Belajar dari Coach Ocky Tamtelahitu, “Bertahan Atau Menyerang?”

Berikut ini tulisan yang dicuplik dari https://ockytamtelahitu.wordpress.com/ dengan seijin pemiliknya yaitu coach Ocky Tamtelahitu, ya benar the “Coach Ocky Tamtelahitu” yang saat ini memegang tim IBL Pelita Jaya. Beliau adalah salah satu nama besar di kancah bola basket Indonesia, yang ternyata juga trampil dan punya semangat menulis. (Ah seandainya saja pelatih-pelatih senior kita yang lain seperti ini juga, pasti besar pengaruhnya).

Mulai dari tim NBL, IBL, timnas, dll sudah pernah sukses oleh sentuhan tangan dinginnya. Pengetahuan, pengalaman dan instinknya sudah teruji. Bahkan di antara teman-teman pelatih angkatan lebih muda yang saat ini memegang tim profesional dan tim PON daerah yang basketnya papan atas pun mengakui “level berbeda” pelatih berdarah Ambon ini. “Beliau seperti mentor yang tidak tahu bahwa saya menjadikannya sebagai mentor” kata salah satu teman pelatih. Pelatih lainnya menyebutkan, “Sejak awal mula melatih dulu, diam-diam saya suka mengikuti cara beliau melatih, detailnya dan pengetahuannya itu lho yang bukan main”. Pelatih senior dari daerah lain yang juga beberapa kali membawa timnas Indonesia segera menimpali “Siapa dulu bapaknya? ha ha ha…”  

Ya, coach Ocky adalah putra dari Oom Ekky Tamtelahitu, tokoh senior bola basket nasional kita yang sangat dihormati dan banyak menghasilkan tokoh basket berikutnya. Saya sendiri pernah mengikuti penataran beliau pada tahun 1986 dan tahun 1990. Ketika itu beliau mengajar teknik bermain basket dan kepelatihan bersama almarhum Oom Bob yang membawakan materi perwasitan. Ya, saat itu untuk menjadi pelatih kita juga harus mendapatkan materi perwasitan lengkap.

Ulasan tentang riwayat coach Ocky akan panjang, sekarang kita ikuti saja beberapa pemikirannya lewat beberapa tulisan yang nanti secara berseri akan disajikan di LATIHANBASKET.COM.  Terimakasih coach Ocky.

Ocky Tamtelahitu Our Head Coach Coach Of The Year NBL Indonesia Season 2014-2015
Ocky Tamtelahitu, Head Coach Coach Of The Year NBL Indonesia Season 2014-2015

 

“Bertahan Atau Menyerang?”

Oleh Coach Ochy Tamtelahitu

Sebuah sore 28 tahun lalu, saya berjalan menuju lapangan basket di depan rumah Omboh di IKPN.  Sambil dribble2 di jalanan berharap tidak akan turun hujan. Begitu sampai di lapangan, belum ada satu orang pun dari teman2 saya yang kelihatan. Yang ada hanya ring basket, lapangan kering tidak becek dan bola basket (Super-K) yang saya bawa dari rumah.

Mulailah aktifitas harian saat itu, dribbling segala macam gaya, passing-passing ke tembok masjid persis di samping lapangan basket (Akhirnya sekarang pak RT tahu siapa yang bikin kotor tembok masjid). Dan yang paling penting buat saya di Bolabasket sampai hari ini, latihan shooting-shooting sampai teman yang lainnya datang.

Naturnya

Memang saya pikir sudah dari sananya kalau orang main basket pasti maunya memegang bola, menggiringnya dan memasukannya ke dalam keranjang. Kalau tidak pegang bola pasti maunya minta bola terus. Berlari kencang dalam serangan cepat untuk meminta bola dan lagi-lagi ingin memasukannya supaya angka tercipta, sangat menyenangkan. Lari sprint untuk balik bertahan? Kapan-kapan deh, Coach..

Saya ingat tidak ada (kalau ada pun pasti tidak kelihatan) pemain basket yang saat berlatih sendirian, mau melakukan latihan (tambahan) untuk bertahan atau defense. Kenyataannya kecil sekali kemungkinannya. Apalagi pemain muda yang baru senang-senangnya bermain basket.

Lalu apa yang akan dia lakukan sendirian dalam hubungannya dengan permainan Bolabasket? Pegang bola, dribbling dan shooting. Passing pun menjadi pilihan alamiah yang akhir-akhir, apalagi melakukan yang berhubungan dengan bertahan dalam Bolabasket. Bontot..

