DBL Allstar 2017

Berangkat sebagai seorang pelatih basket ke Amerika adalah impian liar yang tidak pernah terbayangkan sebagai pelatih dari daerah luar Jawa. Normalnya perjalanan semacam itu hanya bisa ditempuh oleh pelatih di level timnas atau klub besar yang kaya. Bisa berangkat menuju event pertandingan di pulau Jawa saja sudah girang dan seakan itu saja batasan yang wajar.

Pada tahun 2017 kembali saya mewakili ikut ke DBL Camp di Surabaya. Sedikit berbeda dengan pengalaman tahun sebelumnya, tahun 2017 kami bertemu dengan nama besar seperti coach Aries Herman headcoach UNAIR yang sukses dari Surabaya, dan banyak lainnya termasuk coach Jacky Hatta atau coach BJ, juara di Jakarta dan pelatih nasional yang pada tahun 2014 sempat membimbing saya di sebuah penataran dan penyegaran pelatih lisensi B di Jakarta. Belum lagi para pelatih senior lain dari Sumatera, Sulawesi, Jawa, Bali, Papua, Nusa Tenggara, Maluku, dll pokoknya dari seluruh Indonesia.

dbl-camp-2017_20171126_145125
DBL Camp 2017. Foto dari Lampung Tribun News.

DBL camp 2017 juga terasa berbeda, lebih rileks karena sudah memiliki pengalaman pada tahun 2016. lihat tulisan sebelumnya tentang DBL Camp 2016. Pada malam hari selepas acara, kami punya waktu luang bertukar pengalaman dengan rekan pelatih se-Indonesia di lobi hotel. Cerita demi cerita pun mengalir, memperkaya pengalaman kami sebagai pelatih.

Di siang harinya kami disibukkan dengan acara padat, diajari oleh tim pelatih dari WBA Australia. Coach Shane Froling , seorang pelatih ternama dari Australia sendiri yang turun tangan membimbing kami. Bersama banyak pemateri lain seperti wasit nasional, psikolog olahraga, kami diajari juga oleh para pelatih dari DBL Academy seperti coach Dimas Muharri dan coach Erwin Triono. Empat hari nan padat materi dan praktek terasa kurang karena menariknya hal-hal baru yang kami peroleh.

Hingga akhirnya tiba hari pengumuman para pemain dan pelatih yang terpilih untuk masuk tim DBL Allstar 2017, hanya karena rejeki dari Tuhan YME, saya ikut terpilih bersama coach Muflih Farhan dari Jakarta, Coach Wahyu Budi  Santoso dari Surabaya dan Coach Daniel dari Bandung.

OR_farewell_dbl_camp_dika_kawengian-132
DBL Allstar 2017. Foto dari mainbasket.com

Setelah menjalani rangkaian kegiatan persiapan baik latihan bersama, scrimmage game melawan beberapa tim dan pertemuan di Konsulat Amerika di Surabaya, tanggal 4 Pebruari 2018 kami berangkat dari bandara Juanda Surabaya kami transit dulu di Singapura dan Taiwan, lantas menuju Los Angeles dan tiba di LA masih tanggal 4 Pebruari 2018 lagi.

Perjalanan dengan rombongan besar seperti ini tidaklah mudah. Untungnya tim didampingi para petinggi DBL seperti pak Doni, coach Erwin Triono, dan para senior belia dari DBL lainnya. Mereka sudah terbiasa membawa tim allstar ke luar negeri setiap tahun dalam 10 tahun ini. satu dekade, itulah salah satu tag yang tercantum logo DBL yang kami kenakan. Terasa istimewa.

Wajah anak-anak allstar sumringah tanpa lelah. Energi mereka seakan tak ada habisnya. Kebetulan transit di Singapura dan Taiwan cukup lama, namun itu pun seakan tak cukup untuk memenuhi keingintahuan mereka mengeksplorasi kedua bandara besar tempat transit kami.

