikan pengalaman berdasarkan teori belajar berpengalamanuntuk mencapai life skill dan mengidentifikasi indikator perubahan yang terukur juga untuk mengevaluasi pengaruh progam.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa pengembangan life skill memungkinkan sekali untuk diterapkan pada proses pelatihan bola basket.

Semua unsur life skill dapat kita kembangkan di latihan rutin maupun pertandingan. Jika ini kita laksanakan, maka proses pelatihan basket kita akan menjadi lebih bermakna secara lebih luas, bukan hanya untuk di lapangan tapi jauh merambah keseharianan anak-anak basket kita di tempat lainnya.

Bukan hanya pada saat anak-anak basket kita bermain basket, tapi jauh melampaui masa-masa ketika mereka bermain basket. Jika lewat latihan basket kita bisa mengembangkan self awareness, self concept, self esteem hingga self confidence dan self efficacy, mengembangkan kemampuan negosiasi, menguatkan kemampuan mereka untuk mengatasi stressor, mampu mengendalikan emosi, berpikir kritis dan kreatif, cepat dan tepat mengambil keputusan, mampu berkomunikasi secara efektif, memiliki empati,  mau bekerja keras, trampil membangun skill yang dibutuhkannya, bukan kah itu semua sangat memungkinkan untuk diterapkan?

Salah satu perolehan penting juga saya dapatkan dari sebuah webinar yang diadakan Perbasi Kota Makassar oleh coach Jerry Lolowang yang mengajar tentang penerapan PCC (Player’s Code of Conduct) yang menganjurkan untuk menanamkan kultur hidup yang sehat dan bermartabat bagi para atlet basket yang kita bina, berlaku di dalam dan di luar lapangan.

Tak lama kemudian pemahaman saya diperkuat lagi dengan sejumlah materi yang disampaikan oleh beberapa pelatih FIBA dari Australia yang ternyata juga sangat menekankan pembembangan karakter ketika melatih para pemain usia dini.

Hal semacam ini pula yang dianjurkan oleh coach Ricky dari Jawa Barat. Pada seminarnya, ia lebih dulu mengajarkan pembentukan karakter sebelum memberikan materi teknis. Menyiratkan bahwa pengembangan karakter adalah sesuatu yang terlalu berharga jika kita abaikan ketika kita memiliki privilese sebagai pelatih basket.

Mari kita mulai saja dari sekarang, selamat mencoba ya teman-teman pelatih semuanya. Semoga sukses.

Resume Tugas Karya Tulis a.n. Mos F.  dan dari berbagai sumber

LBP, Pelatihan Basket Virtual Gratis

Apakah hasil terpenting, terbaik dan paling berharga dari kegiatan berbolabasket? Apakah trofi? hadiah uang? nama besar? popularitas? Bukan, itu semua hanya hasil ikutan. Menurut kami, bersama teman-teman alumni Pelatih DBL Camp 2017, sepakat bahwa hasil terbaiknya adalah silaturahmi yang baik, sehat dan rukun sepanjang hayat. Baik silaturahmi dengan anak didik, sejak dilatih hingga mereka tumbuh besar, dewasa sampai tua. Silaturahmi dengan sesama pelatih, wasit, pengurus klub, sekolah atau organisasi yang memayungi komunitas kita, Perbasi.

Dalam menjaga silaturahmi itulah kami kerap berdiskusi. Terutama di masa pendemi ini. Sesaat setelah mengikuti berbagai webinar, kami juga mengadakan diskusi-diskusi dan saling lempar ide, salah satu ide itu adalah membuka sekolah basket. Lha bagaimana caranya? Situasi masih seperti ini, modal tidak punya untuk bangun lapangan, dll. Jangankan bangun lapangan buat beli bola saja harus nabung dulu, apalagi kerjaan melatih lagi sepi begini, ha ha ha… akhirnya diskusi kami hanya bisa diakhiri dengan tertawa bareng dan saling menghibur sambil berharap perbolabasketan segera rame kembali. 

Apakah para coaches yang selalu mengajarkan agar anak-anaknya tangguh dan pantang menyerah kemudian semudah itu berpasrah diri? Tidak. Masing-masing kami tetap punya impian besar untuk membangun sekolah basket, dan embrio untuk memulainya adalah Program Latihan Basket Privat atau disingkat LBP.

LATIHAN BASKET PRIVAT (INDIVIDUAL)

Latihan Basket Privat (LBP) adalah sebuah kegiatan yang diinisisasi oleh kelompok Alumni Pelatih DBL Camp 2017 bersama LATIHANBASKET.COM sebagai sebuah upaya untuk memajukan bola basket di Indonesia dengan memaksimalkan peran para pelatih dari seluruh Indonesia untuk memberikan latihan individual secara intensif pada ruang yang berbeda namun serasi serta saling mendukung dengan kegiatan-kegiatan pelatihan di klub dan atau lembaga lainnya.

Kover kolase 2 LBP Panah PENGANTAR ed c

Silakan klik gambar di atas untuk mendengar penjelasan pengantar mengenai program LBP.

