Apasih Istimewanya DBL? Pengalaman mengikuti DBL Camp Surabaya 2016

Awal kenal DBL, saya tidak mengerti dan tegas menolak ketika diajak melatih tim peserta DBL oleh coach Mika, rekan pelatih di klub lama kami Mandala.

“Biar kamu aja yang bawa anak-anak. saya tetap melatih mereka di klub saja” jawab saya ketika merespon ajakannya untuk terjun langsung ke DBL Kalimantan Selatan. Saya hanya datang sampai halaman GOR Hasanuddin Banjarmasin. Memang gegap gempita gedung terdengar riuh sampai halamannya. Saya tetap bergeming.

Awal ketertarikan adalah saat membludaknya anak-anak yang datang berlatih di Suria Arena, tempat kami melatih para pemain junior Mandala. “Saya ingin sukses main di DBL coach” jawab anak-anak yang saya tanya. Dari yang biasanya hanya 20-an anak, tiba-tiba menjadi 50 sampai 60 anak yang datang berlatih. Mau tak mau hari latihan dan perlengkapan latihan pun harus ditambah oleh pengurus klub Mandala Banjarmasin.

Pemicu minat yang kedua adalah ketika coach Mika dan anak-anak menghubungi saya untuk minta latihan ekstra untuk persiapan jelang DBL, termasuk latihan fisik yang nota bene adalah momok bagi anak-anak umumnya. Selama bertahun-tahun melatih, coach Mika dan saya selalu hati-hati ketika memberikan menu latihan fisik karena beberapa kali penerapannya yang kurang tepat malah kontan membuat jumlah anak-anak yang berlatih berkurang drastis.

Banjar segmen 3.mp4_000243040
Coach Mika

Motivasi berlatih gila-gilaan otomatis membuat saya tertarik mencari tahu dan menyaksikan beberapa game DBL. Di saat itulah terlihat langsung betapa antusiasnya orang tua, guru, pemain dan suporter terlibat dalam event DBL.

Para pemain dibuat seperti artis idola yang akan show di arena serupa panggung hiburan. Sponsor besar menyediakan aneka hadiah dan hiburan, dikemas apik oleh para organizer belia yang energik. Bukan hanya para pebasket, penari dan ribuan suporter pun diberi ruang untuk eksis. Semua ulah di arena terekam apik dan diberitakan oleh media besar, koran Radar Banjarmasin pun laris manis oleh pembaca belia yang terseret oleh serbuan pembaca belia. Tidak tanggung-tanggung, koran itu memuat beberapa halaman penuh foto besar para performer setiap hari sejak persiapan DBL dan selama berlangsungnya event. Beberapa hari sebelum event dimuali, mereka mengadakan roadshow di sekolah-sekolah, membuat para pemain menjadi anak-anak populer. Berharga sekali untuk konsep diri mereka.

Menjelang final pemberitaan dan gelombang promosi menghebat, membuat pertarungan final mengandung intensitas persaingan ketat dan emosional. Air mata bahagia dan tangisan kekecewaan langsung terlihat seusai sebuah pertandingan pada pemain dan pendukung.  Apa pun hasil pertandingan final hari itu, membuat motivasi mereka untuk tampil lebih baik di season mendatang membuncah di dada dan benak masing-masing.

Saya pulang menonton dengan perasaan maklum, meski masih ada kecewa dengan beberapa aturan pertandingan yang anggapan saya masih mengganggu aspek teknis pertandingan basket itu sendiri.

Hari berikutnya mulailah saya melatih dengan adaptasi penuh terhadap ketentuan pertandingan DBL yang awalnya saya anggap aneh-aneh itu. Latihan untuk defense man to man, rotasi dan minute play pemain harus merata, respect the game sesuai kedudukan skor, dan sebagainya mau tak mau saya terima dengan lapang dada. Seiring berjalannya waktu, saya mencoba memahami latar belakang panitia DBL menetapkan beberapa peraturan aneh-aneh itu.