20180204_184856
Lea & Namira tiduran sambil jaga barang di bandara  Taoyoan, Taipei.

Tiba di Los Angeles rombongan disambut oleh dua alumni DBL yang sedang studi di sana, Steven dan Jackson. Kami juga sempat bertemu dengan Wijaya Saputra pebasket pro dan selebiti yang juga berada di California. Tim menginap di Fairfield inn & suites Marriott, penginapan sekitar LAX.

20180206_082742
Tim Putri DBL Allstar 2017. (Foto Dika K./ Mac/ Emka)

Sehari kemudian tim berlatih di Sports Academy yang kemudian juga dikenal sebagai  Mamba Academy-nya Kobe Bryant. Di tempat itu kami dikenalkan dengan cara latihan yang intensif dan menyeluruh didukung para pelatih mulai dari skill, fisik sampai mental dengan fasilitas modern dan lengkap sampai untuk perawatan atlet. Rekaman video di Sports Academy bisa dilihat di channel youtube Coach Moses dengan klik pada link ini (Honda DBL Allstar Berlatih Di Sports Academy California). Pada saat jeda latihan, tim sempat dikunjungi dan diberi semangat oleh pejabat Konsulat Indonesia di California.

1517972162269 cc
Tim Putri DBL Allstar 2017 di Sports Academy, Thousand Oaks, California. (Foto Dika K./ Mac/ Emka)

Selama 2 hari berlatih di Sports Academy, kami melihat bahwa para pelatih yang membimbing sangatlah detail  memberi contoh hingga melakukan koreksi terhadap setiap pemain. Mulai dari postur tubuh, sikap, posisi kaki, cara memegang bola, pandangan mata diperhatikan dengan seksama. Setelah pada hari pertama mengikuti berbagai menu latihan, pada hari kedua setelah menjalani pelatihan tim menjalani scrimmage game melawan tim komunitas lokal.

Pertandingan berlangsung sangat menarik dan ketat. Tim lokal sangat kompetitif, diperkuat oleh beberapa pelatih, kejar mengejar angka terjadi hingga detik terakhir. Bersama coach Farhan, pelatih muda yang sarat pengalaman, kami menyusun tim putri menjadi 2 regu. Tim pertama adalah regu yang bermain tempo, teratur dengan beberapa set play rapi yang terdiri dari Laide, Ais, Vava , Ellen, Vivi, dan Talia. Sedangkan tim kedua adalah tim bola bekel gaspoll yang bermain cepat, penuh pressure dan bermain transisi. Pemainnya terdiri dari Namira, Dingding, Leandra, Audy, Dita, dan Sabrina. Ternyata kemudian tim pertama bahkan juga melakukan pressure dan permainan tak kalah cepat dibanding tim bola bekel, dimotori Laide, Ellen dan Ais. Permainan penuh benturan dan kedua tim bermain agresif. Penentuan kemenangan tim DBL Allstar ditentukan pada detik-detik terakhir lewat beberapa free throw oleh Ellen dkk yang bermain berani. Laide dan Ais berhasil melakukan spacing dan memberikan ruang untuk Ellen yang malam itu menjadi top scorer. Tim bola bekel bermain tak kalah efektif. Namira, Lea, Dingding, Dita, Talia dan Sabrina membuat tim pelatih ngeri-ngeri girang karena berkali-kali terpental kala terbentur tubuh pemain lawan yang besar kokoh.  Syukurlah tidak ada yang cedera dan berakhir baik. Malam itu anak-anak pulang happy dan kenyang.

Hari berikutnya acara tim adalah mengunjungi UCLA yang wah…. Tim diajak berkeliling mengunjungi seluruh fasilitas, termasuk museum dan lapangan basket UCLA. Rekaman acara kunjungan ini sempat saya rekam, dibantu juga oleh gadis Manado yang cantik Leandra. Videonya bisa dilihat di sini. (Honda DBL Allstar 2017 Kunjungan ke UCLA bagian 1) (Honda DBL Allstar 2017 Kunjungan ke UCLA bagian 2) dan (Honda DBL Allstar 2017 Kunjungan ke UCLA bagian 3).  Di UCLA kami juga didampingi oleh Jordan Lawley yang juga bertemu pelatihnya ketika ia masih aktif bermain.