Sudah menjadi naturnya dalam olahraga ini kalau bermain basket itu adalah melesakkan bola ke dalam simpai dan lewat jaring. Menyerang! Betul sekali, naturalnya Bolabasket sangat didominasi oleh keinginan untuk menyerang. Ini berlaku buat si pemain dan juga buat penonton (penggemar).

Pemain Terbaik Dunia

Tiga pemain terbaik yang tidak bisa diperdebatkan siapa yang nomer satu. Michael Jordan, Magic johnson dan Larry Bird. Apa mereka pemain bertahan terbaik juga? Iya! Mungkin? Hmm.. Iya mungkin kali ya?!?!

Hey, siapa yang peduli! Yang sejarah tahu adalah tiga pemain super ini bisa mencetak angka seenak jidad mereka. Shooting, dribbling dan passing tiga pemain  ini jauh di atas  manusia kebanyakan yang jago main basket.

Dari 50 pemain terbaik NBA, hanya tiga pemain yang rataan angkanya dibawah 15 pts/game. Dan mungkin hanya 3 orang juga yang lebih disegani dari kemampuan mereka bertahan (Bill Russel, Dave DeBusschere, dan Nate Thurmond).

Saya juga tidak bisa ingat siapa first pick NBA yang disegani dari kemampuan bertahannya. Semua pemain top pasti disegani dan dibayar mahal karena kemampuan mereka menyerang mencetak angka. Kemampuan mereka membawa kemenangan? Hehe, nanti dulu..

Dijitak Kenyataan

Michael Jordan masuk jajaran puncak peraihan angka di NBA begitu dia terjun di liga itu tahun musim 1984-1985. Jordan urutan 3 dengan 28.2 ppg, di bawah New York’s Bernard King 32.9 ppg  dan Boston’s Larry Bird 28.7 ppg. Timnya juara? Tidak, bos..! Malahan King (NY) tidak masuk final..

Michael dan Bulls-nya baru merasakan juara tahun musim 1990-1991. Setelah dapat dukungan dari pelatih (Jackson) dan pemain bertahan yang cerdik. Ini saya ingat sekali bagaimana Scotty Pippen menghentikan permainan Lakers di final game 5. Penjagaannya membuat point guard Los Angeles kusut ngisup-ngisup.

Gak mungkin saya lupa, nonton bareng rame-rame satu tim (Pelita Jaya) di mess jalan Erlangga Senopati. Tapi tentu tidak ada juga yang ingat apa yang dilakukan Pips saat itu, pasti Jordan dunks dan jumper (Offense) di ingatan orang-orang kebanyakan.

Kita tunggu apa yang akan terjadi dengan Lebron James, tanpa harus mengingat T.Mac yang menjadi top scorer paling puncak di musim 2002-2003 tapi timnya bonyok di awal play offs. kenyataannya pertahanan selalu menolong tim yang menangan. Bener gak sih nih? Hehe.. Yang ini saya tidak mau cek ulang lagi sejarahnya, saya harap saya salah.

Jejeg Rem Atau Betot Gas?

Mau secanggih apapun mesinnya (L. James – Desmosedici), tetap  memerlukan pengereman atau deselerasi yang baik. Pakai sistem pengereman yang canggih (D. Mutombo – Brembo) pasti perlu power buat akselerasi lagi. Wew, keterusan nih motornya.. (Eh, geber2 motor di IKPN juga dimarahin pak RT!) Tidak salah lah pokoknya yang taruhan pegang C. Stoner di Phillip Island kemarin. Betot gas terus  dia (dengan Desmosedici-nya) dari lap awal sampai akhir di seri GP Australia. Sementara V. Rossi beberapa kali mencoba teknik andalan dia (late breaking) untuk menyusul rider Ducati ini kerap gagal. Pengereman dan akselerasi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Langsung basket lagi yuks; Salah juga nih saya pikir kalau mau mengalahkan tim papan atas kobatama saat 2007 lalu. Bisa apa tidak ya? Bagaimana bisa dalam waktu satu musim meningkatkan offensive rating supaya dapat melampaui pencapaian PIMNAD dan Stadium?

Setelah hanya mencapai peringkat tiga di turnamen kobatama, seperti ada yang jitak ni kepala. Kaget dan sadar tiba-tiba, ngapain juga kita harus memaksa diri meningkatkan rating penyerangan (angka yang diciptakan tiap satu serangan = poin dibagi jumlah serangan) untuk mengalahkan pesaing kita?