Program ini dimaksudkan untuk memberikan sebuah standar untuk kegiatan pelatihan secara privat secara terstruktur, sistematis dan terukur, sesuai dengan kaidah-kaidah proses latihan olahraga serta menerapkan prinsip-prinsip belajar-mengajar yang bisa dipertanggungjawabkan.

LBP pada tahap awal bergerak secara online dan memberikan bimbingan virtual kepada para peserta latihan. Kegiatan online gratis dan tidak berbayar, namun jika peserta latihan menginginkan kegiatan pelatihan secara langsung (offline) maka peserta latihan/ pemain yang bersangkutan membayar langsung kepada pelatihnya masing-masing.  Para pelatih program LBP adalah pelatih-pelatih yang bekerjasama dengan LATIHANBASKET.COM dan memiliki sejumlah materi yang disediakan untuk program LBP. (Coaches lainnya, ayo bergabung. Caranya mudah sekali kok, kontak saja admin ya).

LBP menyediakan kurikulum baku yang sesuai dengan standar pelatihan bola basket internasional yang disediakan oleh FIBA yang kemudian diaplikasikan oleh para pelatih yang bergabung bersama LBP.

Semua peserta/ pemain yang telah mengikuti program LBP akan mendapatkan sertifikat, lengkap dengan raport hasil penilaian yang diberikan oleh masing-masing pelatihnya dalam program LBP.

Para pelatih yang tergabung ke dalam LBP hanya para pelatih yang pernah mendapatkan lisensi pelatih dari Perbasi baik pada level A, B atau C. Semua pelatih LBP akan diperkenalkan pada akun resmi LATIHANBASKET.COM  dan channel youtube yang terkait. Kami akan membuatkan profil perkenalan untuk setiap pelatih yang tergabung dalam program LBP.

Para pelatih yang tergabung dalam program LBP mendapatkan kartu anggota dan menerapkan standar LBP sebagai standar minimal, boleh menambahkan atau membuat penyesuaian sesuai kebutuhan pelatihan secara langsung/ offline.

Para pelatih tersebut akan mendapatkan seluruh materi pelatihan secara gratis dan boleh membagikannya kepada para murid/ pemain yang tergabung dalam program LBP dalam kaitannya dengan pelaksanaan program latihan secara langsung.

Setelah peserta berhasil menjalankan program latihan sesuai standar program LBP, kami akan mengirimkan sertifikat kelulusan sesuai dengan rekomendari nilai yang diberikan oleh para pelatihnya.

Para pelatih dan peserta wajib mengirimkan sekurangnya 2 (dua) rekaman video latihan untuk setiap tahap, yang secara jelas memperlihatkan proses latihan, lengkap dengan penjelasan yang disampaikan oleh pelatih dan bisa ditambahkan dengan penjelasan atau tanggapan dari peserta yang bersangkutan. Video tersebut akan dipublikasikan pada blog LATIHANBASKET.COM dan channel youtube Coach Moses atas ijin dari pemilik video dan pelatih/ atau peserta latihan yang ada pada video rekaman latihan tersebut.

Secara garis besar, kisi-kisi program LBP adalah sebagai berikut:

  1. Stance dan Visi
  2. Steps
  3. Slide
  4. Pivot dan Penguatan Footwork
  5. Ball Handling
  6. Dasar Dribel
  7. Get Open dan Stop
  8. Dasar Triple Threats
  9. Passing dan Variasinya
  10. Dribel Lanjutan dan Variasinya
  11. Rebounding
  12. Gerak Defense
  13. Drive
  14. Shooting
  15. Center dan Post
  16. Aplikasi Skill dan Membuat Keputusan

Semua materi latihan sesuai menu pada program LBP telah disusun sedemikan rupa sehingga fleksibel dan bisa disesuaikan dengan situasi pada masing-masing pelatihan langsung. Setiap materi dilengkapi dengan video tutorial yang bisa digunakan baik oleh pelatih atau pemain sehingga bisa memudahkan proses dan memungkinkan pengayaan latihan dengan latihan visualisasi/ imagery training yang sangat berguna untuk proses belajar mengajar.

Kover kolase 2 LBP Panah MENU LATIHAN ed c

Silakan klik gambar di atas untuk mendengar penjelasan umum mengenai menu latihan pada program LBP.

Sebelum program LBP secara langsung/ offline dimulai, pelatih dan peserta akan membahas secara bersama tentang materi apa saja yang dipilih oleh peserta latihan, goal setting, jadual latihan, intensitas latihan dan sebagainya, sesuai dengan form checklist yang kami sediakan untuk mempermudah proses.

Setelah peserta latihan dan pelatih sepakat, perlu diadakan terlebih dahulu assesment dan observasi yang dilakukan bersama untuk mengukur kondisi fisik awal dan skill level peserta program LBP, dan pada akhir program kembali dilakukan assesment untuk mengukur progress hasil program latihan. Instrumen assesment dan prosedur observasi kami sediakan dengan tetap memberikan ruang untuk penilain secara pribadi oleh masing-masing pelatih terhadap peserta latihannya.