20180207_102917 c
Di UCLA Bersama Jordan Lawley dan Coach Christ, pelatihnya.

Hari berikutnya tim bertandang ke Irvine, berlatih intensif di Jordan Lawley Basketball. Jordan sendiri seorang skill trainer untuk banyak pemanin kondang di NBA. Latihan yang diberikan Jordan terlihat sedikit berbeda dengan apa yang didapat di Sports Academy. Jordan memiliki ciri khas tersendiri dalam hal pengembangan individual skill. Latihannya detail dan menurut saya termasuk sangat “menuntut” agar pemain didikannya lebih cepat berkembang. Ia beberapa kali memberikan tantangan untuk anak-anak.  Latihan oleh Jordan terlihat lebih dinamis dan variatif. banyak hal baru yang kami peroleh dari pelatihan dengannya. Rekaman saya di Jordan Lawley dapat dilihat dengan mengklik di link ini. (Tim Honda DBL Allstar Berlatih di Jordan Lawley Basketball).

Salah satu bagian menarik di Jordan Lawley Vasketball, adalag SSL, yaitu Sport Science Lab-nya Gacin Mcmillan. Kebetulan saat itu, Audy terpeleset di lapangan. Salah satu pemain full speed & power ini setahun sebelumnya pengobatan ACL sehingga sempat membuat khawatir juga. Untunglah di sebelah lapangan ada ruang SSL dan ada Gavin sendiri di situ. SSL sangat terkenal di kalangan atlet pro. Gavin dan SSL-nya menangani banyak atlet american footbal, atlet MMA UFC, atlet nasional tim voli dan beberapa atlet olimpiade. SSL juga ada di beberapa negara Eropa dan Afrika, beberapa hasil kerja Gavin diliput oleh beberapa majalah dan jurnal sport science. Rekamannya bisa dilihat dengan mengklik link ini. (Audy kepleset, malah jadi ketemu Gavin Macmillan).

Kesempatan mempraktekkan tambahan ilmu dari Jordan Lawley Basketball diperoleh anak-anak ketika bertandang ke sebuah sekolah menengah, GAHR yang konon kabarnya memiliki tim basket yang prestasinya di California cukup baik. Sebelum mulai bertanding, coach Farhan bilang bahwa tim sebaiknya memulai pertandingan dengan main safe aja dulu, “Mungkin anak-anak masih belum segar karena perjalanan cukup jauh dan istirahat kita kurang” ujarnya. Saya setuju dan setelah anak-anak bermain, ternyata mereka punya semangat tinggi dan tetap bermain agresif. Lawan yang kali ini dihadapi berbeda dengan ketika bermain di Spots Academy yang rata-rata sedikit lebih senior. Kali ini anak-anak bertemu tim yang sepantaran usianya. Secara individual, beberapa anak GAHR menunjukkan kelebihan, namun cenderung bermain sendiri-sendiri. Meski demikian, berkali-kali permainan individu itu berhasil menembus pertahanan anak-anak Honda DBL Allstar. Setelah bermain setengah quarter, tim diarahkan untuk bermain lebih cepat seperti ketika bermain di Sports Academy. Alhasil permainan pun menjadi lebih menarik. Pada quarter ketiga, perlahan-lahan permainan individual ti SMA GAHR melambat karena mulai kelelahan, sebaliknya anak-anak semakin bersemangat. Pertandingan semakin kompetitif, berkali-kali pelatih dari GAHR meluapkan emosinya dan bahkan sampai masuk ke lapangan namun konsentrasi anak-anak tidak terganggu. Pertandingan kembali berakhir untuk kemenangan anak-anak Honda DBL Allstar.  Malam itu semua anak bermain trengginas. Meski terlihat emosional, Dingding yang bermain berapi-api dan beberapa kali berbenturan keras dengan pemain GAHR akhirnya tersenyum puas. Dalam game ini, kembali anak Jogja, Vava Maria Leony menjadi top scorer. Agak di luar dugaan karena Vava tidaklah secepat anak-anak bola bekel, tapi ketenangannya saat finishing terbukti memiliki nilai lebih.  (Salut buat anak-anak STECE Jogja asuhan pelatih senior yang pernah menjadi bintang timnas Indonesia, koh Gwan Chin). Meski demikian, kalau disuruh memilih MVP, saya akan memilih Adelaide Ledi yang menjadi inspirator tim dan sangat hustle. Bersama Ais, mereka berdua terlihat bermain lebih dewasa. Ketika bersalaman dengan saya, si pelatih GAHR yang masih dongkol sempat berkata, “Kalau kalian datang lagi tahun depan, kami juga akan menyiapkan tim Allstar untuk melawan kalian” ucapnya sambil bergurau. kami hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih sembari memberikan cinderamata dari DBL Allstar yang sudah disiapkan mas Doni. Selesai bertanding, anak-anak sempat mendapat kejutan dari DBL, yaitu makan rendang yang disiapkan oleh seorang teman lama di LA. Kabarnya si mbak itu salah satu pejabat seniornya Apple di sana.