Coba tingkatkan pertahanan (menekan turun rating serangan lawan), pikir saya. Dengan ini nantinya kita bisa bersaing apa tidak di kompetisi? Dari sini latihan di fokuskan sedikit lebih banyak di pertahanan. Pendeknya Hangtuah juara saat itu bukan karena pemainnya tambah jago dalam waktu tidak lebih dari satu tahun. Tapi karena lawan kita di final tidak mampu menampilkan rataan rating serangannya yang sesungguhnya. Pakem nih remnya..

HT tetap belum bisa (beda mesinnya) menyamai rataan serangan pesaingnya saat itu. Tapi tim yang dipimpin Cungkring dan Mayong sukses menekan rataan rating serangan lawannya. Sederhana sekali. Mana ya yang lebih baik tim bertahan apa tim menyerang di Bolabasket?

Steve, petinggi Bolabasket di Universitas Pelita Harapan, pernah bertanya pada saya saat wawancara calon pelatih di kampusnya.  Bagaimana kamu membagi persentase latihan pertahanan dan menyerang?

Jawab saya, di awal saya akan terapkan 60% latihan defense dan 40% offense. Seiring waktu berjalan dan pengamatan rating pertahanan tim, pada titik yang diharapkan dan ditentukan, latihan menjadi 50%-50% bertahan dan menyerang. Lalu lanjut lagi pada situasi spesifik di musim pertandingan. Mencermati fluktuasi penampilan pertahanan tim dan juga serangannya, sesuaikan dari situ.

Kenapa Bertahan menjadi utamanya latihan di awal? Karena sudah naturnya manusia main basket itu maunya nyerang. Jadi penambahan pasti juga akan terjadi saat pemain berlatih sendiri (Ingat sebuah sore di IKPN?). Hingga akan lebih baik kalau di awal kita tingkatkan dulu kemampuan dan kemauan bertahannya.

Lagi pula saat kita sedang “bau” di serangan (tidak mampu bikin angka pada rentang waktu tertentu di pertandingan), shooting tidak masuk, turn over terus, dsb. Masakan kita mau lawan kita dengan seenaknya mencobloskan bola ke keranjang kita? “Kalau memang offense yang memenangkan pertandingan, pasti diperlukan defense yang baik untuk memulainya..”

 

(Berikut ini sebuah tulisan lain dari coach Ocky yang saya muat jadi satu posting, Admin).

Defense: Tekan FG% Atau Batasi FGA Lawan?

Aspac vs Pelita Jaya..  (Fiba Livestats)

Pagi tadi bangun langsung terdengar #thatPOWER (Will.i.am feat. Justin Bieber) diputar di radio. Belum sadar benar alias nyawa belum pada ngumpul, duduk bengong sambil minum kopi. Begitu kafein masuk ke sistem tubuh saya, segera terpikir apa yang membuat sebuah tim POWERfull? Defense? Mana yang lebih POWERfull? Mematikan FG% lawan atau kita membatasi FGA lawan? Hehe.. Pagi-pagi sudah melamun.

Indiana bisa bersaing di level atas NBA karena penjagaannya yang sangat baik. Buls walau dengan jagoannya sehat waktu itu (D.Rose) tetap terlihat POWERfull karena pertahanan. Spurs dan ini dan itu dan banyak lagi. Pertahanan yang baik. Yup, saya selalu percaya kalau pertahanan harus ditekankan agar supaya kemenangan bisa lebih dekat ke tim kita.

Pelita Jaya vs. Aspac (Fiba Lifestats)

Pada pertandingan lanjutan NBL Indonesia (Solo), game terakhir semalam (ASP 72 – PJ 68) menunjukkannya. Baku tukar basket terjadi dari awal hingga akhir, serangan cepat dan tembakan jauh silih berganti hingga kita lupa siapa yang lebih banyak melakukan serangan, keberhasilan dan percobaannya.

Rating Pertahanan

Dari aspek ini kedua tim melakukan pertahanan yang tidak baik. Aspac defensive rating 0.88 atau memberi Pelita Jaya membuat 0.88 point pada tiap satu kali serangan.  Lebih buruk lagi Pelita Jaya rating 0.93 atau membiarkan Aspac menciptakan 0.93 angka pada tiap serangannya. Keduanya mendapatkan kesempatan (77x) menyerang yang sama dalam game ini.

Persentase Atau Usaha?

Rating pertahanan di atas sangat berhubungan dengan total angka yang diciptakan lawan. “Gamenya bagus kok, angkanya ketat seperti celana dalam, eh..!!! Apanya yang salah hingga ada yang harus kalah?” Ujar para Voices di kepala saya. Nah, pada game yang ketat seperti ini banyak hal kecil yang sering terlewat atau dianggab biasa saja bahkan baik-baik saja. Hingga akumulasi dan pemuncakan semua data baru kita cemberut.