Satu per satu pertanyaan-pertanyaan itu terjawab ketika masuk ke situs FIBA, khususnya di Coaches Education Platform. Reasoning untuk ketentuan-ketentuan tambahan oleh organizer DBL, ternyata sesuai dan tidak bertentangan dengan ketentuan teknis pertandingan bola basket (kecuali ketentuan yang berkaitan dengan penari dan batasan jumlah suporter yang terlibat, namun kemudian dihapuskan pula oleh DBL), terurai jelas di situs resmi asosiasi pelatih sedunia yang bernaung resmi di bawah FIBA. Barulah saya tersadar bahwa sebagai pelatih saya tertinggal jauh.

Dengan intensifnya anak-anak berlatih, sesuai dengan tensi pertandingan yang diantisipasi oleh tim pelatih yang akan berlangsung cepat dan agresif, resiko cedera pun meningkat. Setelah memberikan edukasi dan penyesuaian menu latihan, mau tak mau akhirnya saya menerima tawaran coach Mika untuk ikut turun di DBL. Meski sibuk luar biasa karena kala itu saya juga bertugas sebagai pelatih di tim PON tahun 2016 di Bandung, latihan anak-anak sangat intensif.

Akhirnya di tahun 2016 tim yang kami asuh, SMAN 2 Banjarmasin berhasil jadi juara (dengan respek penuh pada tim lain, termasuk tim SMAN 1 Banjarbaru yang sangat kompetitif dan berhasil mengalahkan kami di tahun 2017, dan bertemu lagi di 2 kali final berikutnya tahun 2018 dan 2019).

Banjar segmen 3.mp4_000348080

Liputan final DBL Kalimantan Selatan 2016 ini juga bisa dilihat di youtube channel DBLplay dengan klik pada link ini.

Ketika tanding final selesai, barulah saya sadar jika ditipu oleh coach Mika karena terpilih sebagai first team dan mengikuti DBL Camp di Surabaya.  Baru tahu jika status saya yang seharusnya hanya asisten, dijadikannya pelatih kepala.

Pengalaman luar biasa, itulah singkat kata untuk pengalaman di DBL Camp. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika event itu sedemikian besar dan sangat terorganisir. Tak mampu menahan rasa ingin tahu, saya pun menelusuri bagaimana anak-anak muda di pusatnya DBL di Surabaya itu bekerja. Enerjik dan tahu persis apa yang harus dilakukan, itu kesan yang langsung muncul di benak saya. Jelas mereka dipimpin oleh orang-orang yang juga cakap. Ternyata Azrul, putra pak Dahlan Iskan bos besar Jawa Pos group adalah tokoh di balik seluruh fenomena sukses DBL. Jika tadinya saya hanya mengira ia hanya berada di balik layar, ternyata Azrul juga turun langsung ke lapangan, saya menyaksikan sendiri bagaimana ia turun ke arena saat menghibur tim yang kalah pada final DBL Jawa Timur.di DBL Arena. Kiprahnya dibantu seorang wanita muda yang kabarnya mendapat berbagai international award untuk kecakapan manajerialnya.

24-besar-campers-honda-dbl-camp-2016
Terpilih 24 Besar Campers dan 12 Besar Coach Honda DBL Camp 2016. Foto dari dblindonesia.com

Sempat terbersit di pikiran saya, “Kok mau-maunya orang sekelas mereka menghabiskan waktunya yang tentunya berharga dan bernilai mahal, “hanya” untuk DBL?” namun setelah mengikuti dan terlibat langsung, saya bersyukur. Seluruh anak basket dan pecinta basket se-Indonesia patut berterimakasih.

Kegiatan DBL Camp berakhir menyenangkan, saya kembali ke Ungaran dan kemudian ke Banjarmasin dengan pengayaan ilmu dan sahabat baru yang luar biasa. Terimakasih.

 

 

Author: Lukisan Moses

Love to paint, woodworking, song writing resin work and basketball coaching.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s