Pada pelaksanaannya, program LBP dilaksanakan secara terrencana dengan menerapkan prinsip-prinsip latihan dan disesuaikan dengan tingkatan status fisik, kondisi peserta latihan, umur, tingkat kecakapan dan kebutuhan latihan yang diperlukan untuk meningkatkan performa setiap peserta yang mengikuti program LBP.

Untuk mencapai peningkatan performa tersebut, program LBP secara proporsional akan mengolah 4 (empat) komponen prestasi yaitu:

  1. Fisik, diberikan latihan sesuai kebutuhan sehingga bisa meningkatkan kapasitas fisik agar kegiatan latihan teknik bisa maksimal. Bagaimana ukuran beban, jenis dan intensitas latihan akan ditentukan oleh penilaian awal yang dilakukan secara bersama oleh peserta dengan pelatihnya.
  2. Teknik, diberikan latihan teknik secara mendetail sehingga peserta latihan bisa memperbaiki teknik yang sudah dimiliki dan mendapatkan teknik baru untuk meningkatkan skill.  Dengan pemahaman dasar bahwa skill adalah kemampuan pemain untuk menerapkan teknik-teknik permainan bola basket secara presisi (tentang waktu atau timing), secara akurat (tentang ketepatan unsur gerakan) dan secara adjustable pada saat eksekusinya, akan ditingkatkan dengan prinsip adaptasi sehingga tercapai otomatisasi gerak teknikal  lewat repetisi latihan gerak yang memadai.
  3. Taktik, latihan taktik adalah latihan untuk sebuah tim, namun secara individual diperlukan kemampuan-kemampuan agar bisa menerapkan taktik dengan lebih baik. Hal ini disebut dengan individual tactical skill sehingga pemain lebih mampu menerapkan taktik regu.
  4. Mental, latihan untuk memantapkan mental skill akan diberikan sejak awal program. Dimulai dengan goal setting yang melibatkan peserta secara langsung. Dengan menetapkan goal setting bersama si pemain/ peserta latihan mengetahui secara persis tujuan apa yang akan dicapai. Selain itu juga diberikan pelatihan mental baik dengan imagery training hingga, peningkatan rasa percaya diri dan pembelajaran berpengalaman (experential learning) hingga latihan self talk. Sebelum program dimulai, juga diberikan pengantar tentang edukasi program dan beberapa pengetahuan yang perlu diketahui para pemain agar memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkan performanya.

Pada masing-masing latihan sesuai menu program LBP akan diberikan uraian sehingga pemain, pelatih dan pihak terkait bisa mendapat informasi lebih detail mengenai “why” dan “how to” yang diterapkan pada program latihan.

LBP adalah program latihan privat intensif untuk pengembangan secara individual, namun kami juga membuka kerjasama seluas-luasnya untuk pengembangan performa atlet secara klasikal dengan sentuhan yang privat dan individual untuk sebuah tim sekolah/ daerah/ klub atau lembaga lainnya.

Kalau dilihat secara skematik, begini kira-kira alur kerja Program LBP.

Skema LBP

Pada dasarnya program LBP adalah pelayanan yang diberikan oleh LATIHANBASKET.COM atas dukungan teman-teman alumni Pelatih DBL Camp 2017 bagi semua pelatih, agar bisa memberikan latihan basket privat yang sepengetahuan kami sangat berarti nilainya bagi nafkah para pelatih (terutama para full timer coach yang kita tahu bagaimana beratnya perjuangan para pelatih yang baru mulai merangkak), dan peluang untuk mengembangkannya (bagi yang bermimpi besar dan sepertinya mimpi semua pelatih dah) untuk membangun sekolah basket-nya. Kami sangat mendorong agar tercipta sebanyak-banyaknya sekolah basket di Indonesia raya ini.

Tentang kata “sertifikasi” yang tertulis di skema, jangan diartikan muluk-muluk ya, yang dimaksud di sini hanya mencetak sertifikat tanda kelulusan latihan oleh si peserta (anak mana sih yang tidak girang jika setelah menyelesaikan latihannya lantas mendapat piagam?). Itu saja. Bukan makna sertifikasi untuk mencetak pelatih yang “certified” sesuai standar tertentu karena LATIHANBASKET.COM tidak punya kompetensi untuk itu.

Jika pada skema tertulis kurikulum, kami memberanikan diri menyebutnya demikian meski masih jauh dari sempurna, namun pada hemat kami, dimulai saja dulu dengan menjiplak standar dari FIBA, nanti dimatangkan oleh proses.  Mudahan juga akan terbantu oleh PP Perbasi yang saat ini sedang menyusun kurikulum latihan basket.

Penjelasan singkat mengenai bagaimana program LBP ini dijalankan, bisa melihat dengan meng-klik link ini:

01. Latihan Basket Privat Online Gratis (Pengantar)

02. Menu Program Latihan Basket Privat