Komentar.. (NBL Indonesia)

Ada beberapa departemen yang ingin saya perhatikan di sini dan hubungannya dengan baik buruk pertahanan. Pertama adalah tinggi rendahnya % keberhasilan tim menembak (FG%) dan jumlah usahanya (FGA). 3FG% dan 3FGA, tinggi rendahnya FT% dan FTA lalu turn over.

FG Aspac  29-77 (38% saja) dan Pelita Jaya 26-64 (41%). Angka di sebelah ini menunjukan kalau PJ menembak lebih baik 3%. Tapi pada game ketat seperti ini apalah artinya lebih baik persentasenya kalau lawan membukukan usaha yang berhasil (made attempt) 3 kali bola masuk lebih banyak pada FGA yang jauh lebih banyak lagi. Dari sini angka Aspac sudah pasti lebih banyak, terlepas lawannya menembak lebih baik.

3FG Aspac 7-24 (29% saja) dan Pelita Jaya 7-16 (44%). Lagi-lagi tim yang bermarkas dekat rumah saya ini menembak lebih baik. Kali ini dari luar garis tiga angka. Ironi adalah Aspac (Yang markasnya jauh dari rumah saya.. HRAAAGH GAK PENTING!!!) melesakkan jumlah bola yang sama dari luar garis tiga angka. Tentu perolehan angka kedua tim dari 3 angka totalnya sama. Ini dicapai Aspac dari 3FGA yang jauh lebih banyak. Dibiarkan menembak?

Komentar.. (NBL Indonesia)

FT Aspac 7-13 (54% saja) dan PJ 9-12 (75%). Betul, sekali lagi Pelita Jaya lebih baik menembaknya banding lawannya dari garis amal. Tetapi lagi, usaha tim yang markasnya.. HADEEEH! Aspac satu FTA lebih banyak. Disiplin menjaga bola, rotasi bantuan penjagaan saat ada tusukan ke dalam?

Dan si Monster yang di bawah tempat tidur saya pun angkat bertanya. “Dari mana segala usaha Aspac yang lebih banyak di atas itu datang? Bukankah kedua tim sama-sama menyerang 77 kali?”

TO Aspac yang hanya 9 banding Pelita Jaya yang 14 memberi keuntungan tersendiri dalam rangka yang sebenarnya membuat percobaan ASP lebih banyak. Dari TO PJ ini mereka mampu merubahnya menjadi 12 angka. Dibantu lagi dengan serangan cepatnya yang membukukan 16 angka. Belum lagi penambahan usaha dari Offensive Rebound Aspac yang 15 kali (PJ 7 saja). Disiplin pertahanan Aspac yang membuat PJ TO lebih banyak, atau? Pertahanan PJ yang lengah dalam melakukan box out tuk memetik def. rebound, atau?

Banyak hal lain yang pastinya juga menyumbang gegap gempitanya pertandingan semalam. Tetapi lagi pertahanan memang sangat harus diperhatikan. Membatalkan sebuah usaha menembak lawan juga sangat penting untuk dilakukan. Kasarnya kalau lawan tidak ada attempt-nya, tentunya tidak akan ada kemungkinan sebuah kulit bundar bisa masuk ke simpai.

Barang pasti persentase menembak yang rendah dari lawan juga menjadi parameter pertahanan yang baik. Namun sekali lagi banyak dari pelaku Bolabasket yang lupa bahwa sebuah usaha yang di gagalkan atau tidak jadi menembak merupakan hal yang tidak bisa dipandang sebelah mata dalam pertahanan. Redam usaha menembak lawan, dan persentase tembakan lawan akan mengurus dirinya sendiri. Batalkan!

Pada saat tertinggal 3 angka di ujung pertandingan, PJ meminta time out dan merancang sebuah inbound yang sangat sempurna dari bawah basket untuk si inbounder (Ari Chandra) menembak 3 angka di pojok kanan. Terbayang kalau usaha ini berhasil. Yah, namanya juga melamuun..

“Melamun markasnya dekat rum..” 

TAAANG!!!

(Kunci Inggris melayang..)

 

Author: coachmoses444

Coaching as an artist for the love & passion to basketball Working as with all the love and passion.

2 thoughts on “Belajar dari Coach Ocky Tamtelahitu, “Bertahan Atau Menyerang?””

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s