1518255619898
Foto setelah bertanding di GAHR.  Berdiri dari kiri Coach Muflih Farhan, Vivi, Ais, Ellen, Sabrina, Laide, duduk dari kiri, Namira, Lea, Audy, Dingding, Vava, Ditha, Talia, & saya. (Foto Dika K./ Mac/ Emka)
1518257029238
Tim Putra & Putri DBL Allstar 2017 (Foto Dika K./ Mac/ Emka).

Setelah rangkaian acara padat, kami diajak mengunjungi Santa Margarita Catholic High School, sebuah sekolah yang prestisius dan melahirkan atlet ternama NBA, Klay Thompson. Kami diajak berkeliling langsung oleh kepala sekolahnya yang dulunya juga pebasket.

Selain itu tim diajak mengunjungi juga kawasan pantai terkenal Santa Monica, Holywood dan mengunjungi toko-toko besar, lihat anak-anak borong sepatu, dll. 

Acara terasik buat saya adalah nonton Lakers di Spaples Center!

20180206_180631
Foto bareng anak-anak Manado Connection, Andrew Lensun, Talia, Lea Pelealu dan William Lalisang.

Entah bagaimana caranya, mas Doni cs bisa dapat tiket VVIP, sehingga tim pelatih bisa nonton dari ruang privat di balkon. Jalan masuk dan keluarnya beda. Di dalamnya tersedia barbecue, snack dan minuman lengkap pula.

1518488601755
Coach Farhan & Coach Budi (atas), Coach Daniel & saya (bawah).

Tapi karena mata tua, tidak bisa melihat jelas pertandingannya dan lebih sibuk makan minum. Sementara anak-anak lebih menikmati karena lebih dekat dari arena.

Satu surprise diberikan oleh DBL menjelang pulang ke tanah air, kunjungan ke Universal Studio, lagi-lagi mas Doni cs bisa mendapatkan tiket VIP sehingga tidak harus antre panjang setiap mengunjungi berbagai wahana. Sementara anak-anak masih asik dengan baterai seakan tak ada habisnya, saya mulai kelelahan dan lebih banyak duduk. Kecuali mengunjungi wahana setting tempat bikin film Harry Potter, harus itu.

20180210_162226

Syukur puji Tuhan, perjalanan kembali ke Indonesia dengan sehat selamat, bertambah pengalaman dan teman-teman baru. Berterimakasih pada DBL Indonesia dan semua pihak yang membantu.

Author: Lukisan Moses

Love to paint, woodworking, song writing resin work and basketball coaching.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s